Selasa , 21 November 2017
Beranda » Sastra » “MIRROR #1” Pameran di Tembi Rumah Budaya
Karya Alex Luthfi The Wall of Freedom

“MIRROR #1” Pameran di Tembi Rumah Budaya

Perupa dari Yogya, yang tergabung dalam kelompok ‘Mirror’ akan memamerkan karyanya di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Pembukaan pameran akan dilakukan Rabu, 18 Oktober 2017, dan pameran akan berlangsung sampai 7 November 2017. Para Perupa itu ialah Alex Luthfi, Anuegar Eko Triwahyono, Astuti Kusumo dan tiga ‘tamu’ Mirror dari Malaysia. Tajuk dari pameran ini ‘Mirror # 1”.

Perihal MIRROR Art Community,  lahir dari kebutuhan dan rasa yang sama di dalam menghayati hidup sebagai pencipta karya seni (seniman).Kebutuhan untuk bertemu dan berkomunikasi membicarakan perihal seni dengan berbagai aspek  yang mempengaruhinya, membuat kami berempat, AZF Tri Hadiyanto, Anugerah Eko Triwahyono, Astuti Kusumo dan Alex Luthfi R, sepakat mendirikan MIRROR Art Community untuk wadah beraktifitas seni.

Rasa seni (konsep seni) kami berempat memang berbeda (dalam gaya maupun corak seni), tetapi semangat berkesenian kami tidak berbeda. Sehingga keempat jiwa ini bersatu membangun keluarga seni yang harmonis dan dinamis. Pameran dan diskusi seni merupakan aktifitas yang sangat penting untuk diprogramkan dengan harapan dapat menghidupkanj iwa MIRROR  tetap “mowo” untuk ikut meramaikan jagad kesenian di nusantara dan negeri seberang.

Pada bulan Juli 2017 MIRROR Art Community sudah sepakat berkerjasama dengan Rumah BudayaTembi Jogyakarta mengelarpameran yang pertama. Namun rupanya takdir tidak dapat kami elak, salah satu keluarga  MIRROR dipanggil oleh Tuhan pada bulan Juni 2017. AZF Tri Hadiyanto meninggalkan kami untukse lama-lamanya, menghadap kepada sang Khaliq. Sehingga pamerans epakat kami tunda karena menjalani masa berkabung, dan akan digelar kembali pada bulan Oktober 2017.

Perhelatan Art Exhibition MIRROR # 1, kami gelar dengan semangat membangun kebersamaan dan persahabatan. Kualitas personal dari anggota MIRROR dengan potensi karya seni yang dimiliki, tetap menjadi kekuatan bagi perhelatan ini. Kemudian yang istimewa dari pameran perdana ini selain dipersembahkan kepada sahabat  AZF Tri Hadiyanto (alm), adalah bergabungnya 2 sahabat artist Malaysia, yang bersedia memenuhi undangan kami. Mereka berdua selain sebagai artist fine art, juga pensyarah (dosen) di Fakulti Seni Halus dan Sen iReka UiTM  Shah Alam Malaysia.

Para perupa yang pameran ini menjalani proses kreatif  yang berbeda serta masing-masing memiliki simbol serta kekhasan yang dapat dibaca dari karya seninya.

AZF Tri Hadiyanto (alm) lukisannya dikerjakan dengan sangat  detail dan menghadirkan banyak motif dan simbol-simbol personal yang diciptakan sebagai wujud religiusitasnya kepada sang Pencipta. Angerah Eko Triwahyono banyak mengolah eskpresi dari karakter wajah manusia dalam berbagai varian warna dan goresan kuas yang ekspresif. Astuti Kusumo, objek kuda dipilih menjadi bahasa ungkapnya. Goresan kuas yang liar dan kuat dengan warna-warna cerah, menghasil kan lukisan yang dinamis ekspresif.Alex Luthfi R, pada periode ini membuat lukisan series  tragedi Rohingya. Objek manusia,  flora dan fauna adalah metafor dari indahnya harmonisasi kehidupan yang diimpikan manusia. Kini Rohingya terengkut kehidupannya oleh kekejaman dan ketamakan manusia itu sendiri.

Perupa Malaysia Mohd. Suahimi Tohid pengkarya grafis banyak mengolah motif ragam hias Islam (arabesque). Jiwa religiusnya banyak memberi pengaruh kepada statement seninya.

Mohd. Fazli Othman,  sebagai pengkarya, tidak boleh memisahkan imaginasi-imaginasi dalam karya seni dari unsur-unsur persekitaran yang senatiasa berubah dan mencabar. Realiti kehidupan banyak memberikan imaginasi kepad amanusia (diri sendiri) untuk terus berfikir dan melihat setiap perubahan kejadian alam sekeliling.  Setiap isu atauke jadian yang berlaku di persekitaran akan memberii lham dalam berkarya (*)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *