Beranda » Peristiwa » Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (4)

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (4)

SEBAGAI Presiden dan pemimpin bangsa, Bung Karno memang tak ingin negara dan bangsa yang telah diproklamasikannya bersama Bung Hatta, dan yang telah diperjuangkan oleh para para pejuang bangsa dan para pahlawan itu akan tercerai-berai, terpecah-belah atau tidak bersatu lagi dalam satu negara kesatuan. Karena itu dalam setiap kali pidatonya di berbagai kesempatan, Bung Karno selalu mengingatkan akan bahaya perpecahan bangsa, serta arti pentingnya persatuan.

Cobalah simak uraiannya berikut ini yang menyerukan kepada segenap rakyat Indonesia agar senantiasa sekuat mungkin untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Peringatan Bung Karno tentang ancaman perpecahan serta hancurnya persatuan dan kesatuan bangsa ternyata masih relevan hingga hari ini. Upaya-upaya untuk merusak persatuan dan kesatuan, merusak dan mengingkari Pancasila, masih terlihat sampai kini.

Ancaman terhadap eksistensi Pancasila, dan ancaman terhadap NKRI beberapa tahun belakangan ini terasa semakin berani ditampilkan di permukaan. Bahkan setelah berakhirnya kekuasaan Orde Baru, negeri ini seakan tak kunjung henti direcoki dengan aksi-aksi terorisme. Aksi teror bom atau peledakan bom sudah terjadi berulang kali.

Selain berusaha menjaga keutuhan bangsa dan negara dengan melakuan langkah-langkah positif, Bung Karno juga mengingatkan agar segenap rakyat Indonesia senantiasa berdoa dan memohon kepada Tuhan, karena Tuhan yang menentukan segalanya.

Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru: Rupanya orang mengira, bahwa suatu perpecahan di muka pemilihan umum atau di dalam pemilihan umum selalu dapat diatasi nanti sesudah pemilihan umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen! Tapi orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggrantes, terus membaji dalam jiwa suatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa sama sama sekali.

Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang, berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali, bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak “doodbloeden” kehilangan darah yang keluar dari luka-luka tubuhnya sendiri.

Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: Terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan! Kita sekalian adalah makhluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.

Ya, benar, kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepda suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhirnya, Tuhan pula yang menentukan! Justru karena itulah, maka bagi kita sekalian adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pimpinan kepada Tuhan. Tidak satu manusia berhak berkata, “Aku, aku sajalah yang benar, orang lain pasti salah!”

Orang demikian itu akhirnya lupa, bahwa hanya Tuhan jualah yang memegang kebenaran!!

Turunnya Kesadaran Nasional

Di dalam pidato kenegaraannya yang terakhir itu, Bung Karno juga telah menyinggung atau mengingatkan tentang ancaman yang tak kalah bahayanya bagi bangsa dan negara ini, yakni ancaman menurunnya kesadaran nasional. Bangsa ini, menurutnya, mengalami kelemahan jiwa. Kelemahan jiwa itu membuat terjadinya sikap kurang percaya diri atau kurang percaya kepada diri sendiri. Sikap kurang percaya diri itu membuat bangsa ini mengalami sejumlah kelemahan dan ketakberdayaan dalam menjaga kehormatan bangsa, dengan menjadi bangsa penjiplak.

Apa yang dikhawatirkan Bung Karno itu terlihat jelas dengan pernyataannya berikut ini. Cobalah simak dengan seksama.

Demikianlah kataku di waktu itu.

Berbareng dengan crucial period-nya krisis-krisis kabinet dan krisis demokrasi itu, kita juga mengalami kerewelan-kerewelan dalam kalangan tentara, mengalami bukan industrialisasi yang tepat, tetapi industrialisasi tambal sulam zonder over all-planning yang jitu, mengalami, aduh, Indonesia yang subur loh jinawi! Bukan kecukupan bahan makanan, tetapi impor beras terus menerus, mengalami bukan membubung tingginya kebudayaan nasional yang patut dibangga-banggakan, tetapi gila-gilaannya rock and roll, geger ributnya swing dan jazz, kemajnunannya twist dan mamborock, banjirnya literatur komik.

Contoh-contoh ini adalah cermin daripada menurunnya kesadaran nasional kita dan menurunnya kekuatan jiwa nasional kita. Apakah kelemaham jiwa kita itu? Jawabku pada waktu itu adalahy: “Kelemahan jiwa kita ialah, bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang percaya-mempercayai satu sama lain, padahal kita ini pad asalnya adalah rakyat gotong royong!”

Demikianlah seruanku pada waktu itu, dan demikianlah pesan seluruh jiwa semangatku menghadapi crucial period waktu itu.

           

Bung Karno menyinggung pula tentang persoalan ekonomi yang terjadi ketika itu. Sepertinya Bung Karno sudah ‘menatap’jauh ke depan bahwa bangsa dan negara ini tidak pernah terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan persoalan ekonomi. Disinggungnya tentang pertentangan pandangan dan konsepsi, pertentangan antara daerah dan pusat dalam hal pembangunan, termasuk yang berkaitan dengan ekonomi, persaingan di bidang ekonomi antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Dan, kalau kita mau jujur melihatnya, apa yang dikemukakan Bung Karno ketika itu, masih terasa hingga hari ini. Bangsa dan negara ini tak pernah selesai menghadapi persoalan ekonomi. Tak pernah berhenti menghadapi ancaman dan tantangan di bidang perekonomian. Mari kita simak pernyataan Bung Karno yang berkaitan dengan hal itu.

Situasi di bidang ekonomi pun pada waktu itu tidak jauh berbeda. Warisan ekonomi yang saya terima pada tahun-tahun itu, barulah berupa tindakan pengambilaliham obyek-obyek  ekonomi dari tangan penjajah Belanda saja. Situasi ekonomi yang demikian itu sudah jelas belum memungkinkan  adanya pembangunan. Malahan  cita-cita pembangunan kita itu saja pada waktu itu suidah dihadapkan kepada crucial period-nya pertentangan pandangan dan berlawanannya konsepsi.

Berkobarlah pertentangan daerah melawan pusat dalam soal pembangunan, berkobarlah rivaliteit daerah yang satu melawan daerah yang lain. Sebagai usaha untuk mengatasi hantaman-hantaman di bidang ekonomi pembangunan itu, diselenggarakanlah di Jakarta sini tempo hari Munas dan Munap. Tetapi kendatipun demikian, segala usaha ternyata tidak mampu menahan arus meluncurnya disintegrasi dan dislokasi perekonomian kita, yang malahan semakin menjadi-jadi!

Pengeluaran uang menjadi terus menerus meningkat, antara lain dan  teristimewa karena diperlukan untuk operasi politik, operasi militer, dan operasi administrasi. Biaya yang meningkat-ningkat ini mengakibatkan inflasi yang sungguh sukar dapat dibendung.

Harga-harga dan tarip-tarip terus menaik, pendapatan  dari para buruh dan pegawai sebaliknya terus merosot dalam nilainya, karena uang kita semakin kehilangan kekuatan nilai tukarnya. Tibalah sebagai puncak dalam crucial period-nya ekonomi-keuangan itu tindakan “pengguntingann uang”!. Yang ternyata malah menambah hebatnya inflasi dan menambah beratnya penderitaan dan pengorbanan rakat.*** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM PADA kesempatan ini karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *