Selasa , 21 November 2017
Beranda » Pendidikan » Menyikapi Informasi Media Sosial

Menyikapi Informasi Media Sosial

Dunia informasi di media sosial sudah seperti rimba atau hutan belantara. Siapa pun bisa tersesat apabila tak cermat. Bisa celaka jika tidak waspada. Bahkan mati sia-sia karena tak hati-hati dan tak bisa menahan diri.

Seperti itu penggambarannya. Keseharian dijejali informasi. Tapi jika kurang bijak dalam menyikapi, bisa berakibat ikut menyebarkan informasi yang bisa menyebabkan sakit hati.

Sudah banyak kejadian di negeri ini, antarpihak saling menghujat, hanya gara-gara informasi yang menyebar di medsos. Informasi maupun berita itu sengaja dibuat untuk memfitnah. Menyudutkan. Menjatuhkan. Tujuan akhirnya untuk menghancurkan.

Siapa pun bisa melakukannya. Siapa pun bisa menjadi korban. Tidak sulit. Apalagi kalau punya duit. Rasanya informasi maupun berita di medsos bisa menjadi sesuatu yang mengerikan. Bisa menjungkirbalikkan kebenaran menjadi sesuatu yang salah. Begitu pula sebaliknya. Bisa merugikan salah satu pihak. Dan tentunya menguntungkan pihak lain.

Informasi maupun berita terkait urusan politik dan hukum di medsos, belakangan ini sering memicu reaksi masyarakat, sehingga situasi menjadi panas. Masyarakat seperti terbelah. Sebagian dari mereka meyakini bahwa yang tersaji di medsos itu benar. Padahal mereka tidak tahu yang sebenarnya. Ada yang hanya ikut-ikutan.

Medsos kini sudah menjadi mesin penggerak sikap. Siapa pun menjadi mudah berkomentar. Bereaksi. Bahkan mereka yang semula tidak peduli, menjadi punya nyali. Ada anggapan di masyarakat, bahwa dengan terlibat atau melibatkan diri secara aktif di medsos, baik dalam berkomentar maupun ikut menyebarluaskan informasi atau berita, ada nilai plus-nya. Merasa dirinya akan dilihat “lebih” oleh orang lain.

Aktif di medsos sudah seperti gaya hidup. Ini karena didasari keinginan. Bukan kebutuhan. Jika selalu ingin seperti orang lain, itu namanya terbawa arus gaya hidup. Tapi apabila sesuai kebutuhan, dalam arti memang dibutuhkan, ini biasanya yang mendorong penggunaan medsos dilakukan secara bijak. Hati-hati. Cermat, dan bersikap dewasa.

Medsos tidak perlu dihindari. Tapi harus disikapi dengan kearifan. Medsos memang dapat memberikan informasi maupun berita secara cepat. Tapi dapat pula memicu kegaduhan masyarakat.

Oleh karena itu, bersikaplah bijak ketika menerima informasi maupun berita di medsos. Jangan dibagikan atau di-share ke orang lain apabila tak yakin informasi maupun berita itu benar. Meski sudah yakin bahwa itu benar, tetapi rasanya tidak ada kaitannya atau tidak ada manfaatnya bagi orang yang akan menerimanya, maka sebaiknya tidak perlu di-share.

Peganglah prinsip ini. Lebih baik tidak memberi, dari pada memberi tetapi menimbulkan masalah baru. Atau lebih baik menunda memberi, dari pada tergesa-gesa memberi, namun akhirnya si penerima merasa tidak suka.

Bersikaplah menahan diri terhadap informasi yang masih perlu dikonfirmasi. Perlu dilihat di media massa arus utama (mainstream) terlebih dulu misalnya. Atau bertanya ke sumber yang bisa dipercaya.

Presiden Joko Widodo pernah mengatakan ada perbedaan mendasar antara media mainstream dan media sosial. Menurut presiden, media sosial cenderung lebih mudah menyebarkan berita bohong atau hoax ketimbang media mainstream.

“Media sosial menonjol karena kecepatannya, sedangkan media massa arus utama yang menonjol nilai akurasinya,” kata Jokowi pada acara puncak peringatan Hari Pers Nasional 2017 di Ambon, Maluku, 9 Februari.

 

Mengecek Hoax Atau Bukan

Berangkat dari keprihatinan akan banyaknya berita hoax yang tersebar di media sosial, Dimaz Fathroen, praktisi anti hoax sekaligus alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan empat langkah mengecek berita hoax atau bukan.

Pertama.

Waspadalah apabila berita memiliki 5 tanda berikut, karena ada kemungkinan hoax:
1. Ada kata-kata: Sebarkanlah! Viralkanlah! (dan sejenisnya).
2. Artikel penuh huruf besar dan tanda seru.
3. Merujuk ke kejadian dengan istilah kemarin, dua hari yang lalu, seminggu yang lalu, tanpa ada tanggal yang jelas.
4. Ada link asal berita tapi waktu ditelusuri, beritanya sama sekali beda atau malah link sudah mati.
Cek terlebih dahulu link yang ada di info tersebut.

Contoh ketika ada berita Sri Mulyani antri  Nike Great Sale berjam-jam. Ternyata nama sama, tapi bukan Menkeu.

5. Link berita asal merupakan opini seseorang, bukan fakta. Harus diingat, beda opini dan fakta.

Kedua.

Coba cari di Google tema berita spesifik yang ingin dicek, diikuti dengan kata hoax di belakangnya. Biasanya kalau memang hoax, akan ketemu pembahasannya.

Contoh berita viral tentang rape drug progesterex yang membuat mandul.

Coba cari di Google, progesterex diikuti dengan kata hoax. Pasti ketemu. Jadi tugas kita, cari di Google dengan kata kunci yang spesifik atau unik.

Ketiga.

Ini agak perlu ekstra niat. Kalau ada gambar beserta berita, save gambarnya, kemudian cari gambar sejenis di https://images.google.com/ (harus desktop mode, tidak bisa mobile mode).

Kadang ketemu artikel-artikel lain dengan gambar sejenis.
Kadang ketemu artikel lama yang sama sekali beda yang memakai gambar yang sama.

Cara mencari berdasarkan gambar (search by image) ada di link berikut :
https://www.google.com/intl/en-419/insidesearch/features/images/searchbyimage.html

Keempat.

Sekarang sudah ada juga aplikasi untuk mengecek hoax: http://hoaxanalyzer.com/

Peka Mendeteksi Hoax

Satu dari sekian penyulut panasnya suhu politik adalah beredarnya secara masif informasi hoax alias kabar bohong di dunia maya dan medsos.

Pemerintah bersama stakeholders (pemangku kepentingan) berusaha melakukan strategi pengawasan khusus terhadap penyebaran hoax. Selain itu juga diperlukan efektivitas dan kecepatan koordinasi antar lembaga pemerintah untuk mengklarifikasi isu.

Inisiatif masyarakat juga didorong untuk peka mendeteksi hoax, dan tidak menyebarluaskan kebohongan.

Poin-poin itu yang dipaparkan Deputi IV bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, pada sarasehan Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya bersama instansi-instansi pemerintah yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Jakarta, 16-17 Februari 2017.

Dalam pengamatan Eko Sulistyo, narasi berita atau simbolisasi yang mengandung unsur hoax terdiri dari dua level.

“Level pertama propaganda yang bertujuan mempengaruhi pikiran dengan ideologi radikalisme. Pada level kedua yakni agitasi dengan narasi. Agitasi ini yang mengarah pada penggerakan aksi secara langsung,” tandas Eko.

Ia juga memaparkan soal meluasnya hoax di Indonesia didasari beberapa penyebab, yakni gerakan berideologi radikal dan ekstrem anti pancasila, kemajuan teknologi informasi, perubahan dan perbaikan sistem oleh pemerintah Jokowi-JK, serta kompetisi politik yang berlarut-larut.

Eko berharap, nantinya Indonesia bisa memiliki mesin hoaxbuster dengan database lengkap yang secara otomatis meredam informasi dan penyebaran hoaks.

Diakuinya, saat ini kapasitas pemerintah untuk mengawasi isu yang berisi hoax masih sangat terbatas. Begitu pula masih adanya kelemahan pada undang-undang terorisme, karena memiliki unsur penegakan hukum, sehingga kepolisian melalui Densus 88 menangkap terduga pelaku terorisme apabila ada bukti.

Sementara itu, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Rosarita Niken Widiastuti mengatakan pencegahan informasi atau berita hoax dapat dilakukan melalui literasi media, penegakan hukum, dan fact checking. “Bila ada informasi salah, buat lagi informasi yang berisi kebenaran dan faktual,” ujarnya.

Selain itu, menyarankan agar masyarakat melaporkan berita hoax ke kepolisian dengan jerat Undang-undang No.11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yang bunyinya; siapa pun masyarakat yang membuat konten negatif, ujaran kebencian, hoax dan menyebarkannya, bisa dikenakan hukuman tahanan dan denda.

“Terakhir, cek kebenaran berita lewat website Jaringan Pemberitaan Pemerintah (JPP) Kominfo di situs www.jpp.go.id,” kata mantan Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia itu.*** (Dari berbagai sumber/Masduki Attamami)

Lihat Juga

Jangan Pernah Katakan “Tidak” untuk Tujuan Mulia

JANGAN pernah katakan “tidak” untuk suatu tujuan yang mulia. Serangkaian kata-kata atau kalimat ini pernah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *