Selasa , 21 November 2017
Beranda » Seni & Budaya » Mengenal Kitab-kitab Jawa Kuno (1) : “Arjuna Wiwaha” dan “Kresnayana” tak Sekadar Berkisah Tentang Cinta

Mengenal Kitab-kitab Jawa Kuno (1) : “Arjuna Wiwaha” dan “Kresnayana” tak Sekadar Berkisah Tentang Cinta

Khasanah kepenulisan di negeri ini sesungguhnya sudah berusia panjang. Jauh sebelum era modern menyentuh dan merasuki kebudayaan di bumi Nusantara, dunia kepenulisan sudah tumbuh dan berkembang. Bahkan, tak berlebihan untuk menyebutkan bahwa dunia kepenulisan di negeri ini, terutama di Jawa, muncul beriringan dengan tumbuh dan berkembangnya bentuk-bentuk kebudayaan itu sendiri.

Masa kejayaan Kerajaan Kediri yang berlangsung sejak tahun 928, diakui sebagai masa-masa suburnya dunia kepenulisan Jawa kuno. Di masa ini dunia kepenulisan benar-benar telah mendapat tempat yang terhormat. Para raja yang berkuasa di Kediri, dari masa ke masa, senantiasa memberikan ruang kreativitas yang luas. Dan, karya-karya yang dihasilkan para pujangga itu telah dijadikan rujukan atau referensi bagi tatanan kehidupan.

Setidaknya ada duapuluh karya buku atau kitab yang populer di masa Kerajaan Kediri. Keduapuluh buku atau kitab karya para pujangga kenamaan Kediri masa itu meliputi buku Agastya Parwa, Adi Parwa, Asramawasana Parwa, Bisma Parwa, Kunjarakarna, Prasthanika Parwa, Mosala Parwa, Swargarohana Parwa, Sabha Parwa, Udyoga Parwa, Uttara Kanda, Wirata Parwa, Arjuna Wiwaha, Sumanasantaka, Kresnayana, Smaradhana, Bhomakarya, Bharatayuda, Hariwangsa dan Gatotkacasraya. Di samping ke-20 buku atau kitab yang populer ini masih terdapat banyak karya buku lainnya.

Seni wayang atau pewayangan merupakan bentuk kesenian yang populer dan terhormat  di masa itu. Bentuk kesenian wayang ini tumbuh terhormat di dalam lingkungan istana dan berkembang luas di masyarakat. Kepopuleran seni wayang itu pun telah mempengaruhi dunia kepenulisan. Dalam berkarya para pujangga atau penulis masa itu tidak bisa lepas dari seni wayang dengan beragam kisah serta nilai-nilai filsafat kehidupan di dalamnya. Karena itu keduapuluh buku atau kitab tersebut seluruhnya berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia wayang.

Di masa jayanya, Kerajaan Kediri memiliki puluhan pujangga yang menulis karya-karya terkemuka. Tapi di antara sekian banyak pujangga atau penulis itu, hanya beberapa nama saja yang namanya dikenal hingga kini. Di antaranya Empu Kanwa, Empu Triguna, Empu Manoguna, Empu Dharmaja, Empu Sedah dan Empu Panuluh.

 

Arjuna Wiwaha

Salah satu buku atau kitab karya Empu Kanwa yang sangat populer di zamannya adalah “Arjuna Wiwaha”. Buku ini berisi tentang kisah cinta yang penuh tantangan dan ujian antara Arjuna dengan Dewi Supraba. Di dalam buku berbentuk tembang yang ditulis semasa Kediri diperintah Prabu Airlangga (1019-1042)  ini terurai bagaimana jalinan kidan cinta Arjuna dengan Dewi Supraba itu tidak berlangsung dengan mudah.

Untuk mempersunting Dewi Supraba, Arjuna harus terlebih dulu menjalani laku topo atau bertapa terlebih dulu di puncak Gunung Indrakila. Untuk menuju ke puncak Gunung Indrakila saja bukanlah hal yang mudah. Kemudian ketika bertapa pun beragam godaan berdatangan. Godaan-godaan itu tentu saja untuk menggagalkan kekhusukan Arjuna dalam bersemedi. Bila Arjuna berhasil dikalahkan atau terpengaruh dengan godaan-godaan itu maka semedinya pun gagal. Jika gagal dalam bersemedi, maka sudah dapat dipastikan niatnya untuk mempersunting Dewi Supraba pun tidak kesampaian.

Arjuna berhasil melawan godaan-godaan itu, sehingga ia berhasil menyelesaikan semedinya. Akan tetapi ujian baginya belum berakhir di situ. Ujian berikutnya adalah tantangan dari Prabu Nirwatakawaca, raja raksasa yang terkenal sakti mandraguna. Tapi Arjuna pantang menyerah. Cinta telah membakar semangatnya untuk mengalahkan sang raja raksasa itu. Cinta telah menumbuhkan kekuatan yang maha dahsyat dalam dirinya. Kekuatan itu telah mampu mengalahkan Prabu Nirwatakawaca yang kesaktiannya sangat ditakuti di dalam jagad pewayangan.

Buku atau kitab karya Empu Kanwa ini tak sekadar berkisah tentang kisah percintaan Arjuna dengan Dewi Supraba. Tapi kitab ini telah menguraikan serangkaian pedoman kehidupan yang semestinya dijadikan pedoman atau pegangan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Arjuna Wiwaha telah memberikan pelajaran kehidupan yang sangat berharga, bahwa hidup adalah sesuatu yang penuh tantangan. Keberhasilan dalam hidup adalah keberhasilan dalam mengalahkan tantangan itu.

 

Kresnayana

Kisah cinta dari dulu hingga kini selalu menjadi sumber inspirasi bagi para pujangga atau penulis dalam berkarya. Demikian pula dalam karya-karya Jawa kuno, tidak sedikit yang bersumber atau terinspirasi dari kisan-kisah percintaan.

“Kresnayana” yang merupakan karya Empu Triguna berbentuk tembang ini seperti halnya “Arjuna Wiwaha” juga berkisah tentang kisah cinta. Buku atau kitab yang ditulis di masa akhir kekuasaan Prabu Warsajaya (1104) di Kerajaan Kediri ini berkisah tentang kisah percintaan yang penuh liku antara Dewi Rukmini dengan Prabu Kresna.

Dikisahkan di buku ini, Prabu Bismaka yang merupakan raja di Kerajaan Kundina menjodohkan puterinya, Dewi Rukmini, dengan Prabu Suniti, raja Kerajaan Cedi. Tanpa terlebih dulu meminta persetujuan puterinya, Dewi Rukmini, dan juga isterinya, Dewi Pretukirti, Prabu Bismaka langsung menyelenggarakan acara pertunangan.

Dewi Rukmini sesungguhnya tidak menyetujui langkah ayahnya itu. Karena ia sudah punya pilihan hati sendiri, yakni Prabu Kresna. Pilihan Dewi Rukmini ternyata mendapat dukungan ibunya, Dewi Pretukirti. Lantas kedua ibu dan anak ini pun menyusun rencana untuk menggagalkan rencana sang ayah.

Walaupun mendapat penolakan, Prabu Bismaka tetap bertekad melaksanakan niatnya untuk menyelenggarakan acara pernikahan puterinya dengan Prabu Suniti. Acara perkawinan yang megah dan meriah pun disiapkan. Segenap kawula istana disibukkan dengan aktivitas mempersiapkan perhelatan akbar tersebut.

Tetapi ketika perhelatan besar itu akan dimulai, dan rombongan mempelai lelaki, Prabu Suniti sudah hampir sampai di gerbang istana, kegemparan pun terjadi. Sang mempelai perempuan, Dewi Rukmini mendadak lenyap dari dalam Keputren. Ternyata, sebelum semuanya sempat terjadi, Prabu Kresna terlebih dulu melakukan aksinya. Dengan bantuan Dewi Pretukirti dan Dewi Rukmini sendiri, Prabu Kresna menyelinap ke dalam Keputren dan kemudian membawa lari sang puteri.

Pesan apa yang sesungguhnya disampaikan Empu Triguna lewat “Kresnayana”? Secara sederhana saja, kitab ini memberikan pesan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan. Kekuasaan yang seperti apa pun kuat dan kokohnya, tak akan dapat mengalahkan atau merobohkan benteng cinta yang tulus dan suci. Selain itu, tindakan memaksakan kehendak bukanlah sesuatu yang bijak. Memaksakan kehendak adalah tindakan yang tak terpuji. Para orangtua seharusnya menghormati hak dan pilihan anaknya. Memaksakan keinginan kepada anak, bisa jadi memunculkan sikap perlawanan dari sang anak itu sendiri.*** (Sutirman Eka Ardhana)  

 

* Sutirman Eka Ardhana, penyuka budaya Jawa dan redaktur Warta Kebangsaan.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *