Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Metruk Kanthong Bolong

Metruk Kanthong Bolong

PAREPAT panakawan, sesungguhnya filsafat bermakna luas dan dalam. Simak saja Ilmu Kanthong Bolong, ilmu panakawan Petruk anak Semar. Memang tidak dipungkiri paling tidak Oleh RMP Sosrokartono, kakak RA Kartini. Ilmu itu pas kapan saja dan dimana saja dilaksanakan. Pengetrapannya kalau membantu sesama tidak perlu memikirkan waktu, perut, uang. Malah kalau saku berisi sebaiknya mengalir ke pada sesama. Dengan demikian, maksud “Ilmu Kanthong Bolong” adalah pengetahuan konkrit tentang kedermawanan. Dan itu dimiliki para relawan yang ingin membantu orang-orang yang menderita seperti yang terjadi di Gaza.

Nulung tiyang kula tindakaken ing pundi-pundi, sak mangsa-mangsa, sak wanci-wanci.” Demikian pengakuan Sosrokartono. Maksudnya, menolong orang itu dilaksanakan di mana-mana, sewaktu-waktu, kapan saja. Lalu apa kaitan kata-kata mutiara yang tertera di nisan RMP Sosrokartono yang berada di dusun Sidamukti Kudus yang berbunyi  : Sugih tanpa bandha. Digdaya tanpa adji. Ngalurug tanpa bala. Menang tanpa ngasoraken.Yang mempunyai arti, “Kaya tanpa harta. Sakti tanpa azimat. Berperang  tanpa balatentara. Menang tanpa merendahkan.”Ajaran ini bukan dimaksud mengajak masyarakat Indonesia melarat, sehingga mudah dipermainkan mereka yang  kaya-beruang dan berkuasa. Kaya bukanlah karena banyak harta dan uang, melainkan orang kaya hati dan kaya jiwa.

“Puji kula mboten sanes namung sugih-sugeng-seneng-ipun sesami.” Harapan saya hidup membuat sesama hidup senang .  Orang kaya artinya orang tak lagi membutuhkan sesuatu, karena semuanya  terpenuhi? Meskipun tak berharta, tapi merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan, maka kitalah orang kaya itu. Sebaliknya, meskipun berharta banyak, tetapi masih menginginkan dan membutuhkan sesuatu, maka kita bukanlah orang kaya, karena masih fakir masih membutuhkan , lantaran kebutuhan kita belum tercukupi.

Simak juga:  Astutijati

Sedang Digdaya tanpa aji, tidak lain aji tekad bulat. Ilmunya pasrah, bermantra keadilan Allah YME.

Perbuatan taat aturan Allah, meninggalkan maksiat itulah sumber energi yang membuat orang sakti mandraguna, disamping kemampuan mengekang gejolak syahwat dan nafsu jahat. Rumusan “Digdaya tanpa Aji” ada tiga tataran: Pertama tekad adalah sifat yang merujuk semangat keberanian diri menghadapi masalah, seperti rekayasa hidup, fitnah dan bujukan dunia. Tekad ada karena ada niat, sementara segala sesuatu itu tergantung pada niatnya. Jika niatnya   baik, maka baiklah jadinya.

Dengan tekad, manusia dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Tekad bukan berarti spekulasi miring, tapi lebih mengarah pada sikap tak takut pada apapun dan siapapun, sehingga hasil yang dicapaipun maksimal. Tekad jadi senjata psikis menghadapi setiap masalah. Oleh karena itu tekad jadi ajian, azimat pamungkas dalam segala urusan. Untuk mendapatkan “aji tekad” tak perlu tirakat, tak pula kanuragan, tetapi “aji tekad”   diperoleh dengan menanamkan keberanian, kepasrahan, keadilan dan niat baik dalam diri sendiri.

Tataran kedua Ilmu pasrah  disebut jiga  ilmu tawakal. Pasrah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Ilmu tawakal bisa diperoleh dengan menanamkan diri bahwa tak ada kuasa dan daya selain kuasa dan daya Allah Yang Maha Agung. Hidup mati urusan Tuhan, sukses gagal adalah kehendakNya. Intinya, menyerahkan permasalahan hidup kepada Tuhan. Di balik tawakkal ada keselamatan, karena ketika manusia menyerahkan hidup-matinya, segala urusan kepada Yang Maha Esa, maka Dialah yang melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya dan bencana.

Tataran ketiga adalah Keadilan yang disandarkan kepada Tuhan. Keadilan ini sulit didapat dan dipraktekkan, karena keadilan adalah puncak dari kebaikan. Ketika manusia tak dapat berbuat adil, maka Allahlah yang akan memberikan keadilan. Keadilan Tuhan dianggap menakutkan, karena Yang Maha Adil takkan memandang siapa yang diadili, sehingga keadilan benar-benar ditegakkan. Ketika keadilan-Nya telah berbicara, maka kebenaranlah yang ada. Ketika keadilan Tuhan telah menjadi ucapan seseorang dalam denyut kehidupannya, maka kebenaran dan kebaikanlah yang diperolehnya.

Simak juga:  Dalam Bingkai Filosofi Jawa Pancasila Menjadi Pedoman Perilaku

Tiga tataran ilmu tadi dilandasi dengan “Tanpa aji, tanpa ilmu, kula boten gadhah ajrih, sebab payung kula Gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula.” Artinya, “Tanpa ajian, tanpa kanuragan, saya tidak takut, sebab pelindungku adalah Tuhan dan perisai saya juga hanya Tuhan.”  Maka bukan hal aneh kalau tindakan yang dilakukan adalah “nglurug tanpa bala”  yang merupakan kebenaran hidup yang harus dihayati dan diamalkan.  Tak perlu bantuan, tak perlu berteriak meminta bantuan, karena mampu mandiri. Berbekal tekad dan keberanian suci, maka tak ada aral dan godaan yang tak dapat dihancurkan, karena semua mahluk akan binasa kecuali Dzat-Nya.

Sungguh sebuah tekad suci karena yang diandalkan disini bukan lagi tekad berpamrih atau harapan, tetapi tekad yang asih.  Demikian Layang Kumitir menyebut. Semangat yang dimunculkan adalah semangat kasih. Maka yang terjadi kemudian adalah  “Nglurug tanpa bala, tanpa gaman; mbedhah, tanpa perang tanpa pedhang.” Maksudnnya, memburu musuh tanpa tentara, tanpa senjata; menundukkan musuh tanpa perang tanpa pedang.Tak perlu teman, tak perlu senjata. Menghindari peperangan, konflik atau kekerasan. Yakinlah cinta kasih senantiasa dibawah perlindungan Allah.

Meskipun manusia tak mencari musuh, permasalahan datang dengan sendirinya meniupkan gangguan. Permasalahan senantiasa ada di dalam diri manusia. Tekanan batin, penderitaan mental, nafsu kotor di dalam diri, itulah permasalahan dan musuh berat dan membahayakan, karena tak tampak tapi kita rasakan.  Nafsu-nafsu jahat yang manusia bermacam-macam. Nafsu-nafsu itulah yang membuat manusia sombong, kikir, dengki, jahat dan segala bentuk sifat buruk sering bercokol dalam manusia, sehingga kehinaan dan kenestapaanlah yang diperoleh, bukan kemuliaan dan keselamatan.   Maka, sangat elegan jika  kemudian tercetus “Nglurug tanpa Bala” yang bermuatan ajaran spiritual menghalau segala bentuk keburukan didalam manusia, supaya tidak menjadi hina. Karena barang siapa yang dikalahkan  hawa nafsunya, kehinaanlah yang bersanding mesra dengannya.

Simak juga:  Jawa Mengutamakan Kearifan Ketimbang Kewaskithaan

Ki Juru Bangunjiwa, Penggiat budaya Jawa, tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul

Lihat Juga

KEPEMIMPINAN DALAM DEMOKRASI PANCASILA ‘Membentuk Pribadi Yang Utuh’

Dalam sebuah catatan kuna bisa dikaji kembali bahwa nilai Pancasila itu sesungguhnya tidak jauh dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.