Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (5)

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (5)

PIDATO kenegaraan terakhir Bung Karno itu cukup panjang. Hal itu bisa dimaklumi, karena Bung Karno tidak saja menyampaikan capaian atau apa yang telah dilakukannya sebagai Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi sampai tahun 1966, tapi juga menguraikan beragam persoalan perpolitikan nasional yang sedang terjadi pasca peristiwa September 1965.

Bung Karno juga terlihat jelas, kalau peringatan HUT ke-21 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1966 itu, dijadikannya sebagai moment yang tepat baginya untuk memperjelas atau mempertegas eksistensinya sebagai Presiden. Bung Karno ingin menetralisir anggapan banyak pihak bahwa kekuasaannya sebagai Presiden, Pemimpin Besar Revolusi dan Mandataris MPRS sudah dibatasi. Bung Karno ingin membuktikan bahwa posisinya sebagai Presiden atau Kepala Negara masih kuat secara Undang-undang. Bung Karno membantah kalau posisi kepemimpinannya sedang lemah, atau dilemahkan.

Karena itu wajarlah kalau dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1966 itu Bung Karno masih tetap terlihat penuh semangat, berapi-api, tegas, dan berani. Bung Karno masih tetap menunjukkan bahwa ia benar-benar seorang pemimpin yang ‘menguasai panggung’. Bukan saja panggung kehormatan tempat ia berpidato, tapi juga panggung perpolitikan nasional. Ia ingin menunjukkan bahwa upaya menggoyang, atau mendongkel kekusaannya sebagai Presiden bukanlah hal yang mudah.

`

Pelajari Sejarah

Menyimak atau mencermati ulang pidato kenegaraan terakhir Bung Karno tersebut memang memerlukan kesiapan waktu, dan kesiapan sikap untuk memahami kondisi perpolitikan nasional kita di era pertarungan politik Blok Barat dan Blok Timur itu. Dari apa yang dikatakannya di dalam pidato itu, Bung Karno jelas menunjukkan kepada segenap rakyat Indonesia, bahwa semua kebijakan politik yang dilakukannya adalah demi membawa nama besar Indonesia ke dalam percaturan politik dunia. Ia ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia bukanlah negara yang bisa diremehkan atau dipandang dengan sebelah mata saja.

Simak juga:  Nasionalisme dalam Impian Sukarno

Baiklah, kita lewati saja dulu, pernyataan-pernyataan Bung Karno yang penuh semangat itu. Kita langsung saja menuju ke bagian-bagian akhir dari pidato kenegaraan yang bersejarah tersebut. Di bagian-bagian akhir pidatonya, ada hal-hal berharga, bernilai dan penuh arti, yang telah diberikan Bung Karno kepada bangsa dan negara ini. Marilah kita simak secara seksama.

Nah, Saudara-saudara! Demikianlah beberapa ungkapan instropeksi dan mawas diri daripada tahun-tahun yang telah lampau. Panjang ya, 21 tahun ini? Penuh dengan pengalaman-pengalaman plus dan minus. Kewajiban kita ialah, mengoreksi minus-minusnya, menyempurnakan plus-plusnya, sebagai bekal untuk perjalanan kita seterusnya, yang masih jauh dan niscaya masih berat itu.

“Men leert historie om wijs te worden van tevoren”, ini dari seorang pujangga. “Pelajarilah sejarah, untuk tidak tergelincir di hari depan”, demikianlah Thomas Carlyle, begitu namanya ahli falsafah ini, pernah berkata.

Kepadamu saya berkata, “Pelajarilah sejarah perjuanganmu sendiri yang sudah lampau, agar supaya tidak tergelincir dalam perjuanganmu yang akan datang.”

Itulah inti sari dripada peringatanku tadi: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, never leave history! Jangan sekali-kali meninggalkanmu sendiri, never, never leave your your own history!”

Telaah kembali, petani kembali. Kenapa kita di masa lampau jaya? Kenpa kita di masa lampau menderita tamparan-tamparan, menderita “setbacks”?

Jaya karena kita kompak bersatu antara seluruh bangsa dan antara semua golongan revolusioner!Jaya, karena kita “samenbundelen alle revolutionnaire krachten in de natie”.

Jaya, karena semua kompak mengemban Panca Azimat Revolusi.

Jaya, karena semua kompak mengemban Pancasila.

Jaya, karena semua kompak mengemban Nasakom, atau Nasasos, atau Nasa apa pun juga,

Jaya, karena semua kompak mengemban Manipol-Usdek.

Jaya, karena semua kompak mengemban Trisakti!

 Jaya, karena semua kompak mengemban Berdikari total!

Dan menderita tamparan, menderita setbacks, pada waktu kita terpecah-belah dan tidak samenbundelen semua revolutionnaire krachten in onzenatie!

Inilah sejarah perjuanganmu, inilah sejarah historymu. Pegang teguh kepada sejarahmu itu, never leave your history! Peganglah apa yang telah kita miliki sekarang yang adalah akumulasi daripada hasil semua perjuangan kita di masa lampau kataku tadi. Dan kataku tadi, jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan perjuanganmu nanti akan paling-paling bersifat amuk saja, seperti kera di gelap gulita!

Ada orang-orang yang tidak mau mengambil pengajaran dari sejarah, bahkan mau melepaskan kita dari sejarah itu. Itu tidak bisa! Mereka akan gagal! Sebab melepaskan suatu rakyat atau bangsa dari sejarahnya, adalah tidak mungkin. Nationaal biologisch tidak mungkin, nationaal physiologisch tidak mungkin. Dan tidak mungkin pula karena engkau, hak rakyat, hai prajurit dari semua angkatan bersenjata, hai pejuang-pejuang progresif revolusioner, engkau tidak mau dipisahkan dari sejarahmu, sejarahmu sendiri, sejarah perjuanganmu sendiri!

Cermatilah, betapa kata-kata Bung Karno tersebut merupakan pesan berharga dan berarti jika bangsa dan negara ini ingin terus melanjutkan perjalanannya dalam wadah wadah NKRI. Bung Karno meminta kita untuk belajar dari sejarah, sejarah perjalanan dan perjuangan bangsa, agar tidak tergelincir dalam perjalanan ke depan menjaga keutuhan NKRI.

Simak juga:  Soekarno dan Pergerakan Wanita Indonesia

Bung Karno tampak jelas membakar dan menggelorakan semangat perjuangan demi mencapai apa yang disebutnya sebagai “matahari kemenangan”. Seperti yang dikatakannya berikut ini:

Tanpa tedeng aling-aling inilah ajaran daripada Pemimpin Besar Revolusi, ajaran Bung Karno, ajaran Bung Karno-mu, hai rakyat jelata, hai prajurit-prajurit arek-arekku yang memanggul bedil, hai semua lasykar revolusi Indonesia yang benar-benar bertekad mati-matian untuk berjuang membawa revolusi Indonesia kepada “matahari kemenangan” yang abadi menyinari Indonesia dan seluruh jagad kemanusiaan!

Nah, inilah pesan penting Bung Karno dalam pidato kenegaraan terakhirnya itu, yakni agar kita tak pernah berhenti — berjuang membawa revolusi Indonesia kepada “matahari kemenangan”. Ya, kita harus mencapai “matahari kemenangan” yang abadi! *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Pancasila “Membudayakan Musyawarah Mufakat” Inspirasi Majapahit

Djoko Dwiyanto, Ketua Dewan Kebudayaan DIY Bentuk dan unsur-unsur negara kesatuan Republik Indonesia diyakini berurat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.