Selasa , 21 November 2017
Beranda » Film » Menghayati dan Mengkritisi Film

Menghayati dan Mengkritisi Film

Persiapan Nonton PP G.30.S/PKI

DALAM beberapa belas tahun terakhir, setiap September tiba, perbincangan, perdebatan dan semacamnya tentang peristiwa September 1965, keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu saja mencuat ke permukaan dan menghangat. Baik perbincangan tentang ancaman Komunisme, isu bangkitnya PKI gaya baru, maupun suara-suara yang meragukan keterlibatan PKI serta nasib para korban peristiwa berdarah di tahun 1965 itu.

Dan, September tahun ini perbincangan yang menghangat seputar isu Komunisme itu adalah tentang pemutaran kembali film “Penumpasan Pengkhianatan G.30.S/PKI”. Sejumlah pihak merencanakan akan menayangkan kembali film yang disutradarai Arifin. C Noer itu tepat pada malam tanggal 30 September 2017. Bahkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo diberitakan telah memerintahkan segenap jajaran TNI untuk nonton bareng pemutaran film yang disebut sebagai film sejarah perjuangan menumpas G.30.S/PKI tersebut. Tujuannya untuk mengingatkan kembali tentang bahaya dan ancaman Komunisme yang melalui PKI dipandang telah melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara.

Sikap pro-kontra tentang penayangan kembali film “Penumpasan Pengkhianatan G.30.S/PKI” (PP G.30.S/PKI) itu pun bermunculan. Pihak yang pro alasannya pasti dan jelas, untuk mengenang kembali peristiwa pengkhianatan di tahun 1965 yang PKI dianggap terlibat di dalamnya, sekaligus mengingatkan bahaya Komunisme. Sedang pihak yang kontra menyatakan, film itu penuh rekayasa Orde Baru.

Tulisan ini tidak dalam kapasitas memposisikan diri untuk bersikap pro atau kontra terhadap penayangan kembali film tersebut. Karena jika bicara fakta peristiwa yang diangkat di dalam film PP G.30.S/PKI itu memang nyatanya terjadi di akhir bulan September 1965. Ada pengkhiatan terhadap bangsa dan negara, yang mengakibatkan sejumlah petinggi militer terbunuh (mereka disebut sebagai Pahlawan Revolusi). Tapi pengkhianatan itu bisa digagalkan. Terlibatkah PKI dalam pengkhianatan itu? Faktanya, sejumlah elit PKI ditangkap dan terbunuh. Kemudian ribuan anggota PKI ditangkap, dan ditahan.

Film PP G.30.S/PKI merupakan film cerita dokumenter yang dimuat di era pemerintahan Orde Baru. Satu hal yang harus dipahami, pemerintahan Orde Baru muncul setelah pengkhianatan G.30.S/PKI itu berhasil digagalkan, dan yang mengakibatkan PKI dinyatakan sebagai partai terlarang. Sebagai film cerita dokumenter, wajarlah bila film itu memiliki unsur subyektivitas pembuatnya yang kental. Subyektivitasnya adalah PKI/Komunisme itu berbahaya, PKI/Komunisme itu berkhianat terhadap bangsa dan negara.

Bagi yang ingin menayangkan atau menonton lagi film PP G.30.S/PKI itu silakan, karena film tersebut bukan film larangan secara hukum. Bagi yang menolak dan tak ingin menontonnya, silakan, karena hak untuk menolak dan tidak suka itu memang dihargai dalam hukum.

 

Memahami Film

Nah, bagi yang ingin menontonnya, saya hanya ingin berbagi sedikit pemahaman tentang bagaimana seharusnya memahami, menganalisa atau mengkritisi sebuah film, termasuk film PP G.30.S/PKI tersebut.

Seperti halnya karya-karya seni yang lain, film sebagai salah satu media komunikasi dan karya seni juga membutuhkan ‘uluran tangan’ pihak-pihak yang ingin mengamati, menganalisa atau mengkritisi. Diakui atau tidak, keberhasilan suatu film dalam menarik perhatian atau minat masyarakat untuk menontonnya, tidak jarang terjadi karena pengaruh tulisan-tulisan para pengamat, penganalisa dan kritikus film di media massa.

Menganalisa, mengkaji atau mengkritik suatu film bukanlah langkah  mudah. Sebab, sebelum mampu menganalisa dan mengkritiknya, terlebih dulu kita dituntut untuk mampu menghayati film tersebut secara menyeluruh.

Kita tidak hanya harus mampu menghayati jalan atau alur cerita yang disajikan, tapi juga layaknya ‘peneliti’ bisa menyeruak lebih ‘dalam’ untuk menghayati, memahami dan mengetahui semua hal serta unsur-unsur yang mendukung keberadaan film tersebut. Di antaranya: gaya sutradara, unsur-unsur simbolisme dalam cerita, karakterisasi, konflik, setting, komposisi sinematik, editing, peran suara, musik, akting para pemerannya, dan sejumlah hal lainnya.

Janganlah hanya menonton secara sambil lalu dan kemudian cepat-cepat menyimpulkan. Sebab hal itu tidak akan menghasilkan suatu hasil penghayatan dan pemahaman yang dalam terhadap apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh film tersebut ke publik.

Satu hal yang harus dipahami, bahwa pengamat, pengkaji, penganalisa atau kritikus film bisa menjadi penyaring apakah suatu film itu memang layak ditonton atau tidak. Kalau suatu film menyampaikan pesan yang bisa berbahaya bagi kehidupan masyarakat, misalnya menyebarkan ajaran sesat, mengembangkan cara berpikir atau tingkah laku yang merusak, di sinilah para pengamat, penganalisa dan kritikus film harus memainkan perannya. Pengamat, penganalisa dan kritikus bisa memberitahu masyarakat tentang ancaman-ancaman yang merugikan dari film tersebut, sekaligus harus berperan sebagai pelindung dan pembela masyarakat agar terhindar dari bahaya yang diakibatkan tayangan film.

 

Menghayati Cerita

Untuk menganalisa film, langkah awal yang harus dilakukan adalah menghayati ceritanya. Sederhana saja, sebuah film akan menarik perhatian penonton bila ceritanya bagus.

Joseph M. Boggs dalam “The Art of Watching Film” (Cara Menilai Sebuah Film – terjemahan Asrul Sani) menyatakan, sebuah cerita yang bagus itu memiliki sejumlah kriteria, yakni: bisa masuk akal, menarik, mengandung suspense atau ketegangan, ada unsur action, bersahaja tapi sekaligus kompleks, dan menahan diri dalam mengolah materi emosional.

Bisa masuk akal – Logika ‘kebenaran’ atau bisa masuk akal adalah sesuatu yang harus menjadi pegangan bila kita ingin menyelusuri atau ‘masuk lebih jauh’ ke dalam film tersebut. Di dalam film, ‘kebenaran’ itu setidaknya dapat tampil dalam tiga cara, yakni: kebenaran yang secara lahiriah dapat dilihat; kebenaran batin dari sifat manusia; dan kemiripan artistik dari ‘kebenaran’.

Kebenaran secara lahiriah dapat dilihat, merupakan ragam kebenaran yang secara umum banyak ditemukan pada cerita-cerita film. Apa yang diceritakan di dalam film tersebut merupakan hal-hal yang banyak ditemukan atau memiliki kesamaan dengan cerita-cerita yang terjadi di dalam kehidupan manusia.

Kebenaran batin dari sifat manusia adalah ‘kebenaran’ yang dipaksakan untuk hadir, meskipun sesungguhnya tidak selalu ‘kebenaran’ seperti itu terwujud di dalam kehidupan manusia. ‘Kebenaran’ yang disajikan hanyalah semata untuk memberikan rasa senang, puas dan bahagia pada batin penontonnya. Misalnya, ‘kebenaran’ bahwa kebaikan pasti akan selalu mengalahkan kejahatan, orang-orang baik dan benar akan selalu menang sedangkan orang-orang jahat pasti akan kalah. Atau cinta sejati pasti akan mampu menyingkirkan halangan apapun, dan meraih kebahagiaan.

Kemiripan artistik dari ‘kebenaran’ adalah merupakan kepiawaian atau keterampilan pembuat film dalam menjadikan sesuatu yang sesungguhnya berlawanan dengan logika (tidak masuk akal) menjadi tontonan yang ‘dipercaya’ oleh penontonnya. Pembuat film atau sutradara berhasil membawa penonton untuk keluar dari alam nyata dan masuk ke dalam alam imajiner.

Menarik – Cerita film yang bagus adalah cerita yang mampu menarik, mengikat dan ‘memenjarakan’ perhatian penontonnya. Pengertian menarik tentu tidak bisa disamakan kepada beragam sifat dan kecenderungan penonton. Sebab, setiap orang punya sifat dan pilihan berbeda satu sama lain dalam hal jenis film yang disukai. Menarik yang kita inginkan adalah film itu tidak membosankan saat disaksikan.

Suspense (Ketegangan) – Cerita film yang bagus adalah cerita yang mampu menghadirkan unsur suspense atau ketegangan ke hadapan penontonnya.

Action (Gerak) – Cerita film yang menarik harus memiliki unsur action atau gerak. Tetapi, action tidak terbatas pada gerakan fisik seperti berlari,  berkelahi dan lainnya, namun juga bisa bersifat batiniah,psikologis dan emosional.

Bersahaja tapi sekaligus kompleks – Cerita film yang bagus adalah cerita yang mampu tampil secara bersahaja. Bersahaja dalam pengertian tidak berlebih-lebihan. Meski bersahaja tapi cerita itu harus memiliki kompleksitas.

Artinya, cerita itu tidak hanya mampu memberikan sinyal-sinyal atau tanda-tanda kepada penonton tentang bagaimana akhir dari cerita tersebut, tapi juga mampu menumbuhkan atau membangkitkan rasa keingintahuan, takjub, mengejutkan atau hal-hal yang tidak terduga.

Menahan diri dalam mengolah materi emosional – Cerita film yang baik adalah cerita film yang mampu menahan diri dalam mengolah materi emosional. Meskipun emosional penonton merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi sebuah film, tapi cerita film tidak bisa dengan ‘sewenang-wenang’ atau tidak bisa berbuat sesuka hati dalam menarik maupun menguasai emosi penonton tersebut. Cerita film harus mampu menahan diri untuk tidak memanipulasi emosi penonton dengan menempuh cara apapun. Emosi penonton haruslah dimanipulasi dengan cara yang jujur dan sesuai cerita yang ditampilkan.

Demikianlah. Selamat menonton! Atau selamat tidak menonton! **** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Film Awalnya Karya Tiruan Mekanis Berkembang Menjadi Karya Seni

FILM yang ditemukan pada akhir abad ke-19 dan terus berkembang hingga hari ini merupakan ‘perkembangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *