Beranda » Sastra » Mengenang Yang Tiada Di Bulan Purnama
Ketiga Penyair. (Ft, Ist)

Mengenang Yang Tiada Di Bulan Purnama

Tiga  penyair dari Yogya, masing-masing  Bakdi Sumanto, Teguh Ranusastro Asmara dan Slamet Riyadi Sabrawi, ketiganya sudah kembali ke rumah Tuhan. Tetapi karya dari ketiga penyair tersebut masih bisa dinikmati. Maka,  Sastra Bulan Purnama edisi 71, akan diisi untuk mengenang ketiga penyair tersebut, yang diberi tajuk ‘Mengenang Yang Tiada, Membaca Karyanya’, Selasa, 8 Agustus 2017, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jalan Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Akan tampil membacakann puisi karya-karya ketiganya, ialah Landung Simatupang, Nin Bakdi Sumanto, Bambang Darto, Syam Chandra, Krishna Miharja, Sashmytha Wulandari dan Maria Widy Aryani. Dua putra Bakdi Sumanto, Krishna dan Woody akan mengolah puisi Bakdi menjadi lagu, dan kelompok musik yang dikenal dengan nama ‘Ujug-Ujug Musik’ akan mengolah puisi menjadi lagu.

Nin Bakdi Sumanto, istri Bakdi Sumanto akan membacakan tiga puisi yang sudah dipilihnya dari sejumlah puisi karya Bakdi Sumanto.

“Saya akan membacakan 3 puisi karya mas Bakdi,” kata Nin Bakdi Sumanto.

Landung tidak akan membaca puisi, melainkan akan membacakan cerpen karya Bakdi Sumanto, yang durasinya tidak lama, sekitar 15 menit.

“Supaya tidak semua membaca puisi, saya akan membacakan cerpen karya mas Bakdi Sumanto,” ujar Landung Simatupang.

Dua penyair lainnya, Bambang Darto dan Syam Chandra akan membacakan puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi, dan Krishna Miharja serta Sashmytha Wulandari akan membacakan puisi karya Teguh Ranusastro Asmara. Maria Widy Aryani akan membacakan geguritan karya Bakdi Sumanto.

Dibidang sastra ketiganya memang dikenal sebagai penyair, Bakdi Sumanto, selain dikenal sebagai sastrawan, yang menulis banyak kritik sastra, juga menulis puisi dan cerpen, disamping dikenal sebagai guru besar di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Slamet Riyadi Sabrawi, selain dikenal sebagai dokter hewan, juga seorang penyair dan   wartawan serta aktif sebagai tentor jurnalistik. Sedang Teguh Ranusastro Asmara, selain seorang wartawan sekaligus seorang penyair.

Ketiga  penyair ini, demikian Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menjelaskan, seringkali bersentuhan dengan Tembi Rumah Budaya, terutama dalam kaitannya dengan Sastra Bulan Purnama atau kegiatan lain  dibidang kebudayaan yang diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya.

“Untuk mengenang ketiganya, yang sering datang di Tembi Rumah Budaya, dan juga usul dari teman-teman sastrawan dan sutradara teater, Budi Sarjono dan Puntung CM Pujadi, Sastra Bulan Purnama menghadirkan karya ketiga penyair tersebut untuk dibacakan,” ujar Ons Untoro.

Selain ketiganya, beberapa penyair yang pernah tampil di Sastra Bulan Purnama, dan kini telah kembali kepada Tuhan, bahkan belum genap dua bulan meninggal ialah Budhi Wiryawan. Beberapa nama lain Budi Ismanto, Pedro, Angger Jati Wijaya, Masroom Bara. (*)

Lihat Juga

Jadwal Dimajukan, Festival Budaya Isen Mulang 2018 Dijamin Tetap Meriah

Jadwal Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) dimajukan. Awalnya, even ini akan dihelat 19-24 Mei. Namun, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *