Selasa , 21 November 2017
Beranda » Humaniora » Menulis dalam Riuh

Menulis dalam Riuh

KETIKA pertama kali belajar menulis fiksi, nasehat awal yang saya dapatkan — menulislah dalam hening dan sepi. Sejak mulai belajar menulis, peran hening dan sepi telah mempengaruhi dan merasuk begitu dalam. Sehingga saya seakan tak punya kemampuan untuk membantah atau mempersoalkan seberapa jauh kebenaran dari peran hening dan sepi itu dalam kiprah kepenulisan seseorang.

Dan, di Yogya tahun-tahun awal 70-an, seseorang yang saya anggap sebagai penulis senior  juga menasehati, “Kalau ingin mencari inspirasi atau menulis, carilah tempat yang sunyi, sepi, jauh dari keriuhan. Suasana sunyi, sepi dan hening, akan sangat membantu kelancaran dan kemudahan kita dalam menulis.”

“Kita pasti bisa fokus dalam menulis. Imajinasi kita bisa berkembang, tanpa gangguan. Tapi, bila kita menulis di tempat yang ramai, jauh dari sepi, bisa-bisa inspirasi atau imajinasi buyar. Ide pun jadi buntu. Bila imajinasi buyar, dan buntu, maka bisa gagallah kita menulis. Bila kita paksakan juga, hasilnya sudah pasti jelek,” katanya lagi.

Ou, benarkah demikian? Benarkah, suasana hening dan sepi memiliki pengaruh dalam berhasil atau gagalnya seseorang berkarya? Tapi, realitanya dulu saya teramat mempercayai kata-kata itu. Tak mampu menolak atau membantahnya. Menulis dalam hening dan sepi itu, dulu begitu saya yakini kebenarannya. Bahkan, menulis dalam hening dan sepi itu bagai suatu keharusan. Seakan hukumnya wajib. Wajib untuk dilakukan. Wajib untuk ditaati ketika akan menulis. Tidak boleh tidak. Pokoknya, harus!

Sekadar contoh, bagaimana saya dulu begitu meyakini kebenaran peran hening dan sepi itu dalam berkarya, adalah ketika menulis novel untuk pertama kalinya. Novel saya yang pertama, yang terbit di tahun 1978, saya tulis dalam suasana yang benar-benar hening dan sepi. Naskah novel itu saya ketik setiap malam, setelah teman-teman se-asrama sudah tertidur lelap (sekadar informasi, saya dulu tinggal di asrama mahasiswa). Mesin ketik saya letakkan di atas bantal, agar suara ketukannya tidak mengganggu teman-teman yang tidur. Jadi, ketika teman-teman saya terlelap dalam hening dan sepi malam, saya justru asyik mengetik, merangkai kata, dan kalimat demi kalimat.

Demikian pula cerita bersambung saya yang pertama dimuat salah satu koran di Jakarta tahun 1981, juga ditulis pada malam hari, ketika hening dan sepi. Ketika orang-orang sedang terlelap dalam mimpinya, saya serius di depan mesin ketik. Saya pernah mencoba untuk melanjutkan tulisan itu di siang hari, ternyata imajinasi saya buntu. Tak bisa berkembang. Buyar. Tak bisa fokus. Imajinasi saya seperti sudah benar-benar terteror keharusan menulis di suasana hening dan sepi itu. Sampai tahun 1990-an, saya masih ‘terperangkap’ dengan keharusan menulis dalam hening dan sepi.

Tapi lambat laun, saya mulai sadar seperti ada yang tidak beres dari cara saya berkarya atau menulis. Dan, mulai tahun 1997 keyakinan saya berubah. Muncul kesadaran dalam diri saya, bahwa seharusnya saya bisa menulis dalam suasana apa pun, tidak hanya ‘terperangkap’ hening dan sepi. Bukankah sejak tahun 1974 saya sudah bergelut di dunia kewartawanan? Sudah selalu menulis dalam tekanan waktu, dan dalam ancaman deadline. Sudah terbiasa menulis dalam kondisi dan suasana apa pun. Sudah sangat sering menulis dengan tergopoh-gopoh. Pendek kata, sudah terbiasa menulis dalam keriuhan kerja di suratkabar.

Demikianlah, saya pun kemudian menanamkan keyakinan dalam diri bahwa saya harus bisa menulis apa pun dalam riuh. Kalau saya bisa menulis berita, feature, tajuk dan apa pun bentuk karya jurnalistik lainnya dalam suasana tekanan waktu, diburu-buru deadline, dan di tengah-tengah keriuhan kerja, kenapa tidak bisa ketika menulis karya fiksi? Seharusnya bisa! Ya, seharusnya bisa menulis dalam keriuhan. Kesadaran baru pun muncul. Saya pun kemudian seakan bergegas ingin membuktikannya. Membuktikan bahwa saya bisa menulis dalam riuh. Dan, tiga novel di bawah ini, saya tulis dalam keriuhan itu.

 

Surau Tercinta     

Novel “Surau Tercinta” yang diterbitkan Penerbit Navila ini terbit pada tahun 2002. Tapi sebelum diterbitkan dalam bentuk novel, “Surau Tercinta” sudah terlebih dulu terbit sebagai cerita bersambung di Harian Yogya Post pada sekitar tahun 1997/1998. Ketika diterbitkan sebagai novel, tak ada perubahan yang berarti. Bahkan, boleh dibilang tak ada yang dirubah. Semua sama seperti saat sebagai cerita bersambung di koran. Kecuali ada beberapa bagian yang dihilangkan, karena pertimbangan batasan halaman. Sebab bila tidak ada bagian yang dihilangkan atau dipotong, maka bisa sampai 300 halaman lebih. Setelah ada bagian yang dipotong, jumlah halamannya bisa dibatasi sampai 276 halaman saja.

Nah, saya akan cerita bagaimana proses penulisannya di tahun 1997/1998. Novel ini merupakan novel yang saya tulis dalam riuh. Kenapa saya sebut dalam riuh? Karena memang begitulah realita dan faktanya. Naskah novel ini saya tulis dalam suasana keriuhan kerja. Sejak tahun 1995 sampai 1998 saya dipercaya sebagai wakil pemimpin redaksi di Harian Sore Yogya Post. Di samping di Yogya Post, saya juga dipercaya menjadi pemimpin redaksi di Harian Gelanggang Rakyat (Yogya Post Grup) yang terbit pagi.

Kerja di koran yang selalu dikejar-kejar waktu itu adalah kerja penuh ‘keriuhan’. Di waktu-waktu kesibukan kerja, jangan harap di kantor redaksi ada suasana hening dan sepi. Suasananya riuh. Biasanya suasana riuh akan memuncak menjelang batas waktu deadline tiba. Ketika para wartawan sibuk menulis berita, suara ketukan keyboard komputer seperti saling berlomba. Para redaktur yang stres karena berita-berita untuk halamannya masih sedikit seakan saling berlomba berteriak memanggil para wartawan yang beritanya tak kunjung jadi. Belum lagi redaktur-redaktur yang berteriak mengumpat reporter atau wartawan yang salah dalam menulis berita, atau menemukan berita wartawan tak berkualitas.

Wartawan-wartawan yang stres karena berulangkali salah dalam membuat berita, juga tak mau kalah. Seringkali mereka pun seperti berlomba berteriak, bernyanyi, tertawa hanya untuk melepaskan kekesalan, atau kedongkolan. Belum lagi ditambah suara detak sepatu para redaktur dan wartawan yang bolak-balik dari satu ruang ke ruang lain, dari satu meja ke meja lainnya. Pokoknya, riuh. Dalam keriuhan kerja seperti itu, wajah-wajah kehilangan senyumnya.

Dalam suasana yang riuh seperti itulah “Surau Tercinta” itu saya tulis. Ketika dimuat sebagai cerita bersambung “Surau Tercinta” belum berwujud naskah jadi. Sungguh, yang ada di benak saya baru gambaran cerita, atau boleh juga disebut sinopsis sederhana. Saya sebut sinopsis sederhana, karena bisa jadi nantinya akan berubah. Alur ceritanya pun masih belum pasti. Bisa saja tiba-tiba berubah dari keinginan atau angan-angan sebelumnya. Sinopsis sederhana itu termasuk tokoh-tokoh di dalamnya pun hanya tersimpan di pikiran, angan, imajinasi dan bukan di catatan buku notes, atau di file komputer.   Tidak, sama sekali tidak.

Saya menulisnya setiap hari di tengah-tengah keriuhan kerja. Misal, untuk edisi terbitan esok hari, maka naskahnya saya ketik hari ini. Karena saya ‘orang dalam’ di koran itu, maka saya pun bisa menentukan kebijakan pemuatan dengan model begitu. Naskahnya saya tulis di sela-sela kesibukan sebagai wakil pemimpin redaksi. Setiap hari saya menulis sekitar tiga layar komputer. Kelihatannya sederhana, tapi sesungguhnya tidak mudah juga menulis dengan model begini. Dengan model ‘cicilan’.  Karena setiap kali menulis per-tiga halaman layar komputer, saya harus bisa mengakhirinya dengan kalimat yang tidak menggantung. Kalimat yang menggelisahkan pembaca. Ya, kalimatnya harus menggoda pembaca untuk terus tertarik melanjutkan membaca sambungannya pada esok hari.

Setiap kali selesai dimuat, saya tak ingin buru-buru memunculkan ide atau gagasan cerita lanjutannya. Saya sengaja membatasi gerak imajinasi agar tidak tergopoh-gopoh sibuk menyusun rencana dan strategi berikutnya, ke mana harus mengembara mengembangkan cerita. Karena cerita bersambung itu muncul di koran sore, maka imajinasi saya tunda dulu pengembaraannya selama semalam. Gagasan dan imajinasi saya tahan untuk bersabar menahan diri. Saya tak ingin imajinasi tentang “Surau Tercinta” itu mengganggu malam-malam untuk bersantai, istirahat dan tidur. Imajinasi saya stop. Saya larang bergerak. Saya belenggu, agar tak berkeliaran di malam hari. Kalau tidak begitu, bagaimana saya bisa istirahat atau tidur di malam hari, bila imajinasi bebas berkeliaran semaunya.

Baru keesokan harinya, saya bebaskan imajinasi untuk berkembang dan mengembara ke mana-mana, demi melanjutkan cerita. Saya baca sesaat cerita yang sudah dimuat di edisi sebelumnya. Setelah itu barulah saya beri kebebasan kepada imajinasi untuk melakukan apa pun, demi melanjutkan cerita. Saya bebaskan imajinasi mengeksplorasi apa pun yang ada di dalam file memori saya, asal bisa menghasilkan suatu cerita yang menarik. Begitu seterusnya sampai cerita bersambung itu selesai dimuat.

Terus terang, saya tak merasa kesulitan dalam membangun cerita untuk cerita bersambung yang saya tulis dengan gaya ‘harian’ dan ‘cicilan’ seperti itu. Dan, saya sama sekali tak pernah merasa khawatir akan kehilangan ide, kehilangan mood, kehabisan bahan dalam menulisnya. Saya yakin, semuanya akan berjalan lancar. Tak ada hambatan. Keyakinan itu muncul karena cerita atau kisah di dalamnya sangat dekat dengan pengalaman, peristiwa, kehidupan, kenangan dan emosi diri saya. Dan, saya seakan sedang bercerita tentang sepenggal kisah kehidupan ketika belajar mengaji di surau atau musholla.

“Surau Tercinta” menceritakan sepenggal kisah cinta remaja di suatu kampung atau desa dengan beragam problema, dinamika, warna dan konfliknya. Kisah cinta itu tumbuh di sebuah surau atau musholla, tempat remaja-remaja di kampung itu belajar mengaji setiap malam. Apa yang ada di dalam cerita itu memang dekat dengan emosi saya. Alur cerita, juga tokoh-tokoh di dalamnya, semua terasa dekat dalam perjalanan kehidupan saya.

Setting atau lokasi cerita memang di kota kelahiran saya. Surau di kampung yang menjadi sentral cerita juga merupakan surau tempat saya dulu belajar mengaji. Demikian pula tokoh-tokoh cerita di dalamnya, orang-orang yang saya kenal, merupakan teman-teman se-kampung dan se-pengajian di surau. Semua yang ada di dalam cerita, baik setting atau lokasi, dan tokoh-tokohnya terasa begitu dekat dengan emosi saya. Sehingga saya terasa begitu mudah mengembangkan dan ‘memainkan’ cerita, karena seperti sedang bercerita tentang diri sendiri.

Dalam menulis atau berkarya, penulis memang sering dituntut untuk melakukan observasi terhadap obyek tulisannya. Tetapi untuk memperkuat cerita, saya tak perlu lagi repot-repot melakukan observasi lapangan atau observasi pustaka, karena semuanya sudah ada dan tersimpan di dalam pikiran serta kenangan. Saya tinggal membuka ulang lembar-lembar catatan yang ada di memori kenangan. Tentang karakter tokoh-tokohnya juga sudah ada di dalam ingatan. Semua serba ada. Semua sudah tersedia untuk dikembangkan dan ‘dimainkan’ oleh imajinasi saya.

Jadi, ketika cerita ini saya tulis dalam suasana riuh di kantor, semua bisa mengalir dan berkembang begitu saja. Seperti tak ada hambatan atau halangan apa-apa. Bahkan tak jarang terjadi, baru mengetik dua atau tiga alinea, harus saya tinggalkan beberapa belas menit, karena ada urusan lain yang berkaitan dengan kerja. Misalnya, karena menerima tamu yang datang, melayani redaktur yang mengkonsultasikan suatu berita, atau mendengarkan wartawan menyampaikan keluhannya. Bila urusan itu selesai, kembali ke depan komputer lagi, melanjutkan cerita yang terhenti sesaat.

Sebagai gambaran kedekatan novel ini dengan emosi diri saya, terlihat dari bagaimana saya menguraikan cerita atau merangkai kalimat demi kalimat pada bagian awal novel tersebut (alinea satu dan alinea dua).

SURAU milik Pak Haji Dullah itu, satu-satunya surau kebanggaan di kampungku, Kelapapati. Kampung Kelapapati, yang tak jauh dari pusat kota Bengkalis, merupakan desa yang selalu sejuk dihembus senandung angin dari rimbun dedaunan pepohonan karet. Di surau itulah aku mengaji dan mendalami Al-Quran, serta menyenandungkan lagu-lagu pujian kepada Muhammad, Nabi junjunganku. Di surau itu pula aku besar dan menjalani sebagian hari-hari remajaku yang penuh kesan. Dan di surau itu jugalah cinta di usia remajaku pertama kali mekar serta berbunga.

            Bila suara adzan kembali menggema seperti di Mahgrib ini, terasa ada yang mengusik dan menyayat hatiku. Kembali wajah Pak Haji Dullah yang penuh wibawa, bijak dan penyabar itu membayang di mataku. Juga wajah Fikri, sahabat dekatku yang suaranya merdu dan penuh pesona setiap kali mengumandangkan adzan. Kemudian membayang wajah Khusnul yang tatap matanya teduh, Nurul yang bulu matanya lentik, Hasanah yang pemalu. Habibah yang centil dan Hamidah yang kelembutannya terpancar hingga hari ini. (Halaman 1).

Atau di bagian 6 (halaman 149), saya merangkai kalimat demi kalimat yang seperti ini:

MALAM-MALAM tanpa Hamidah adalah hamparan kebun karet yang dibelit sepi. Malam-malam yang terasa hampa. Malam-malam tanpa gairah. Malam-malam tanpa pesona. Dan malam-malam yang di hatiku merupakan hamparan padang kesunyian yang senyap. Teramat senyap.

Delapan malam sudah berlalu. Delapan malam sudah kesunyian kurasakan menggumpal di hatiku. Delapan malam terlewati begitu saja tanpa Hamidah. Tanpa Kehadiran senyumnya. Tanpa kehadiran sorot matanya. Delapan malam sudah kegelisahan mengharu-biru hatiku. Meremuk-redam perasaanku.

“Bagaimana khabar Hamidah, Rul?” tanyaku kepada Nurul dalam perjalanan menuju ke surau.

“Dia menangis terusw. Matanya kuyu. Wajahnya tak bersemangat.”

“Kapan kau jumpa dia terakhir?”

“Tadi sore. Tadi sore aku menemuinya lagi. Dia mengatakan bahwa ayahnya tetap memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Makhfud. Namun dia tetap menolaknya. Emaknya pun sudah ikut membujuk. Ikut berusaha meluluhkan hatinya. Tapi ia tetap bertahan. Ia tetap menolak. Akibatnya, ayahnya marah besar. Ayahnya mengamuk terus.”

Terasa ada yang ngilu di dada. Terasa ada sayatan luka.

Ya, demikianlah adanya. Surau, Pak Haji Dullah, mengaji, rimbunnya pepohonan karet, Fikri, Khusnul, Nurul dan Hamidah, begitu dekat dengan emosi saya. Semua seakan tersimpan rapi di dalam lemari atau file memori saya. Oleh karenanya seriuh apa pun suasana kerja ketika itu, seramai apa pun, tidak akan mampu menghalangi imajinasi saya ‘bermain’ dan mengembangkan cerita. Imajinasi saya tak merasa terganggu. Imajinasi saya begitu bebas meliuk-liuk di hamparan kebun karet, bersenandung di remang malam karena cahaya rembulan terhalang rimbun dedaunan, dan bergurau di sepanjang jalan pulang. Semua itu terasa menjadi begitu mudah, karena emosi saya yang terbawa dalam cerita seakan tak ada habisnya berbagi kisah dan berbagi kenangan. Berbagi suka dan duka.

 

Dendang Penari

“Dendang Penari” adalah novel saya yang diterbitkan Penerbit Gita Nagari pada tahun 2003. Seperti halnya “Surau Tercinta”, novel “Dendang Penari” juga bersettingkan kota kelahiran saya, Bengkalis. Buat saya, kota kelahiran itu memang merupakan sumber inspirasi yang seakan tak ada habisnya untuk diceritakan. Betapa tidak. Ke mana pun pergi, dan di mana pun  saya tinggal sekarang ini, apa yang ada di kota kelahiran itu seakan senantiasa terbawa. Senantiasa ada di dalam jiwa, kenangan atau memori kehidupan. Senantiasa terbawa dalam detak langkah. Laut, pelabuhan, pantai, jalan-jalan kota, kelokan-kelokan, lorong-lorong, kampung-kampung, dan beragam warna kehidupan masyarakatnya, seperti terhimpun rapi di dalam buku tebal memori saya. Demikian juga pernak-pernik pola sosial masyarakat, gaya bahasa, tarian, nyanyian, ragam  budaya, adat istiadat, serta banyak hal lainnya, seakan berjejalan di dalam tas, berhimpitan di lemari pribadi, dan kamar tidur saya.

Novel ini sebenarnya bercerita tentang kisah cinta sesaat seorang mahasiswa dengan perempuan joget atau penari grup joget dari suku asli. Si aku, mahasiswa itu, berasal dari Bengkalis yang kuliah di Yogya. Ketika liburan dia pulang ke Bengkalis. Saat pulang, di Bengkalis sedang ada pasar malam. Salah satu stand yang menarik dan disukai pengunjung di pasar malam itu adalah panggung joget. Grup joget yang tampil di panggung itu terdiri dari beberapa perempuan muda, dan pemain musik tradisional. Menariknya, grup joget itu baik para penari atau perempuan joget dan pemain musiknya berasal dari suku asli. Di wilayah Bengkalis memang masih terdapat banyak suku-suku asli, yang tinggal di daerah-daerah pedalaman, terpencil, dan seakan terasing. Karena berasal dari suku asli, grup joget itu pun populer dengan sebutan Joget Hutan.

Nah, si aku, yang ketika masih sekolah di SMP dulu punya pengalaman menarik di panggung joget,  tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk menonton panggung joget di pasar malam itu. Dia pun tak hanya menonton. Tapi naik ke panggung joget, berjoget dengan perempuan jogetnya. Perempuan-perempuan joget itu tak hanya berjoget, tapi juga bernyanyi. Lagu-lagu yang dinyanyikan seluruhnya lagu tradisional Melayu, diiringi permainan alat-alat musik seperti gong, gendang, gitar, biola dan arkodion. Hampir tiap malam dia datang ke panggung joget itu, dan berjoget. Dan, singkat derita dia pun jatuh hati kepada salah seorang perempuan joget, yang di matanya paling cantik. Tapi langkahnya tak mulus, sekali pun perempuan joget itu menanggapi cintanya. Ada seorang pemuda di rombongan grup joget itu yang ternyata diam-diam menaruh hati juga kepada sang perempuan joget. Akibatnya, konflik pun muncul. Bahkan, kekuatan ilmu mejig pun ikut dilibatkan di dalam konflik persaingan cinta tersebut.

Ide atau inspirasi untuk menulis novel ini muncul gara-gara suatu sore saya menerima telepon dari teman lama semasa SMP di Bengkalis dulu. Dia teman akrab, dan teman satu kelas. Karena lama tidak bertemu, kami pun lumayan lama ngobrol di telepon. Percakapan kami pun sampai ke pasar malam. Ha, sewaktu di SMP dulu kami memang punya kenangan ‘gila’ yang menarik di panggung joget.

“Masih sering ada pasar malam di Bengkalis?” tanya saya di percakapan telepon itu.

“Masih….masih. Setiap perayaan HUT Kemerdekaan 17 Agustus, selalu ada pasar malam,” jawabnya.

“Haa, kalau begitu ada panggung Joget Hutan juga?”

“Ya, ada. Sudah berani naik ke panggung joget lagi? Tak takut diturunkan polisi dari atas panggung? Haaaa…..,” tawanya pun berderai di dalam telepon.

Saya pun tertawa. Tawa yang berderai-derai. Teringat kisah ‘kenakalan’ bersamanya di panggung joget semasa SMP dulu.

Begitulah, gara-gara ditelepon teman lama, berkangen-kangen dan bercanda tentang panggung joget lewat telepon, sekitar dua jam kemudian, inspirasi untuk menulis novel mengenai joget hutan itu pun muncul. Inspirasi itu muncul di saat sedang makan malam. Seperti biasa, setiap makan malam selalu saya sertai dengan mendengarkan musik atau lagu. Entah mengapa, malam itu saya sengaja memilih mendengarkan lagu-lagu Melayu asli lewat cd. Mungkin suasana hati masih terbawa pada percakapan lewat telepon dengan teman sekolah saya dulu itu.

Ketika terdengar lagu Tanjung Katung yang kemudian dilanjutkan Cik Minah Sayang, mendadak pikiran saya melayang lagi ke panggung joget atau Joget Hutan, yang sore harinya muncul dalam canda dan tawa di telepon bersama teman lama itu. Lagu-lagu Melayu asli seperti itulah yang dulu sering saya dengar dinyanyikan para perempuan joget di panggung joget. Sontak di tengah makan malam, gagasan atau ide untuk menulis novel tentang Joget Hutan pun muncul. Tak membuang waktu lama, sehabis makan malam, saya pun langsung duduk di depan komputer. Di layar komputer langsung saya ketik dengan hurup kapital dan tebal, JOGET HUTAN.

Sambil tetap terus mendengarkan dendangan lagu-lagu Melayu asli, di bawah judul Joget Hutan itu saya ketik rencana nama-nama tokohnya, dan sinopsis sederhana tentang ceritanya. Dan, di bawah uraian sinopsis sederhana, saya ketik dengan hurup tebal — “Besok, Harus Mulai Ditulis!” Kenapa tidak mulai menulisnya pada malam hari itu juga? Kenapa harus besok? Ya, saya memang menjadwalkan untuk mulai menulis esok hari. Sedangkan malam harinya, saya akan memberikan kesempatan semalam kepada imajinasi saya untuk berkelana pulang ke Bengkalis, melihat lagi tanah lapang yang dulu sering dijadikan tempat pelaksanaan pasar malam, serta menyusuri lorong demi lorong dan jalan-jalan yang dulu sering dilalui.

Benar. Keesokan harinya naskah novel ini mulai saya ketik. Sama seperti halnya “Surau Tercinta”, novel “Dendang Penari” ini pun saya tulis dalam keriuhan kerja. Tidak di saat hening dan sepi. Tidak di malam hari, yang selalu identik dengan kesunyian. Kebetulan ketika itu saya mendapat kepercayaan menjadi pemimpin redaksi Mingguan Magelang Pos, yang terbit di Magelang. Hampir setiap hari saya selalu wira-wiri Yogya – Magelang. Dan, di tengah-tengah kesibukan dan ‘keriuhan’ kerja menggarap media mingguan di Magelang itulah naskah “Dendang Penari” mulai saya tulis. Setiap datang ke kantor di Magelang, saya menulisnya. Dan, setiap hari pula, naskah yang selesai diketik, saya simpan ke dalam cd. Meski ditulis di sela-sela kesibukan dan riuh kerja, naskah novel ini dapat saya selesaikan sekitar tiga mingguan lebih.

Saya seperti tak menemukan kendala apa-apa ketika menulisnya. Semua mengalir begitu saja. Gambaran cerita yang ada di dalam sinopsis sederhana, hampir semua berhasil saya wujudkan dengan mudah. Hanya ada beberapa bagian kecil saja yang dirubah atau ditiadakan, ketika dalam proses penulisannya mendadak muncul hal-hal baru yang lebih menarik. Menurut saya, sinopsis cerita itu memang perlu untuk pegangan atau pedoman dalam membangun atau mengembangkan alur cerita. Akan tetapi, bagi saya tidak ada kewajiban untuk setia dengan sinopsis cerita. Bila di dalam proses penulisannya tiba-tiba ditemukan hal lain atau hal baru yang lebih menarik, sah-sah saja untuk menyimpang dari sinopsis yang sudah ada.

Kenapa semua terasa begitu mudah saya tuliskan? Kenapa seakan tiada hambatan dalam menguraikan cerita? Ya, karena dalam menulisnya, saya seperti sedang bercerita dan menguraikan peristiwa yang terjadi pada diri sendiri. Bercerita tentang diri sendiri, jauh lebih mudah dari pada bercerita tentang orang lain. Kalau bercerita atau menulis tentang orang lain, tentu memerlukan langkah-langkah observasi atau pemahaman tentang apa dan bagaimana orang lain tersebut. Bagaimana karakternya, bagaimana tingkah lakunya dan bagaimana latar belakang hidupnya. Tetapi bila menulis sesuatu yang terasa dekat dengan diri sendiri, seakan-akan terjadi dan dialami, semua dengan mudahnya diperoleh. Karena semua sudah ada di dalam emosi, pikiran, memori dan kenangan diri sendiri.

Betapa berperannya emosi, memori, kenangan dan pikiran saya di novel ini sudah terlihat sejak bagian awal atau alinea-alinea awalnya, maupun pada alinea-alinea lainnya.

GONG!

Gong!

Gong!

Ya, bunyi gong yang mendayu-dayu dari kejauhan itu kembali mengusik rasa ingin tahuku. Kembali menggoda hasratku yang begitu lama terpendam. Tiga hari sudah, sejak kepulanganku ke kampung, setiap sehabis Isya bunyi gong itu menjadi “tamu istimewa” di dalam pikiranku. Apalagi dentang gong yang berirama seperti itu, bertahun-tahun kurindukan dan bertahun-tahun tidak kudengar.

 Di kota asalku, Bengkalis, suara gong yang ditingkahi irama gendang itu bukan lagi bunyi yang asing. Juga bagi diriku, dentang suaranya yang khas sudah sangat kukenal sejak kecil. Setiap ada keramaian, misalnya pasar malam di bulan Agustus yang diselenggarakan dalam rangkaian memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan 17 Agustus, bunyi gong itu seakan menjadi roh kehidupan di kotaku. Suaranya menyelusup dari rumah ke rumah dan menyeruak jauh sampai ke sudut-sudut kampung. (Halaman 1 dan 2).

JOGET hutan, nama ini terasa akrab di telinga para lelaki di kota asalku, Bengkalis. Dari anak-anak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan sampai ke orang-orang tua, rasanya tidak ada yang belum pernah mendengar namanya. Makanya jangan heran, bila setiap kali ada rombongan atau grup Joget Hutan yang menggelar pertunjukan, pengunjungnya pun tidak pernah sepi.

Pasar malam yang sarat dengan aneka pertunjukan dan stan, tetap akan terasa sepi bila tanpa panggung Joget Hutan. Entah menggapa bisa begitu. Tapi yang pasti, belum lagi melihat lenggang-lenggok perempuan-perempuan jogetnya, dentang suara gong yang ditingkahi irama gendang itu saja bagai memiliki kekuatan magis yang mampu menyelusup dari kampung ke kampung dan menggerakkan para lelaki untuk datang menontonnya. Tidak hanya sekadar menonton, tapi juga naik ke atas panggung, dan berjoget. (Halaman 31 dan 32).

Tulisan di beberapa alinea tersebut, sangat jelas menunjukkan betapa emosi, pikiran, memori dan kenangan saya sangat mendominasi dan berperan di dalamnya. Imajinasi saya mengalir, bersenandung atau berdendang dengan riang. Oh ya, pada awalnya novel ini saya beri judul “Joget Hutan”, tapi penerbit punya pandangan yang berbeda. Menurut penerbit judul “Joget Hutan” tidak menggoda dan tidak menjual. Judul itu terkesan kampungan. Penerbit merubah judulnya menjadi “Dendang Penari”. Padahal, emosi, pikiran, memori dan kenangan saya merasa lebih pas dengan judul “Joget Hutan”. Karena judul itu seakan sudah terpatri kuat di dalam emosi, pikiran, memori dan kenangan.

 

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur

Novel “Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur” yang diterbitkan Penerbit EDSA Mahkota, Jakarta, tahun 2005 ini juga tidak saya tulis dalam hening dan sepi. Tidak ditulis dalam kesenyapan dan kesunyian malam hari. Sama sekali tidak. Walau tidak sepenuhnya ditulis dalam suasana riuh,  topi novel ini tetap saya tulis di sela-sela kesibukan kerja pada siang hari, baik di kampus ketika mengajar, maupun saat menggarap media.

Novel ini bercerita tentang suka duka dan perjuangan kehidupan seorang perempuan yang terjerembab dalam kehidupan kelam dengan menjadi pelacur pada sebuah lokalisasi prostitusi di Yogya. Perempuan tersebut adalah janda seorang preman atau gali yang tewas karena operasi pemberantasan kejahatan. Setelah suaminya tewas ditembak, perempuan itu membawa dua anak-anaknya yang masih kecil pulang ke desanya di kawasan Pantura, Jawa Tengah. Setelah beberapa bulan di desa, teman se desanya, yang ternyata juga bekerja di Yogya pulang ke desa. Temannya itu mengajaknya lagi untuk kembali ke Yogya, bekerja. Ia yang sedang berpikir tentang bagaimana membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya tertarik dengan tawaran temannya itu. Ia pun datang lagi ke Yogya. Ternyata temannya itu bekerja sebagai pelacur di sebuah lokasi prostitusi di Yogya. Dan, dia diajak untuk ikut bekerja sebagai pelacur di lokalisasi itu. Pada awalnya ia menolak. Tapi kemudian, demi keinginan mencari dan mengumpulkan uang untuk membesarkan anak-anaknya, maka ajakan itu pun ia penuhi. Ia pun dengan terpaksa memutuskan diri menjadi pelacur.

Maka konflik-konflik batin pun terjadi pada dirinya. Di komplek lokalisasi itu ia bertemu dengan lelaki yang dulu telah menembak suaminya. Lelaki itu mengajaknya ke kamar. Ia marah besar. Lalu, dia bertemu dengan seorang lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan wajah almarhum suaminya. Dan, ia pun berulangkali melayani lelaki itu. Sesuatu yang istimewa pun terjadi. Seorang lelaki, mantan pacarnya di desa dulu, yang masih membujang datang mencarinya di komplek lokalisasi. Lelaki itu sengaja datang jauh-jauh hanya untuk menemuinya. Mereka pun bertemu. Betapa dahsyat kecamuk di dadanya ketika pertemuan terjadi.

Apakah saya melakukan observasi, atau penelitian dalam menulis novel yang berlatar-belakang dunia pelacuran tersebut? Ya, saya memang melakukan observasi dan pengumpulan datanya di lapangan. Tapi itu sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Beberapa tahun sebelumnya saya pernah melakukan investigasi jurnalistik guna penulisan tentang dunia prostitusi di Yogya. Bahan-bahan untuk penulisan itu saya kumpulkan dari sejumlah tempat atau lokalisasi prostitusi di Yogya. Laporan tentang dunia prostitusi di Yogya itu dulu dimuat hampir sebulan. Jadi, ketika itulah observasi, penelitian lapangan atau pengumpulan data-datanya sudah saya lakukan. Apa yang saya peroleh dari observasi dan penelitian itu tidak hanya saya catat di buku catatan, tapi juga tersimpan rapi di dalam file memori saya. Maka ketika akan menulis novel, tinggal membuka lagi catatan-catatan yang ada di dalam file memori saya.

Sekali pun menulis tentang sesuatu yang terjadi dan dekat dengan orang lain, imajinasi saya tetap tak mengalami kesulitan. Imajinasi saya ‘bermain’ dan meliuk-liuk dengan lancar dan cerianya.  Apalagi, saya berhasil menanamkan keyakinan pada imajinasi bahwa saya seolah-olah senasib dan sependeritaan dengan mereka-mereka yang berkubang di kehidupan kelam pelacuran. Terlebih lagi di dalam novel ini, saya memposisikan diri sebagai perempuan malang yang terpaksa menjalani kehidupan di dunia kelam prostitusi.

Saya tidak sia-sia. Imajinasi mengalir lancar. Mood penulisan pun begitu asyiknya. Hal itu, misalnya terlihat jelas dari bagaimana saya membangun gambaran lokasi dan situasi di kamar yang ditempati si perempuan malang dalam melayani tamu-tamu dan menjalani hari-harinya di komplek lokalisasi.

TIDAK banyak yang dapat kuceritakan tentang kamar ini. Kamar yang sudah berbulan-bulan menjadi bagian dari hidupku. Kamar yang dinding-dindingnya telah mencatat semua keluh dan dukaku.

Di kamar kecil ini terdapat satu tempat tidur kayu ukuran dua orang. Lalu, sebuah kaca hias sederhana dengan meja kecil di bawahnya. Di sebelah meja terdapat lemari kecil tempatku menyimpan pakaian. Di sudut kamar, terdapat bak air ukuran kecil yang disekat dengan tembok setengah badan, bagaikan kamar mandi mini tak berpintu.

Dulu, ketika pertama kali masuk ke kamar ini, di dinding terpajang lebih dari lima poster penyanyi dangdut. Ada poster Elvy Sukaesih, Ida Laila, Hamdan ATT dan entah siapa lagi. Dan, di dinding dekat pintu, terdapat tulisan dengan huruf besar dari spidol warna merah – Jangan menangis di sini. Karena air mata tidak akan menolongmu -.

Entah siapa yang memajang poster-poster dan menulis kata-kata penuh arti itu. Barangkali penghuni sebelumku. Atau sebelumnya lagi. Dan, sebelumnya lagi. (Halaman 43 dan 44).

Satu hal sederhana yang bisa saya simpulkan dari pengalaman proses penulisan ketiga novel tersebut, bahwa menulis atau berkarya bisa dilakukan dalam situasi apa pun. Tak hanya dalam situasi hening dan sepi, tetapi juga dalam suasana riuh, penuh keramaian. Bukankah kita sekarang hidup dalam beragam ‘keriuhan’? Jadi, kalau ada penulis yang tak bisa menulis dalam riuh, maka bersiap-siaplah untuk luruh. ***

                                                                                                        Yogya, Januari 2017

(Tulisan ini terhimpun di dalam buku “Njajah Desa Milang Kori – Proses Kreatif Novelis Yogyakarta” yang diterbitkan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2017.)

 

Lihat Juga

Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (1): Ada Dongeng dan Legenda Menjelang Proklamasi

CERITA sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI memang menarik untuk disimak. Apalagi di seputar peristiwa Proklamasi Kemerdekaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *