Beranda » Nasional » Mengenang Perjuangan Jenderal Besar TNI Soeharto di Museum HM Soeharto
Patung Museum HM Soeharto (ft. Ist)

Mengenang Perjuangan Jenderal Besar TNI Soeharto di Museum HM Soeharto

BANGSA yang besar adalah bangsa yang menghormati para pahlawannya. Terkait dengan itu maka keluarga besar mantan Presiden RI Soeharto yang diperkuat putra-putri mendiang Soeharto membangun museum Pak Harto.

Memorial Jenderal Besar HM Soeharto atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Pak Harto. Keinginan tersebut akhirnya terwujud bertepatan dengan peringatan 38 tahun Gerakan 30 September 1965 (G30S).

Museum yang megah dan nyaman ini  diresmikan  oleh anak-anak beliau, saudara, dan juga beberapa menteri pada 8 Juni 2013, di  Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Desa Argomulyo merupakan tempat kelahiran Presiden ke-2 RI itu sekaligus tempat di mana museum itu sekarang berdiri dengan gagahnya.

Sedang lokasi museum Pak Harto dari arah timur Kota Yogyakarta, beloklah ke utara perempatan sebelum Universitas Mercu Buana, lurus melewati rel kereta api, ada pertigaan, beloklah ke arah barat atau kanan. Beberapa meter dari pertigaan itu sudah tampak megahnya kompleks Museum Pak Harto sebelah utara.

Pagar dan gerbangnya didominasi cat warna putih, berdiri tinggi, menambah kesan gagahnya seorang Jenderal Besar HM Soeharto. Sebelum masuk ke diorama museum ini, pengunjung wajib mengisi buku daftar. Satu rombongan cukup satu orang yang absen sebagai perwakilan, karena dalam buku itu ditulis jumlah rombongan yang datang bersama.

Menurut Pimpinan Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, H Gatot Nugroho, setiap pengunjung memasuki area museum, maka  akan disambut oleh patung besar Pak Harto, tepat di depan gerbang masuk. Lalu ada patung-patung Pak Harto lain, seperti patung yang menghadap masjid di komplek museum, patung di pendopo, serta patung Pak Harto yang sedang shalat di sisi utara gedung diorama.

Museum ini di desain dengan sentuhan modern. Pintu masuk terbuka secara otomatis, menyajikan rekaman masa kepemimpinan Pak Harto selama 32 tahun di Indonesia. Semakin dalam dan berkelok memasuki museum, nuansa kepemimpinan Pak Harto kian kental terasa.

Foto-foto Pak Harto maupun rekaman sejarah yang berjumlah berkisar 500 buah disajikan secara digital di setiap sudut ruangan dan ikut membawa kita pada zaman beliau. Di bagian tengah gedung diorama, kita akan disajikan dengan cerita seputar Gerakan 30 September yang menewaskan beberapa orang jenderal di Indonesia tahun 1965.

Para korban ini termasuk pula Ade Irma Suryani Nasution, anak seorang jenderal yang ikut terbunuh, meski sang ayah selamat dari peristiwa itu. Inilah sensasi yang kami rasakan di Museum Pak Harto, sensasi memperingati G 30 S.

Sensasi tak lekas sampai di sini. Semakin kita menelusuri museum, maka semakin terbawa pula kita pada kharisma seorang Pak Harto. Pengunjung seolah kembali dibawa pada masa dimana saat-saat beliau masih menjabat sebagai presiden, program-program pembanguan yang beliau laksanakan sampai saat beliau mengundurkan diri hingga wafat dan dimakamkan di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.

Suara instrumen lagu Gugur Bunga yang diputar kala itu menambah kesan akan sosok Pak Harto. Sebetulnya masih banyak sensasi lain yang dapat Anda rasakan bila berkunjung ke sini, termasuk melihat sumur tempat Pak Harto pertama kali mandi saat dilahirkan.

Disamping barat pintu gerbang terdapat relief-relief diorama, relief sa-sa-sa da nada juga stimulasi kehidupan masa kecil HM Soeharto. Setelah masuk museum yang terlihat adalah foto-foto Soeharto beserta sejarah masa pemerintahan Soeharto yang mencapai 32 tahun tersebut. Di bangunan joglo diputar video beserta informasi yang bisa dilihat dan dibaca dalam bentuk computer touchscreen. Bangunan joglo biasanya digunakan untuk istirahat sembari menikmati video-video Soeharto.

Di lingkungan museum juga terdapat sumur tempat Pak Harto pertama kali mandi ketika dilahirkan. Konon katanya sumur tersebut usianya telah 150 tahun dan airnya tidak pernah kering. Di dalam diorama Museum Soeharto ada satu tempat yang unik yaitu sebuah instalasi roll film yang berisi dokumentasi visual gerak tentang perjuangan jenderal Soeharto pada masanya. Di tempat itu jadi tempat favorit wisatawan untuk foto-foto, mungkin karena bentuknya yang unik.  Di dalam diorama ini kita juga bisa melihat foto-foto ketika Pak Harto menerima penghargaan dalam melakukan swasembada pangan. *** (Denadi MY) ***

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

KH Muhammad Jazir ASP, Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta ALHAMDULILLAH, meskipun terlambat, karena masih banyak tugas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *