Beranda » Peristiwa » Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (1)

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (1)

SETIAP memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, ingatan kita tentu tidak bisa lepas kepada tokoh bangsa yang bernama Sukarno atau populer dengan panggilan Bung Karno. Betapa tidak. Karena Sukarno-lah yang bersama Muhammad Hatta telah memproklamasikan Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945. Keduanya tidak hanya sebagai Sang Proklamator Kemerdekaan, tapi juga telah dipercaya menjadi Presiden dan Wakil Presiden yang pertama.

Sejak 1945 sampai 1966, Bung Karno senantiasa memberikan pidato atau amanat kenegaraan pada setiap upacara peringatan HUT ke-21 Kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus. Dan, sebagai Presiden, pidato kenegaraan terakhir Bung Karno, adalah pidato kenegaraan yang disampaikannya pada upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1966.

Setelah 51 tahun, rasanya tidaklah berlebihan, kalau kita menyimak ulang pidato kenegaraan terakhir Bung Karno yang diberinya judul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” (Never Leave History). Judul pidato terakhir Bung Karno ini juga populer dengan sebutan “Jas Merah”.

Bung Karno dikenal sebagai orator ulung. Retorikanya dalam berpidato, untuk ukuran negeri ini, bahkan mungkin di kawasan Asia-Afrika, sepertinya tak tertandingi. Pidatonya dari tahun ke tahun senantiasa bergelora, penuh semangat, membakar dada dan jiwa segenap anak bangsa, dan rakyat Indonesia dari Sang sampai Merauke.

Demikian pula pada pidato kenegaraan 17 Agustus 1966, sekali pun bangsa dan negara ini baru saja terguncang dengan peristiwa Gerakan Tigapuluh September 1965 yang menyeret-nyeret nama Partai Komunis Indonesia terlibat di dalamnya, Bung Karno tetap penuh semangat, tetap tegar, berwibawa dan berapi-api.

 

Mengabdi Pada Kemerdekaan

Cobalah simak ulang pernyataan Bung Karno pada bagian-bagian awal pidato kenegeraan terakhirnya itu:

Pada tiap-tiap 17 Agustus saya kembali berhdapan muka dengan Saudara-saudara yang berada di Jakarta ini. Dan, melalui corong radio saya juga berhadapan suara dengan sekalian Saudara di seluruh tanah air dan di luar tanah air.

Berhadapan suara dengan rakyat di Jawa Barat, rakyat Jawa Tengah, rakyat Jawa Timur, rakyat Bali, rakyat Kalimantan, rakyat Sulawesi, rakyat Maluku, rakyat Sumatra, rakyat Irian (sekarang Papua-pen), dan lain-lain. Berhadapan sura dengan semua buruh dan tani, semua prajurit-prajurit dari pada angkatan bersenjata, arek-arekku yang memanggul bedil. Berhadapan suara dengan semua putra revolusi! Berhadapan suara dengan seluruh rakyat Indonesia antara Sabang dan Merauke, dan rakyat Indonesia di perantauan! Dan saya yakin, bahwa saya bukan berhadapan suara saja! Lebih dari itu!

Saya juga berhadapan semangat dengan Saudara-saudara, terlebih-lebih dengan Saudara-saudara yang benar-benar revolusioner, de echte revolution nairen, yang benar-benar progresif revolusioner, dan bukan retrogresif revolusioner. Dan karena berhadapan semangat, maka kita mencapai persatuan semangat, persatuan batin, persatuan rasa, persatuan kesadaran, persatuan tekad!

 

Rangkaian kata-kata Bung Karno ini terkesan sederhana, tapi di dalam kesederhanaan itu ia mampu menggelorakan semangat kebersamaan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Rangkaian kata-kata sederhana itu juga mampu mendekatkan dirinya kepada segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Mendekatkan sekaligus menyatukan dirinya kepada rakyat, kepada sesama anak bangsa, dalam perjuangan menjaga kemerdekaan. Ini bukti betapa Bung Karno tak tertandingi dalam hal retorika ketika berbicara kepada seluruh rakyat Indonesia.

Simak pula kata-kata lanjutan pidatonya tersebut, bagaimana Bung Karno meyakinkan segenap rakyat Indonesia, bahwa semua memiliki tanggungjawab bersama dalam mengabdi kepada kemerdekaan, tanah air, bangsa dan negara. Serta semua memiliki kesamaan tugas dan tanggungjawab untuk menjadi pejuang revolusi. Diingatkannya pula, bagaimana mata dunia senantiasa mengarahkan pandangannya ke Indonesia, karena ingin mengetahui apa yang terjadi di negeri ini.

 

Untuk apa? Untuk mengabdi kepada kemerdekaan, untuk mengabdi kepada tanah air dan bangsa, dan negara! Untuk mengabdi dan menjadi pejuangnya revolusi. Persatuan semangat, persatuan batin, persatuan rasa, persatuan kesadaran, untuk menyelesaikan revolusi kita. Ya, revolusi kita. Sekali lagi revolusi kita, yang belum selesai ini.

Saya tidak hanya berhadapan dengan rakyat Indonesia saja. Saya sekarang ini berhadapan juga dengan seluruh umat manusia!

Memang pada tiap-tiap 17 Agustus seluruh dunia dan seluruh umat manusia mengarahkan perhatiannya kepada Jakarta, karena mereka pun ingin mengetahui, apa yang akan dikatakan oleh Jakarta pada hari ulang tahun republiknya. Pada tiap-tiap 17 Agustus, seluruh dunia mengikuti dengan cermat pidato ulang tahun Republik Indonesia dari Presiden, untuk dapat mengetahui perasaan bangsa Indonesia, untuk dapat menjajaki perhitungan ke belakang dan garis kebijaksanaan ke depannya daripada Republik Indonesia!

Teristimewa pada hari ini, pada saat Republik Indonesia telah meninggalkan tahun 1965 dan menjalani tahun 1966 ini, yang oleh orang dalam negeri malahan dinamakan “tahun gawat”.

Dan, pada hari ini, mata dan telinga mereka pun mengincar kepada saya, kepada saya. Pikir mereka itu — bagaimana Republik Indonesia sekarang, sesudah dapat hantaman dan gempuran bertubi-tubi itu? Bagaimana Sukarno, yang telah mendapat sodokan bertubi-tubi itu pula?

 

Penuh Penderitaan

Dalam setiap pidatonya, Bung Karno memang selalu mengatakan sesuatu itu dengan penuh keterbukaan. Banyak yang mengatakan, ia sering tanpa tedeng aling-aling bila mengatakan sesuatu. Ia tak suka kalimat basa-basi. Selalu menyampaikan secara apa adanya. Kalau negara sedang susah, ia pun tak mau menghibur diri, dengan mengatakan yang sebaliknya.

Cobalah simak lanjutan pidatonya.

 

Ya, bagi kita terus terang saja, duapuluh satu tahun ini adalah duapuluh satu tahun yang penuh penderitaan dan pengorbanan. Duapuluh satu tahun pergulatan dan adu tenaga, duapuluh satu tahun yang penuh dengan pengalaman. Pengalaman yang kadang-kadang hitam dan pahit, tetapi kadang-kadang juga pengalaman yang cemerlang laksana matahari di pagi hari.

Duapuluh satu tahun pembajaan rasa kepada kemampuan dan kepribadian bangsa sendiri. Pendek kata, duapuluh satu tahun pembangunan bangsa dalam badai tofannya ketidakdewasaan dalam negeri, dan badai tofannya reaksi dari luar negeri.

Sudah barang tentu, sudah barang tentu dus, reaksi kini makin-makin meneropong kita, makin memperhatikan kita, atau memperhatikan dalam arti jahat!*** 

(Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *