Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Mistikisme di Balik Suruh Sadak dan Kinang
Paket Kinang terdiri dari daun sirih, tembakau, injet (kapur sirih), gambir dan bunga kanthil (ft. kratonpedia)

Mistikisme di Balik Suruh Sadak dan Kinang

Membaca Lambang di Balik Jokowi Mantu

Berbagai upacara pada waktu bertemunya Pengantin perempuan dan lelaki seperti disebutkan sebagai ritual panggih mempunyai arti sebagai berikut :   Ketika memasuki pintu pertemuan biasanya dilakukan upacara ritual balang balangan gantal.

Uncal-uncalan gantal (lempar-lemparan Gantal) Yang disebut gantal adalah selembar daun sirih yang diikat dengan benang atau lainnya. Sirih mempunyai peran penting di jaman lampau, orang mengundang tetangga dan kaum kerabatnya dengan mengirimkan sirih yang dilengkapi dengan kapur, gambir tembakau. sirih itu sebagai alat penghubung mengundang orang ke rumahnya Seorang jejaka yang menaruh hati pada seorang gadis dan ingin bertanya apakah gadis itu bersedia untuk diperistri, maka jejaka itu mengirimkan daun sirih yang sudah dijadikan gantal kepada si gadis. Persetujuan gadis disampaikan dengan mengirimkan gantal pula kepada sang jejaka.

Dengan lambang itu berarti lamaran diterima baik. Maka sebenarnya uncal-uncalan gantal dapat diartikan sebagai berkirim-kiriman surat.Dalam hal uncal-uncalan gantal pada waktu pengantin bertemu, yang melempar gantal lebih dahulu adalah pengantin lelaki, sebab yang melamar adalah pengantin pria.  Umumnya dilemparkan berjumlah ganjil supaya hidup.

 

Mistikisme   

Daun sirih-Suruh-Jawa, termasuk tanaman yang dianggap sakral oleh manusia Jawa.. Nyaris hampir semua ritual Jawa, sering menggunakan daun sirih. Oleh Karen aitulah sirih sering disebut sebagai ubarampe- sesaji.. Daun sirih, sering dimaknasi mirip dengan ucapan katanya : sirih, sareh, dan  sedhah. Sirih berarti mengurangi dan kemudian berkembang menjadi pantang, megurangi makan, merokok, tidur dan lain sebagainya. .

Meper hawa nepsu.- melatih mengendalikan hawa napsu. Sareh, maknya pelan – sareh dimen pekoleh sabar agar mendapatkan apa yang dicita-citakan. Sedhah, adalah kata tingginya suruh. Oleh karena itu  kemudian ada aporisma yang berbunyi:

Sedhah siti (apu) boga kang binuntel roning klapa (kupat). Nyuwun ngapura mbokbilih kathah lepat kula. Mohon maaf kalau kami banyak kesalahan.

Dahulu kala, sirih memang sebagai ubarampe atau sesaji yang bisa digunakan untuk juga sebagai penjaga kesehatan bagi tubuh manusia, terutama gigi. Untuk nginang, ngganten, dan mucang supaya giginya tidak mudah tanggal. Selain itu, dengan nginang membuat bibir bisa merah membuat hati yang melihat terpesona.. Dan lagi, ketika itu belum banyak dikenal apa yang dinamakan lipstick. Dokter gigi pun belum banyak. Namun ada yang sering kebablasan, nginangnya kemudian disusul dengan mengoleskan tembakau di seputar bibirnya..

Selain itu ada juga yang menggunakan air daun sirih untuk mengobati mata yang kemasukan debu, juga untuk mengobati hidung mimisan dan mengobati perut yang kembung.

Nginang dengan menggunakan sirih sering ditambahi dengan gamping, gambir, tembakau, jambe, dengan maksud untuk menghilangkan virus dari mulut. Ada juga maksud lain yakni mengunyah kinang sebagai pengisi waktu. Malahan ada semacam jiwa sosial yang tumbuh dari kebiayaan nginang. Terutama kalau ada tamu, disediakan kinang, dengan maksud agar pembicaraan bisa tuntas.. Oleh karena itu di era kethoprak kalau ada personil sepuh dan hendak melamarkan wanita untuk anaknya kemudian berkata “Yen sliramu wus ngesir salah sijine wanita, wong tuwa ora kabotan ndhodhog lawange, nginang gambir suruhe, lan nglungguhi ambene.” Kalau kamu sudah melirik seorang wanita, orangtua tak keberatan untuk mengetok pintu, nginang gambir suruh dan duduk di tempat duduknya. Artinya orangtua sanggup melamar.

Daun sirih sering digunakan sebagai ubarampe dalam tradisi Jawa seperti manten, sadranan, supitan, dan sejenisnya. Oleh karena itu biasanya dipilih suruh ayu (sedhah ayu). Ayu, dari kata hayu atau rahayu , selamat.  Maksudnya, suruh yang tidak cacat, warnanya hijau pupus. Seringkali pelatakan suruh-ayu sering ditempatkan dekat pisang ayu, yaitu pisang raja mulus yang besar setangkep (rong lirang). Suruh jadi lambang dari rasa keinginan untuk keingintahuan -weruh tempatnya keselamatan. Sedangkan pisang dimaksudkan dari kata, tepining sangkan. Pisang tadi juga sering disebut sebagai sanggan (sangga buwana). Maksudnya, suruh ayu dan pisang ayu, menunjukkan kalau manusia itu hatinuraninya senantiasa ingin tahu asal usul manusia kepada yang menyangga buwana.

Suruh, bermakna yang melakukan tradisi ingin segera mengetahui akan isi dunia yaitu dengan memayu hayuning bawana. Lamun suruh mau bisa nglelimbang memayu hayuning bawana, ateges uripe bakal ayem tentrem.. Kalau manusia mampu menimbang keindhahan dunia, maka hidupnya bakal ayom ayem tenteram.

Suruh didalam pemahaman ini diharapkan hanya keselamatan.. Yang dipilih yaitu suruh yang temu rose– ruasnya bertemu. Yaitu, suruh yang garis daunnya –balung-balunge godhong ketemu. Temu rose, berarti bertemu rasa hati dan rasa lahirnya.. Rasa hati itu rasa yang halus, rasa rohaniah, sedangkan rasa luar atau lahir itu rasa kasar – rasa jasmaniah (wadhag). Rasa keduanya sama-sama artinya bagi kehidupan manusia.. Kalau suruh tadi digunakan sebagai ubarampe manten, temu rose mengandung lambang mistik sebagai simbol bertemunya rasa, cipta, dan karsa antara temanten laki-laki dan wanita. Oleh karena itu temanten berdua kemudian diibaratkan sebagai ‘pindha suruh lumah lan kurebe, yen dinulu beda rupane yen ginigit padha rasane’.  Di sini dimaksudkan bertemunya wanita dan pria, sangat sulit..

Oleh karena itu, ketika temanten bertemu dalam acara panggih, sering ada tradisi balang-balangan suruh.. Dan  Sirih tadi disebut sebagai sadak.. Antara  suruh dan sadak sering dicampurartikan..  Keduanya sering digebyah uyah sama saja.. Meski pemahaman itu juga tidak sepenuhnya salah. . Sebab, sirih itu lebih cocok dengan daunnya, sedangkan sadah itu lebih mengarah kepada dahan suruh.. Dahan dan daun menjadi satu. Sirih yang dibawa temanten laki-laki disebut gondhang tutur, dan suruh temanten putri disebut  gondhang kasih.

Ada lagi yang menyebut sirih keduanya dengan sebutan  jati mulya dan mulya jati. Keduanya bakal menjadi satu, merasuk  kedalam jiwa raga-lair –batin..” lamun wus manjing dadi kinang. Kinang bakal nuwuhake idu abang putih nyawiji, kempel dadi wiji dadi. Kinang bakal mewujudkan  air ludah yang merah dan putih menjadi satu.

Temanten berdua biasanya kemudian melemparkan sadak saling berebut dahulu. Sekenanya. Siapa yang  melempar terlebih dahulu dan kena di bagian badan yang penting, berarti sudah tahu benar dimana tempatnya rasa sejati. Karena ini merupakan sebuah simbol seksualitas yang sangat tinggi.. Oleh karena itu oleh para pelawak suruh ini biasanya kemudian diartikan sebagai kesusu arep weruh.. Ingin segera mengetahui. Weruh marang suruh (sesuruh, ateges pepadhang). Padhange ati lamun wus nyawij i.Melihat sirih, artinya melihat sinar, pencerahan. Pencerahan kalau bersatu.

Suruh, sadak, dan kinang memang menjadi simbol mistikisme kejawen asli. Sirih itu menggambarkan karsa (karep, greget), sadak (rasa asmara), dan kinang (ciptaning ati). Ketiganya bakal membungai hidup manusia .Bisa dilihat dalam kisah simbolis Jaka Tingkir –Dadungawuk. Meninggalnya Dadungawuk, karena dilempar sadak oleh Jaka Tingkir. Di dalam hal ini tentuk gambaran dari sebuah rasa keingintahuan manusia.

Dalam kisah Jaka Tingkir gambar ini dimaksudkan keinginan rasa (suruh) karena Jaka Tingkir ingin nginang jaman bertemu dengan Dadungawuk.(dhadhung+awak). Dhadhung yang terletak di badan, yaitu sampur. Meman benar karena ketika itu Jaka Tingkir begitu terpesona oleh putra raja bernama Rara Sampur.

Rara Sampur sudah dilempar sadak, ini sebagai simbol mistis kalau bertemudnya rasa (sadak), terdorong  oleh rasa (greget), arep nginang (nyawiji). Jaka Tingkir berhasil melepaskan diri dari ikatan badan, karena dikejar oleh nafsu yang berkobar-kobar. Hanya untungnya, Jaka Tingkir masih waspada, ini terbukti masih mampu mengalahkan kerbau Danu dengan menggunakan tanah yang sakti.. Kerbau  lambang orang yang bodoh dan dhanu artinya asmara. Jaka Tingkir bisa menyingkirkan kebodohan asmaragama yakni nafsu birahi. Yang akhirnya bisa diangkat lagi menjadi perwira di kerajaan Demak. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *