Kamis , 21 September 2017
Beranda » Peristiwa » Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (2)

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (2)

KETIKA pidato kenegaraan berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” itu disampaikan pada peringatan HUT ke-21 Kemerdekaan RI, kondisi politik di dalam negeri memang sedang tidak kondusif. Posisi Bung Karno sebagai presiden juga sedang dalam ancaman. Seperti dikatakan sendiri oleh Bung Karno, bahwa pemerintahannya mendapat hantaman dan gempuran bertubi-tubi.

Mungkin Bung Karno sudah merasakan hal itu. Sudah merasakan dan mengetahui bahaya yang sedang mengancam posisinya sebagai Kepala Negara, sebagai Presiden. Tapi di dalam pidato kenegaraan terakhirnya itu, ia tetap berusaha menenangkan hati segenap rakyat, dengan mengatakan bahwa bahaya dan ancaman itu hanya isu yang disebarkan oleh mereka yang disebutnya sebagai ‘musuh-musuh kita’.

Cobalah simak, pernyataannya yang berkaitan dengan hal itu, terlihat jelas bagaimana ia berusaha menenteramkan hati rakyat agar tidak risau dan gelisah dengan kondisi perpolitikan yang terjadi, pasca peristiwa G.30.S.

 

Apalagi kataku tadi, dalam tahun 1966 ini! Tahun 1966 ini, kata mereka, ha, eindelijk, eindelijk, at long last, Presiden Sukarno telah dijambret oleh rakyatnya sendiri. Presiden Sukarno telah dikup. Presiden Sukarno telah dipreteli segala kekuasaannya. Presiden Sukarno telah ditelikung oleh satu “triumvirat” yang terdiri dari Jenderal Soeharto, Sultan Hamengku Buwono, dan Adam Malik.

Dan itu “Perintah 11 Maret”, kata mereka: Bukankah itu penyerahan pemerintahan kepada Jenderal Soeharto?? Dan tidakkah pada waktu sidang MPRS yang baru lalu, mereka, reaksi musuh-musuh kita, mengharap-harapkan, bahkan menghasut-hasut, bahkan menujumkan, bahwa sidang MPRS itu sedikitnya akan menjinakkan Sukarno. Atau akan mencukur Sukarno sampai gundul sama sekali, atau akan mendongkel Presiden Sukarno dari kedudukannya semula?

Kata mereka, dalam bahasa mereka, “The MPRS session will be the final settlement with Sukarno”. Artinya, Sidang MPRS ini akan menjadi perhitungan terakhir, laatste afrekening, dengan Sukarno.

 

Menenteramkan Rakyat

Dalam pidatonya itu Bung Karno berulang kali menyebut – kata mereka dan mereka -. Itu merupakan caranya untuk menyatakan bahwa suara-suara sumbang yang muncul tentang kondisi pemerintahannya hanyalah sekadar isu belaka yang dilontarkan oleh ‘musuh-musuh kita’. Tidak dikatakannya secara jelas, apakah ‘musuh-musuh kita’ itu berada di dalam luar negeri atau justru di dalam negeri.

Tampaknya Bung Karno sengaja tidak menyebutkan hal itu, demi untuk menjaga dan menciptakan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Bung Karno sepertinya tidak ingin melihat rakyat Indonesia, saling curiga satu sama lain. Bila situasi saling curiga itu muncul di tengah-tengah masyarakat, maka kondisi ketidakstabilan pun akan terjadi. Rakyat bisa resah. Bila keresahan itu tidak dapat dikendalikan, akibatnya bisa lebih berbahaya lagi. Kelompok-kelompok di dalam masyarakat akan saling bersiteru dan bermusuhan. Dan, pertumpahan darah sesama anak bangsa pun bisa terjadi. Hal seperti itu tak diinginkan oleh Bung Karno, karena itu sekalipun pidatonya penuh semangat dan berapi-api, ia tetap berusaha menenteramkan hati rakyat yang gelisah melihat kondisi negara.

Simak pula bagaimana ia mencoba menjelaskan kepada rakyat perihal Surat Perintah 11 Maret, yang kala itu memang sempat menjadi bahan perbincangan, dan pertanyaan di hati rakyat.

 

Surat Perintah 11 Maret itu mula-mula, dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertempik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya SP 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya SP 11 Maret itu satu “transfer of authority”. Padahal tidak! SP 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan: Pengamanan jalannya any pemerintahan, demikian kataku pada waktu melantik Kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal. Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan saya mengucapkan terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu. Perintah pengamanan, bukan penyerahan pemerintahan! Bukan transfer of authority!

Mereka, musuh, sekarang kecele sama sekali! Dan sekarang pun, pada hari Proklamasi sekarang ini, mereka kecele lagi! Lho, Sukarno masih Presiden! Lho, Sukarno masih Pemimpin Besar Revolusi! Lho, Sukarno masih Mandataris MPRS! Lho, Sukarno masih Perdana Menteri! Lho, Sukarno masih berdiri lagi di mimbar ini!!

           

Semangat Revolusioner       

Dalam hal membakar semangat rakyat, Bung Karno memang jagonya. Demikian pula dalam hal menumbuhkan atau membangun rasa kecintaan, rasa memiliki, rasa keihklasan berjuang, keihklasan berkorban dan berjuang untuk bangsa dan negara atau tanah air, Bung Karno pun seakan tanpa tandingan. Jiwa dan semangat revolusioner untuk terus berjuang, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara, menjadi terus menyala di dada rakyat Indonesia.

Simak bagaimana Bung Karno menggelorakan jiwa dan semangat rakyat Indonesia itu. Jiwa dan semangat yang revolusioner. Jiwa dan semangat yang terus bergelora. Jiwa dan semangat pantang menyerah. Pantang mundur. Jiwa semangat rela berkorban jiwa dan raga demi bangsa dan negara. Demi tanah air tercinta. Demi tetap berkibarnya Sang Merah Putih dari Sabang sampai Merauke. Jiwa dan semangat yang tak pernah padam dalam berjuang, membela bangsa dan negara, mempertahan keutuhan NKRI.

 

Ya, Saudara-saudara, Republik Indonesia, ia betul-betul laksana perahu yang mengarungi samudra tofan yang amat dahsyat!

Tetapi saya selalu mengatakan bahwa sejarah adalah selalu seperti samudera yang dahsyat! Apalagi sejarahnya satu bangsa yang besar, sejarahnya satu bangsa yang bukan bangsa tempe, bukan bangsa peuyeum! Kadang-kadang ia dibanting ke bawah laksana hendak tenggelam sama sekali. Kadang-kadang diangkat ke atas puncak-puncaknya gelombang. Sehingga rasanya seperti hampir terpeganglah bintang-bintang di langit!

O, bahtera kita yang berani! Duapuluh satu tahun dibanting-diangkat, dibanting- diangkat, dibanting-diangkat, tetapi tidak pernah satu detik pun tenggelam, tidak satu detik pun berputus-asa!

Saudara-saudara kaum revolusioner sejati, kita berjalan terus. Ya, kita berjalan terus, berjalan terus. Kita tidak akan berhenti. Kita berjalan terus, berjuang terus, menuju terus pada sasaran tujuan seperti diamanatkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945 beserta anak kandungnya yang bernama deklarasi kemerdekaan yang tertulis sebagai mukadimah Undang-Undang Dasar 1945.

Di dalam Resopim telah saya tandaskan dan gamblangkan cetusan tekad nasional kita itu, cetusan segala kekuatan nasional secara total, cetusan isi jiwa nasional sedalam-dalamnya. Pendek kata dalam Resopim itu saya telah memberikan “Darstellung” daripada deepest innerself kita. Dwitunggal Praklamasi dan deklarasi adalah sasaran tujuan perjuangan kita yang jelas, tandas, terang, gamblang! Ia adalah pegangan hidup revolusi kita, pandangan hidup, tujuan hidup, falsafah hidup, rahasia hidup. Ya, pengayom hidup daripada revolusi kita!!  (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (5)

PIDATO kenegaraan terakhir Bung Karno itu cukup panjang. Hal itu bisa dimaklumi, karena Bung Karno …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *