Selasa , 17 September 2019
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Menghadapi Jaman ‘Salah Kaprah’

Menghadapi Jaman ‘Salah Kaprah’

MUNGKIN lantaran banyaknya plesetan di dalam percaturan umum, masyrakat kelihatannya terpeleset ke dalam jaman yang disebut ‘Jaman salah kaprah’. Bangsa yang awalnya berpegangan pada dasar negara yang berorientasi kepada Ketuhanan yang Mahaesa dan mempererat tali persaudaraan lewat persatuan dan gotongroyong, dan akhirnya berkeadilan sosial, nyaris sirna. Bungkus Pancasila malahan berubah menjadi pancadursila. Munculnya perlombaan menuju kekuasaan yang paling tinggi untuk menguasai pihak lain. Lomba mengejar kebutuhan duniawi. Hedonisme tak terperikan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah menomorsatukan kepentingan diri, kelompok, golongan yang amat menonjol.

Plesetan itu tidak hanya di kalangan masyarakat kecil saja, tetapi juga merebak di elit kekuasaan. Anehnya bila itu disinggung di arena panggung lawak malah diketawakan, atau ditepuktangani. Sungguh ironis.

Komisi Pemilihan Umum, sebagai contoh, memang mendapat komisi dari pemilihan umum. Semoga tidak merembet ke komisi-komisi yang lain. Itu kelihatannya lumrah, selaras dengan namanya.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah apabila UUD 45 dipelesetkan dan itu kelihatannya menjadi kenyataan bahwa … anak telantar etc ….dipelihara negara. Seolah-olah kemiskinan itu memang dipelihara, selalu diadakan demi kepentingan penguasa. Itulah sebabnya mengapa muncul, polio, busung lapar, muntaber dan penyakit masyarakat lainnya terus merebak saling bergantian.

Bangsa ini sudah kehilangan sosok yang mendamaikan. Bahkan agamawan dan ulama bukan jaminan membuat tenteram negeri ini. Penampilan agamis, tak menjamin ketenteraman bangsa ini.

Pencapaian Produk Domestik Bruto bangsa ini yang dicekokan bangsa asing menjadi tolok ukur kemajuan bangsa. Bahwasanya leluhur memberikan piwulang luhur untuk mengejar kehidupan material-spiritual yang seimbang tak digunakan lagi. Hedonisme sudah begitu mencengkeram bangsa ini. Oleh karena itu kalau ada segelintir masyarakat yang mengajak ke kehidupan yang baik selaras dengan piwulang luhur leluhur, dianggap ngawur. Itulah kemudian disebut ‘Sing bener ora lumrah. Seperti kejujuran jadi luntur, kerendahan hati, jadi mati. Rasa kemanusiaan manusia Indonesia seolah sirna. Sistem membuat manusia Indonesia mati rasa. ‘Urip tanpa rasa kadya reca’. Ada ungkapan yang unik dari leluhur “Nek arep neng Kediri Liwata Ponorogo’. Apa ini artinya.

Sesungguhnya kalimat ini memuat piwulang adiluhung. Kediri, manusia harus mampu melihat diri pribadinya sendiri, kesalahan, kekurangan, kelebihan, supaya bisa mempunyai kepercayaan diri. Demikian pula Ponorogo merupakan simbol, agar manusia memahami badannya sendiri. Maksudnya manusia tahu asal usul dan tujuan hidup. Tahu ‘Sangkan paraning dumadi’.

Untuk sangu mawas dhiri, manusia cari pegangan. Pegangan itu paling utama tidak lain  “Sumeleh” atau “sumarah-pasrah ing Gusti“, Tuhan- Pangeran yang didalam tradisi Jawa disebut ‘Gusti’, Hyang Manon, Kang Akarya Jagad atau Kang Murbeng Dumadi.

Kepasrahan ini bukan berarti tidak mempunyai upaya. Tetapi bermakna bahwa hidup tidak perlu serakah- ngangsa-angsa, tidak bertindak mengikuti ‘hawa nepsu’.

Sebenarnya langkah orang Jawa itu sangat teliti dan sangat berhati-hati dan dihitung dengan cermat. Lihat saja kalau mau menikahkan anak dihitung tanggal dan bulannya dengan cermat. Mau pindah rumah juga demikian. Mau kerja juga demikian. Semua dihitung. Artinya diharapkan agar tidak tersandung rintangan dan jangan sampai mendapatkan mara bahaya.

Kalau kita pikir kata-kata, ‘terampil, sregep, jujur dan rajin’ semua itu dari kata Jawa. Magang atau ‘nyantrik’ juga dari Jawa. Jadi mencari kepandaian dan ketajaman pikir itu wajib, agar supaya bisa bekerja dengan terampil. Mengupayakan jiwa gar jadi orang yang rajin, jujur dan tekun rajin. Kalau bahasa sekarang menjadi orang yang berdisiplin tinggi. Agar supaya jadi manusia yang hidup  dengan tenteram dan damaim. Semua langkah dan tindak kemudian diserahkan semua kepada Allah.

Ora serik marang liyan, bisa narima ing pandum“, demikian piwulang Bangunjiwa. Tahu bakat sendiri. Kalau tidak bisa naik pangkat lantaran tak cakap, ya tak perlu nyuap atau dengan menggunakan cara-cara yang tidak benar. Bisa menerima nasib dengan lila legawa. Tak diterima jadi PNS, tak perlu neka-neka.

Sabegja-bejane wong lali, isih luwih beja wong sing eling lan waspada“. Semboyan ini sangatlah penting. Umumnya di masyarakat yang suasananya tidak baik, biasanya tidak tahan kalau tidak ikut arus dalam masyarakat tersebut. Kalau tidak ikut-ikutan, kapan kayanya. “Sak jeg jumbleg rak ngarah keturutan, Lha, nek kabeh royokan, rayahan, dadine negara ya kaya saiki iki”. Kalau semua royokan, rayahan, jadi apa negeri ini.

Umumnya di masyarakat kalau tidak ikut arus tidak dianggap aneh. Oleh karena itu marilah kita cancut tali wanda, netepi tata krama adiluhung“, yang diturunkan para sarjana kuna.

Coba kita lihat zaman dulu bisa membangun ‘Borobudur’ dan Prambanan tanpa ‘penangkal petir’. Ratu Sima di Kalingga benar-benar menegakkan tatanan dan hukum negara. Kalau kala itu ada korupsi tak bakal ada sisa peninggalan masa lalu.

Kalau mempunyai tekad besar, dilaksanakan dengan tata cara yang benar, dilandasi dengan kepinteran dan ketrampilan, rajin dan tekun hasilnya dikembalikan kepada Tuhan, hati ini bakal tenteram. Dengan begitu kita bisa ikut membangun dunia dengan semboyan Hamemayu hayuning bawana“.

Hamemayu hayuning bawana, tidak cukup dengan tekad dan semangat. Tetapi perlu dilandhasi ilmu yang benar, dipertimbangkan, dilakoni bersama dalam organisasi. Hamemayu tidak bisa dilakoni sendiri tetapi harus dikerjakan bersama dengan semangat, ‘Holobis kuntul baris’.

Semboyan satu itu memang termasyhur. Setiap manusia Jawa yang terdidik kenal dengan ‘kawruh’-pengetahuan tentang hal itu. Pengetahuan tidak saja khusus untuk orang Jawa, tetapi juga untuk seluruh manusia hidup di jagad raya ini.  Di dalam bahasa agama, upaya untuk membuat bumi ini indah termasuk menjadi kewajiban. Sebaliknya merusak bumi dan atmosfir, dilarang oleh Yang Maha Kuwasa.

Berat memang manusia ikut membuat dunia ini indah, sebab harus menguasai ilmu.

Hamemayu tidak cukup dengan ‘Bonek’- bandha tekat dan mulut. Kalau kita cermati di jaman merdeka seperti ini kok malah banyak kebun terlantar, hutan digundului, sungai dan kali rusak, tanah longsor, air kotor, dan drainage pada buntu. Masalahnya bukan bukan pada mempunyai ilmu atau tidak tetapi punya ilmu saja tidak cukup. Sadar! Ingat! Kalau merusak itu dilarang. Harus ingat bahwa hidup itu bakal enak di tempat yang nyaman juga. Kalau sudah sadar, bumi dan angkasa ditata dengan ilmu.

Itulah semangat tradisi Jawa yang “wani ngrobah sikap bangun patrap’ mengubah jaman. Manusia Jawa berani ‘Mulat sarira hangrasawani, mawas diri’. Kalau salah bukan orang lain yang disalahkan, tetapi diri pribadi yang dicoba dikoreksi.

Biasanya  mulat sarira ditambah dengan kata-kata ‘eling lan waspada’. Ingat akan Yang Maha Kuasa. Lalu merasa , siapa manusia itu. Kalau begitu bisa hidup ‘andhap asor, sumeleh marang Gusti’. Senantiasa sadar terhadap Tuhan Yang Mahaesa.

Ingat terhadap Tuhan tidak hanya punya kepercayaan diri kalau di bumi ini memiliki Allah. Anak kecil pun tahu. Harus disertai kesadaran. Waspada jangan sampai tersesat, dan tidak asal jalan. Kalau ngomong harus tahu siapa yang diajak omong. Semua harus diperhitungkan dengan cermat.

Piwulang Jawa memang mengajak orang ‘Ora Lumrah’. Mengajak ke jalan kebenaran memang tidak lumrah. Tetapi itulah Jawa yang mempunyai ‘jiwa kang kajawi’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *