Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VII: Multikulturalisme Aset Tak Ternilai NKRI
Oka Kusumayudha (ft. tembi)

Diskusi Kebangsaan VII: Multikulturalisme Aset Tak Ternilai NKRI

Masih sangat segar dalam ingatan kita bangsa Indonesia ketika acara peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka Jakarta pada tanggal 17 Agustus 2017 yang baru lalu. Rakyat seluruh Indonesia dapat menyaksikan lewat siaran langsung beberapa stasiun televisi baik TVRI maupun swasta nasional suasana peringatan tersebut. Ada pemandangan yang baru kali ini dipertontonkan di Istana Merdeka waktu itu. Yaitu kehadiran Kepala Negara Presiden Ir H Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tampil mengenakan pakaian adat daerah. Pak Jokowi mengenakan pakaian adat Bugis, sedangkan Pak Jusuf Kalla mengenakan pakaian adat Jawa. Tidak saja orang nomor satu dan dua bangsa Indonesia yang mengenakan pakaian adat, tapi ada seruan para Menteri atau Pejabat Negara juga mengenakan pakaian adat sesuai asal usul pejabat tersebut. Maka suasana di Istana Merdeka waktu itu benar-benar kelihatan semarak  dibungkus semangat persatuan dan kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang besar. Yaitu bangsa yang ber Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu sebagai bangsa Indonesia.

Pengusul ide untuk mengenakan pakaian adat saat peringatan detik-detik proklamasi ke -72 Republik Indonesia patut diacungi jempol. Ide yang sangat brilian. Karena dengan menampilkan beragam pakaian adat Nusantara itu,secara kasat mata kita menyaksikan kebesaran bangsa Indonesia. Mungkin sebelumnya kita belum tahu bagaimana kekhasan pakaian adat Batak atau pakaian adat Papua atau Bugis dan sebagainya. Tapi dalam acara di Istana Merdeka tempo hari itu kita baru disadarkan akan betapa bangsa Indonesia sangat kaya dengan budaya lokal. Local genius. Inilah asset yang tak ternilai yang dimiliki Bangsa Indonesia.

 

Rawat Bersama

Tentu kita tidak boleh berhenti pada momen-momen penuh simbolik itu. Tantangan saat ini dan ke depan sangatlah berat. Masih saja ada usaha dari pihak-pihak tertentu yang tidak sejalan dengan apa yang sudah disepakati para pendiri bangsa ini. Melalui pergulatan pemikiran dan perdebatan yang tajam dari para tokoh pendiri bangsa ini telah bersepakat bahwasanya Negara yang dibangun ini merupakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan menyepakati pula bahwa landasan serta ideologi Negara Bangsa ini adalah Pancasila,UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Demokrasi Pancasila dan Islam

Meski sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa ini,toh masih ada saja pihak-pihak tertentu yang ingin mengubah kesepakatan tersebut. Inilah tantangan yang harus dihadapi di dalam negeri. Dari luar negeri tidak kurang “serangan” yang bertujuan melemahkan ketahanan nasional bangsa ini. Salah satu contoh adalah masuknya barang-barang terlarang seperti narkoba. Penyelundupan satu ton sabu dari Negara tetangga yang berhasil digagalkan aparat Kepolisian bisa dijadikan warning. Betapa potensi pasar yang menggiurkan . Di sisi lain betapa kerusakan mental yang bisa diakibatkan dan sekaligus merusak masa depan generasi muda. Belum lagi indikasi masuknya paham-paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Semua ini memerlukan kewaspadaan kita semua sebagai anak bangsa dalam turut membentengi keselamatan Negara dan bangsa yang didirikan dengan mengorbankan jiwa dan raga para pejuang kemerdekaan.

 

Diskusi Kebangsaan

Aspek-aspek lain dari adanya masyarakat multikulturalisme  dibahas lebih mendalam dalam diskusi kebangsaan yang diselenggarakan atas kerja sama antara Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY) dengan Universitas Atma Jaya (UAJ) pada Selasa (22/8) ybl di kampus UAJ. Tampil sebagai pembicara Sosiolog UAJY Bambang Kusumo Prihandono, Anggota DPR RI Idham Samawi, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Zuly Qodir serta Rektor UAJ Yogyakarta Gregorius Sri Nurhantanto.

Disinggung juga dalam diskusi mengapa muncul sikap intoleransi. Ajakan supaya  pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan yang menjamin hak-hak sosial budaya masyarakat. Juga harapan yang ditujukan kepada pemerintah agar tetap tegas dan menindak kelompo-kelompok yang anti-Pancasila. Tidak kalah pentingnya adalah dukungan masyarakat untuk konsisten melawan kelompok-kelompok yang antikonstitusi dan antikebhinekaan.

Dalam memperingati Proklamasi ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia  menjadi momen penting dalam memaknai kemerdekaan bangsa untuk menuju masyarakat sejahtera yang adil dan makmur di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Merdeka! Indonesia Jaya! (Oka Kusumayudha)

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Semangat Kebangsaan Kedepan Penuh Tantangan

 

Lihat Juga

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.