Selasa , 21 November 2017
Beranda » Pendidikan » Menulis itu Indah dan Menyenangkan

Menulis itu Indah dan Menyenangkan

SETIAP kali berbincang tentang dunia penulisan, saya selalu bilang kepada siapa pun bahwa “menulis itu sesuatu yang indah dan menyenangkan”. Ya, menulis itu indah. Menulis itu akan membuat hidup kita menjadi lebih berarti. Tentu, yang saya maksudkan adalah menulis dalam kontek berkarya. Menulis kreatif. Baik menulis karya non-fiksi maupun fiksi. Kalau berbicara tentang fiksi, tentu termasuk juga puisi.

Sejak tahun 70-an, ketika menjadi redaktur pengasuh halaman “Remaja Nasional” (Renas)  pada Surat Kabar “Berita Nasional” di Yogyakarta, saya memang suka memprovokasi siapa pun untuk menulis. Menulis apa pun, termasuk menulis puisi. Halaman “Renas” adalah halaman atau rubrik yang memang khusus disediakan untuk para remaja mengembangkan kreatifitas dirinya dalam menulis. Saya masih ingat, di rubrik yang muncul setiap hari Jumat tersebut, pasti akan selalu ditemukan kata-kata provokatif saya yang seperti ini: “Ayo, jangan putus asa. Menulislah terus. Kemampuanmu sudah terlihat.” “Idemu lumayan bagus. Sayangnya, penghayatanmu masih kurang menggigit. Nah, tulis lagi. Tulis lagi yang lebih menggigit.” “Menulislah, ayo menulislah. Kamu pasti bisa.” Dan, banyak lainnya lagi.

Ketika saya dipercaya menjadi pengajar atau pengampu beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan jurnalistik atau komunikasi massa di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, kesukaan atau kegemaran memprovokasi itu pun tetap terbawa..

Dalam kesempatan bertemu dengan mahasiswa di depan kelas, saya pun sering memprovokasi mereka untuk menulis. Misalnya, saya berulangkali berkata begini, ” Menulis itu indah dan mudah. Karena itu menulislah, sebab dengan menulis akan membuat hidup menjadi lebih berarti dan indah. Apa pun profesi Anda kelak, apakah akan menjadi seorang ulama atau roahaniawan, seorang da’i, seorang ustadz atau ustadzah, seorang pengusaha, politikus bahkan juga dosen di perguruan tinggi, dan lain-lainnya lagi, kalau Anda mempunyai kemampuan menulis, maka karier  di profesi yang ditekuni itu akan menjadi lebih cemerlang dan lebih berarti.

Saya pun sering mengatakan begini, ” Jangan pernah katakan bahwa Anda tak berbakat untuk menulis atau menjadi penulis. Untuk menulis atau menjadi penulis, tak memerlukan bakat khusus. Siapa pun bisa jadi penulis, melalui proses belajar, berlatih dan mengasah kemampuan diri. Siapa tahu kelak Anda akan berkarier di kampus, menjadi dosen. Berbahagialah Anda, kalau kelak Anda akan menjadi seorang dosen yang tidak saja hebat dan pintar, tetapi juga punya kemampuan menulis. Karya tulisan Anda tersebar di banyak media, maupun terhimpun di banyak buku. Banyak dosen hebat dan pintar di kampus, tapi karena tak suka menulis, menjadi tidak dikenal di luar kampusnya. Akan tetapi tak sedikit dosen yang biasa-biasa saja di kampus, namun sering menulis bahkan menerbitkan buku-buku, menjadi dikenal di luar kampusnya.

Dan, saya pun pernah juga berkata begini, “Di dalam kitab suci Al-Quran disebutkan bahwa kalam atau tulisan itu adalah sumber ilmu pengetahuan. Untuk itu menulislah, karena dengan menulis kita telah berbagi ilmu pengetahuan kepada sesama. Berbagi ilmu pengetahuan itu pekerjaan yang mulia dan berpahala.

Pendek kata, kepada siapa pun yang menaruh minat dan perhatian terhadap dunia penulisan, bahkan kepada yang tak berminat sekalipun, dalam berbagai kesempatan dan perbincangan, saya juga selalu memprovokasi untuk menulis. Termasuk dengan sahabat-sahabat perbincangan saya di dunia maya.

Sekarang ini dunia maya sungguh merupakan tempat yang mengasyikkan untuk berbincang, berbagi pengalaman dan pengetahuan, termasuk memprovokasi atau berkampanye tentang dunia penulisan. Bahkan, tak jarang perbincangan di dunia maya jauh lebih menyenangkan dari pertemuan di dunia nyata.

***

BAIKLAH, saya mencoba berbagi pengalaman seputar perbincangan di dunia maya tentang dunia penulisan. Untuk mempermudah penguraiannya, saya coba dengan model tanya (T) dan jawab (J). T yang saya maksud pertanyaan-pertanyaan dari teman berbincang di dunia maya itu, sedangkan J adalah jawaban dari saya.

 

T : Apa latar belakang menekuni dunia kepenulisan?

J : Karena saya memang menyukainya. Saya suka menulis. Itu diawali dengan kesukaan saya membaca buku sejak bangku SMP dulu. Terus terang buku fiksi pertama yang membangun keinginan saya untuk suka menulis adalah buku kumpulan cerpen NH Dini berjudul “Dua Dunia” terbitan tahun 60-an. Ketika itu sekitar tahun 1967/1968.

 

T : Jenis karya apa sajakah yang pernah ditulis? Apakah ada kaitannya dengan pengalaman?

J : Saya menulis hampir semua karya fiksi. Puisi, cerpen, dan novel (cerita bersambung). Saya pertama mengawali dengan menulis puisi, kemudian cerpen, novel (cerber). Ya, kebanyakan berkaitan dengan pengalaman hidup saya. Setidaknya emosi saya bersentuhan dengan apa yang saya tulis itu.

 

T :  Ketika berkarya, apakah terpengaruh dengan pergaulan?

J : Ya, itu pasti. Pergaulan dengan banyak orang atau siapa pun menumbuhkan banyak inspirasi atau gagasan nuntuk menulis. Dan, dari pengalaman-pengalaman pergaulan itu saya peroleh banyak pelajaran atau pengetahuan berharga, yang memperkaya kerja kreatif dalam menulis.

 

T : Mohon maaf, kalau boleh tahu, apa aktifitas di samping dunia kepenulisan?

J : Saya menjadi pekerja media (pers), dan juga mengajar di kampus.

 

T : Dalam menulis kreatif, dari manakah biasanya mendapatkan ide kepenulisan? Dan bagaimanakah memerlakukannya?

J : Ide kepenulisan bisa didapat dari mana pun. Dari pengalaman-pengalaman kehidupan, dari lingkungan pergaulan, baik di kampung (tempat tinggal). Di lingkungan kerja atau di mana pun. Dari membaca atau mendengarkan beragam informasi di media pers cetak mapun di media televisi. Bahkan saya punya pengalaman, menemukan ide untuk menulis sebuah cerpen, setelah membaca suatu tulisan feature di kertas koran bekas pembungkus nasi di warung angkringan (warung kelas rakyat di Yogya). Ketika kertas koran pembungkus nasi itu saya lipat dan masukkan ke dalam tas, pemilik warung angkringan itu sempat menawari saya kertas koran yang masih bersih. Kalau ide itu saya temukan, ketika masih di jalanan, di warung atau di manapun, saya terlebih dulu mencatatnya di buku tentang ide apa yang muncul. Sekarang lebih mudah lagi, karena ide-ide itu bisa disimpan di hp.

 

T : Apakah latihan menulis berpengaruh terhadap proses kreatif yang dilakukan?

J : Ya, awalnya dulu begitu. Ketika karya-karya tulisan saya ditolak media, saya tidak putus asa. Saya terus menulis, dan saya anggap itu sebagai proses berlatih menulis. Bahkan, ketika saya bekerja di media suratkabar harian, yang selalu “hiruk-pikuk”, diburu-buru waktu dead-line, saya juga berlatih menulis fiksi dalam suasana ‘hiruk-pikuk’ dan sibuk itu. Hasilnya, dengan pengalaman itu, saya bisa menulis dalam suasana seperti apa pun. Saya tak perlu mencari suasana hening, sepi, senyap dan semacamnya untuk menulis.

 

T : Mohon maaf, kalau boleh tahu, berapa lamakah perjalanan proses waktu yang ditempuh?

J : Berapa lama proses waktunya? Kalau pertimbangannya berdasar karya saya dimuat media, rasanya prosesnya tak begitu lama. Rasanya, semua berlangsung begitu cepat. Saya mulai suka menulis puisi di bangku kelas 3 SMP, dan dalam waktu relatif singkat ketika itu karya-karya puisi saya pernah muncul atau dibacakan di Radio Singapura. Setamat SMP saya ke Jawa, saya sekolah di Kebumen. Sejak kelas 2 dan 3 SMA saya mulai menulis puisi lagi, dan puisi-puisi saya kala itu dimuat di salah satu media mingguan yang terbit di Bandung. Ketika pindah ke Yogya, saya terus menulis. Dari puisi, berkembang ke cerpen, esai, dan kemudian novel (cerber).

 

T : Kalau boleh tahu, apakah resep-resep kepenulisan yang selama ini dipegang?

J : Saya tidak punya resep kepenulisan yang khusus. Tapi saya selalu berusaha menghindari apa yang saya tulis itu tidak melukai atau menyakiti orang lain. Saya selalu berusaha untuk tidak menyudutkan, melecehkan, atau memperolok-olok orang lain (apalagi kelompok, etnis, keyakinan dan semacamnya). Saya berusaha karya tulisan saya menjaga ‘harmoni kebersama’ dalam kehidupan.

 

T : Sering kali orang dalam menekuni dunia kepenulisan memiliki prinsip. Prinsip apa sajakah yang menjadi pijakan atau penggerak yang dijadikan pegangan?

J : Salah satu prinsip yang saya pegang adalah “menulis itu merupakan pekerjaan mulia, karena berbagi pengetahuan kepada orang lain”. Kaitannya dengan fiksi, menulis karya fiksi yang di dalamnya memiliki pesan pengetahuan bagi orang lain, misalnya pengetahuan tentang keberagaman budaya bangsa, pengetahuan tentang bagaimana memecahkan atau mencari jalan keluar bagi suatu persoalan, pengetahuan bagaimana tentang menata kehidupan menjadi lebih baik, pengetahuan bagaimana caranya menjalani kehidupan yang menyenangkan, pengetahuan tentang nilai, etika dan moral. Dan banyak hal lainnya lagi.

 

T : Bagaimanakah proses atau langkah-langkah dalam menghasilkan karya sastra?

J : Langkahnya sederhana saja. Kalau ingin menulis, ya saya menulis. Saya dapatkan ide. Lalu saya matangkan ide. Saya cari referensi, kalau itu diperlukan. Misalnya, tentang suatu kota, saya harus cari referensi tentang kota itu. Lalu, semuanya itu saya kembangkan dalam imajinasi. Di awal-awal dulu, saya selalu mempersiapkan sinopsis dari suatu karya fiksi cerpen atau novel. Mempersiapkan tokoh-tokoh cerita dengan karakternya masing. Tapi sekarang, saya tak terlalu ‘setia’ lagi dengan hal-hal seperti itu. Saya menulis saja, kemudian tokoh-tokoh dengan karakternya bisa muncul dalam seketika.

 

T : Bagaimana mengatasi kemacetan dalam proses mengahasilkan suatu karya?

J : Kalau macet, ya jangan paksakan untuk diteruskan. Tinggalkan dulu. Ganti suasananya. Misalnya, mendengar musik, membaca, menonton, atau apapun yang bisa menimbulkan suasana hati menyenangkan. Percayalah, nanti akan muncul lagi ide-ide baru untuk melanjutkannya.

 

T : Karya apa sajakah yang dianggap monumental? Dan bagaimana respon pembacanya?

J : Monumental? Buat, saya ini terlalu berlebihan juga. Tapi buat saya pribadi, dari sekian judul karya novel yang pernah saya tulis, saya ‘paling suka’ dengan novel “Surau Tercinta” yang terbit tahun 2002 (Penerbit Gita Nagari). Saya merasa tersanjung, ketika di berbagai kota banyak yang menulis skripsi tentang novel ini. Banyak yang menghubungi, berkirim surat, berkomunikasi, menelpon kepada saya. Dan bicara tentang cerita di dalam novel itu.

 

T : Bagaimanakah dampak sosial dan material dalam perjalanan kepenulisan?

J : Dampak sosialnya, ya, banyak yang kemudian tahu saya adalah seorang penulis novel. Saya menjadi semakin banyak kawan, kenalan. Pergaulan saya menjadi semakin luas, dengan yang tua juga kalangan muda. Saya tersanjung, karena dalam sejumlah pertemuan, forum, dan sebagainya ada yang menyebut-nyebut saya sebagai penulis novel. Secara material, ah, biasa-biasa saja.

 

T : Bagaimana menyiasati kekeringan ide (kejenuhan)?

J : Saya mensiasatinya dengan melakukan sejumlah hal yang menyenangkan. Misalnya, membaca, menonton film, jalan-jalan, ke pasar, ke warung-warung kecil bertemu dengan banyak orang dari beragam profesi, sampai keluar masuk toko. Masuk ke toko batik misalnya. Di sana lihat kain batik tulis yang harganya melangit. Tak perlu beli kain batiknya yang mahal itu. Cukup merenung sesaat, dari harga yang mahal, beratus-ratus ribu atau berjuta-juta rupiah, berapa besar upah yang diterima oleh pembatiknya (pekerjanya)? Nah, ada ide yang muncul setelah merenung sesaat. Ide tentang derita kehidupan para pembatik itu, yang tak sebanding dengan harga jual kain batik tulis itu di toko.

 

T : Bagaimanakah mendapatkan bahan-bahan kepenulisan yang representatif terkait dengan karya-karya selama ini? Mohon maaf, mohon berikan ilustrasinya!

J : Mengumpulkan atau mencari referensi (kalau tulisan itu memang memerlukannya) dari data-data yang ada, misalnya bisa ke perpustakaan atau lewat data-data arsip maupun dokumentasi lainnya. Misalnya, saya pernah menulis sebuah novel berlatarbelakang dunia prostitusi. Judulnya “Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur”. Saya datang ke perpustakaan mencari arsip-arsip tulisan di koran tentang komplek prostitusi itu. Kapan konplek prostitusi itu muncul, siapa yang bertanggungjawab dengan keberadaannya, berapa banyak jumlah penghuninya, bagaimana penanganannya dari institusi pemerintah, dll.

 

T : Bagaimana memasukkan pesan dan nilai ke dalam sebuah karya sastra yang dihasilkan?

J : Ya, pesan dan nilai-nilai moral itu bisa dimasukkan dalam uraian kalimat-kalimatnya, melalui dialog-dialog para tokoh cerita di dalamnya, melalui karakter tokoh-tokoh ceritanya. Juga, bisa melalui bagaimana kita mengakhiri atau menyelesaikan alur cerita di dalamnya, sehingga pembaca akan menumukan pesan apa yang sesungguhnya disampaikan oleh penulis.

 

T : Mohon maaf, kalau boleh tahu, mengapa memilih profesi kepenulisan dari pada profesi-profesi yang lain?

J : Karena profesi ini menyenangkan. Profesi ini membuat hidup saya menjadi lebih berarti.

 

T : Apa pesan terhadap calon penulis demi terwujud penulis yang sukses?

J : Ada teman yang bilang, kalau ingin jadi penulis ya membacalah. Artinya, membaca adalah awal keberhasilan seorang penulis. Selain membaca, jalinlah pergaulan dengan siapapun, tentu pergaulan yang positif. Karena banyak membaca dan bergaul, akan semakin memperkaya pengalaman batin (pengalaman kehidupan). Kekayaan-kekayaana batin itu sangat menopang keberhasilan penulis dalam berkarya.

 

T : Apa yang dibutuhkan agar penulis pemula itu sukses dalam dunia kepenulisannya?

J : Jangan mudah putus asa. Menulis dan menulislah terus. Andai tulisannya ditolak oleh media, ya teruslah menulis, teruslah kirim karya-karyanya ke media. Putus asa adalah langkah menuju kegagalan. Dan, jangan terpaku pada media-media formal. Media-media di dunia maya (blog, jejaring-jejaring sosial, dll) bisa dijadikan ajang untuk menulis. Harus kerja kerasd, jangan mudah putus asa. Satu hal lagi, rajin membaca. Ini penting.

 

T : Bagaimana pandangan terkait dengan fenomena kepenulisan kreatif di kalangan pelajar dan mahasiswa? Mengapa?

J : Fenomena kepenulisan kreatif di kalangan pelajar dan mahasiswa dewasa ini sungguh menggembirakan. Dewasa ini banyak bermunculan penulis-penulis muda potensial (berstatus mahasiswa), yang karya-karyanya sukses dan menggelitik. Peluang untuk menjadi penulis, sekarang ini terbuka luas seiring dengan perkembangan dan kemajuan di dunia teknologi informasi. Sekarang seseorang bisa menulis di manapun, di warung, ketika nongkrong di taman, di kampus, di rumah kost, atau tempat-tempat wisata, dengan laptop dan sejenisnya. Kalau dulu, semasa masih dengan mesik ketik, seseorang tak bisa menulis di sembarang tempat. Dulu hanya bisa menulis di kamar rumahnya, atau di kantor. Tapi sekarang semangat untuk menulis itu bisa muncul dan dilakukan di manapun, asalkan kita memiliki sarananya. Dan, itu semua sangat membantu bagi iklim kepenulisan anak-anak muda, pelajar dan mahasiswa.

Semoga bermanfaat. Mari menulis! *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

STIKES Wira Husada Yogyakarta

Advertorial STIKES Wira Husada merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan yang pertama kali berdiri di Daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *