Beranda » Peristiwa » Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (3)

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (3)

MESKIPUN terlihat jelas jika Bung Karno berusaha untuk membangun semangat rakyat, menenteramkan hati rakyat, dan menghilangkan kegelisahan rakyat, namun ia tetap meminta agar rakyat senantiasa waspada atau mawas diri. Mawas diri itu perlu, agar rakyat tidak terombang-ambing dengan situasi serta kondisi politik yang saat itu memang sedang rawan.

Bung Karno mengajak segenap rakyat, untuk senantiasa meneguhkan sikap dan semangat pantang menyerah dan pantang putus asa. Menurutnya, jiwa rakyat harus terus bergelora dalam menegakkan revolusi. Kata revolusi memang selalu digunakan Bung Karno dalam menggelorakan semangat rakyat. Revolusi yang dimaksudnya adalah melakukan langkah tegas, cepat dan segera dalam membangun suatu tatanan kehidupan bernegara dan berbangsa. Terutama dalam mencapai cita-cita dan tujuan perjuangan bangsa. Dan, ia selalu mengingatkan rakyat agar tetap waspada, tidak terlena, karena revolusi masih belum selesai.

Mari kita simak rangkaian pernyataannya yang menggelora di bawah ini.

 

Di bawah sinar suryanya dwitunggal Proklamasi dan deklarasi itu kita berjalan, di bawah sinar suryanya dwitunggal Proklamasi dan deklarasi itu kita berjuang membangun “National Dignity” (harga diri nasional), dan “Perumahan Bangsa” kita, yaitu “Republik Indonesia” yang kita cintai ini.

Di bawah sinar suryanya itulah kita menuju kepada penyelesaian revolusi besar kita! Berkat Dwitunggal Proklamasi dan deklarasi itulah kita, seluruh rakyat Indonesia, tidak pernah sedetik pun putus asa, tidak pernah sedetik pun patah semangat. Sebab, bermacam-macam godaan, beraneka ragam tamparan perjuangan dalam menegakkan revolusi itu, adalah memang sudah in-haerent kepada suatu revolusi, embel-embel daripada suatu revolusi.

Cobalah Saudara-saudara, kita sejenak mawas diri dan menengok ke belakang sejak kita merayakan hari ulang tahun Republik Indonesia tahun yang lalu! Dengan terjadianya “GESTOK” pada tahun yang lalu itu, betapa hebatnya palu godam cobaan dan godaan perjuangan yang telah menghantam kesatuan badan, kesatuan jiwa revolusi kita.

 

Sekadar catatan, dalam pidato kenegaraan terakhirnya itu Bung Karno menyebut peristiwa pengkhianatan di tahun 1965 tersebut dengan “GESTOK” atau Gerakan Satu Oktober. Sementara pihak lain menyebutnya dengan G.30.S atau Gerakan 30 September. Sebutan G.30.S yang kemudian diembel-embeli lagi dengan tambahan PKI di belakangnya, sehingga menjadi G.30.S/PKI. Nama Partai Komunis Indonesia (PKI) dikaitkan karena ketika itu dianggap terlibat di dalam peristiwa pengkhianatan terhadap negara itu.

Perbedaan sebutan GESTOK dengan G.30.S/PKI itu pun sempat menjadi perdebatan atau polemik politik. Suara-suara sumbang dalam hiruk-pikuk politik kala itu pun bermunculan. Bahkan tak sedikit suara-suara sumbang itu yang mendiskreditkan Bung Karno karena menyebut peristiwa 1965 dengan sebutan GESTOK, bukan G.30.S. Ada pula suara sumbang yang menuduh Bung Karno memang sengaja memberi angin atau peluang kepada aksi G.30.S tersebut.

Padahal kalau mau jujur, dan memahami sebutan GESTOK itu dengan hati bersih, tanpa tedensi kepentingan politik, sesungguhnya tak ada yang salah dari sebutan GESTOK itu. Karena aksi berdarah pada peristiwa pengkhianatan itu memang terjadi pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965. Dan, Bung Karno tetap konsisten  dengan sebutan GESTOK itu, seperti yang disampaikannya pada pidato kenegaraan 17 Agustus 1966.

 

Masa yang Berbahaya         

Mari kita teruskan menyimak, bagaimana Bung Karno tak henti-hentinya mengingatkan masa-masa yang berbahaya dalam perjalanan bangsa ini. Masa-masa penuh tantangan, masa-masa krisis, masa-masa penuh pertentangan, masa-masa ketidakstabilan politik, saling sikut demi kepentingan politik dan sebagainya.

Bung Karno ingin rakyat tahu tentang hal itu. Rakyat paham, bahwa negara dengan pemerintahan yang dipimpinnya berupaya sekeras mungkin untuk mengatasi persoalan tersebut. Dan, ia tetap meminta rakyat harus senantiasa mawas diri agar tidak terombang-ambing dengan persoalan yang sedang terjadi.

 

Gelombang dahsyat telah membanting kepada keutuhan badan dan jiwa rakyat kita, sampai hampir terpecah-pecah berantakan sama sekali! Revolusi kita dihadapkan kepada suatu crucial period yang hampir-hampir mengkoyak-koyakkan jiwa dan semangat persatuan perjuangan kita sama sekali!

Tetapi syukur alhamdulillah, segala puji kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, rakyat kita kini pelan-pelan telah kembali menemukan terang dalam batin, penemuan kembali kekuatan dalam iman, untuk kembali kepada keutuhan badan dan kemantapan jiwa kesatuan dan persatuan bangsa, hingga dapat mengelakkan akibat-akibat destruktif yang mungkin akan lebih parah lagi, daripada lintasan crucial period yang lalu itu!

Bukan satu kali itu saja revolusi kita mengalami suatu period yang crucial, yaitu suatu masa yang berbahaya! Selama duapuluh satu tahun yang kita jalani ini, sudah berulang-ulang revolusi kita dihadapkan kepada crucial periode-crucial period yang menggempur dada kita ibarat gempurannya gelombang tofan pada batu karang di tengah lautan.

Coba lepaskan pandangan kita lebih jauh lagi ke belakang! Marilah kita mawas diri sejak sat kita terlepas dari penjajah Belanda di tahun 1950! Yaitu apa yang dinamakan pengakuan kedaulatan, recognition of sovereighty. Betapa hebatnya crucial period-crucial period yang harus kita lalui selama masa 1950-1959 itu! Free fight liberalsm sedang merajalela, jegal-jegalan ala demokrasi parlementer adalah hidangan sehari-hari, main krisis kabinet terjadi seperti dagangan kue. dagangan kacang goreng! Antara 1950-1959 kita mengalami 17 kali krisis kabinet, yang berarti rata-rata sekali tiap-tiap delapan bulan.

 

Arena Adu Kekuatan

Sejak era Orde Baru berakhir di tahun 1998, hingga kini dunia perpolitikan dan dinamika pemerintahan di negeri ini selalu diwarnai oleh pertarungan politik. Dari tahun ke tahun, selalu saja ada arena pertarungan politik. Partai-partai politik saling jegal, saling sikut. Adu pertentangan kepentingan politik itu terlihat nyata, antara partai-partai politik yang berada di dalam lingkaran kekuasaan dengan partai-partai politik yang di luar lingkaran kekuasaan.

Di dalam pidato kenegaraan terakhirnya itu, Bung Karno juga bicara banyak tentang pertentangan politik atau arena pertarungan politik itu. Cobalak simak, pernyataan-pernyataan Bung Karno ini, yang ternyata hingga kini masih terus mewarnai kondisi perpolitikan dan pemerintahan di negeri kita.

 

Pertentangan yang tidak habis-habisnya antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dn, dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan.

Nafsu individualisme dan nafsu egoisme bersimaharaja lela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi “a nation divided against itself”! Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu z.g. “demokrasi” yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa! *** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *