Selasa , 13 November 2018
Beranda » Seni & Budaya » Mengatasi Revolusi Peradaban : Mengedepankan Kearifan Nusantara
Cocok Tanam Mesir (foto: salamnaskah)

Mengatasi Revolusi Peradaban : Mengedepankan Kearifan Nusantara

Oleh Ki juru Bangunjiwa

Hantaman dampak globalisasi sebagai akibat berpadunya kekuatan modal besar  dan kemajuan ilmu teknologi super canggih membangunkan alam pikiran manusia terpadu dalam dimensi rasionalitas yang memuja pesona dunia lewat kebutuhan yang penuh kepalsuan. Dimensi rasionalitas itu dikemas dalam tiga sistem utama, yakni  sistem pasar bebas , sistem solial politik demokratis individualis dan sosial budaya lepas bebas. Hal ini pernah dimunculkan oleh analisa Ir Soekarno dalam Indonesia Menggugat 1 Desember 1930  di Peradilan Bandung. Dampaknya tampak dengan berkembangnya sikap dan gaya hidup masyarakat hedonis, individualis, pragmatis , materialis dan narsis.

Serbuan ini menohok langsung peradaban bangsa termasuk Indonesia, terutama pada aspek nasionalisme, sosial budaya, kearifan lokal , adat dan tradisi, agama serta spiritualis.  Globalisasi melunturkan nilai dan semangat nasionalisme bangsa dan negara, mengobarkan separatisme dan disintegrasi, memecah belah, menghancurkan militansi rakyat, dan mencipta kesenjangan sosial ekonomi serta menyuburkan konflik horizonal dan vertikal. Di bidang sosial, globalisasi menggelorakan narkoba, sex bebas dan sex sejenis,dan mengobarkan budaya hidup hedonis, individualistis, pragmatis, materialistis dan narsistis, merusak serta menghancurkan tata nilai keluarga, kebersamaan-gotong royong, serta merusak moral masyarakat, kebudayaan, adat tradisi dan kearifan Nusantara.

Dalam aspek agama dan spiritualisme globalisasi meluluhlantakkan nilai moral spiritual dan kesalehan hakiki, melibas tradisi dan kearifan yang memperkuat spiritualisme dan agama, serta mencipta dan menyuburkan aliran aliran sesat, serta sekularisme secara khusus serta mendorong radikalisme. Kita bisa merasakan bagaimana pola pikir perilaku, gaya hidup dan peradaban masyarakat yang kini masuk dalam jiwa pragmatis, hedonis, individualis, materialis dan narsis. Masyarakat berubah menjadi egois. Menurut seorang pakar politik dikatakan memuja diri sendiri dengan semboyan “Kaya dan berkuasa dalam tempo sesingkat singkatnya”.

Dampak Globalisasi mau tidak mau harus kita antisipasi. Sebagaimana pandangan Prof Dr M Sahari Besari, sistem nilai serta struktur sosial masyarakat kita tidak terkonstruksi mengakomodasi ataupun melawan gelombang dahsyat globalisasi. Oleh karenanya perubahan tata nilai hedonis tadi bukan sekadar revolusi mental, melainkan revolusi budaya, revolusi peradaban yang merupakan keharusan mendesak. Karena pada dasarnya tata nilai hedonis tadi adalah krisis moral  atau bahkan krisis peradaban yang membawa bangsa ini masuk kedalam pusaran multidimensi yang besar berat dan kompleks.

Kita tak mungkin lagi menghindar dari globalisasi. Oleh karena itu kita harus bergerak cepat, tepat dan memadai untuk melawan, paling tidak bertahan atas serangan alunan musik jiwa yang meninabobokan kita akan pesona dunia.

Satu potensi besar masyarakat yang bisa digalang secepatnya melakukan pertahanan semesta menghadapi serbuan globalisasi, adalah masyarakat adat dan budaya, termasuk Kraton Nusantara. Masyarakat ini selaku pengemban amanat kearifan leluhur, perlu bangkit menggalang kekuatan bersama merajut kembali serta mengembangkan peradaban Nusantara, untuk mewujudkan Nusantara sebagai negeri maritim yang aman, tenteram,adil makmur, sejahtera dan jaya. Para pemuka dan tokoh masyarakat perlu menghidupkan kembali budaya serta kearifan lokal suku bangsa Nusantara yang hidup rukun, damai, penuh toleransi, gotongroyong dan unggul dalam seni dan ketrampilan. Sementara para ulama membumikan ajaran dan kesalehan umatnya dalam berbagai kegiatan dan perilaku amal saleh, bukan sekedar kesalehan formal.

Oleh karena itu langkah pertama yang perlu ditempuh menemukenali, menghimpun dan mengkonsolidasi gerakan atas segenap potensi tradisi, kearifan dan budaya Nusantara. Gerakan ini bertujuan demi mewujudkan Nusantara berlandaskan peradaban negeri maritim yang aman tenteram, adil makmur, sejahtera dan jaya sentosa bercirikan; rakyat multi etnis, agama, dan golongan, yang hidup harmonis dalam suasana kebhinekatunggalekaan, yang berdiri sederajat dengan bangsa lain di dunia dalam suatu tatanan dunia yang menjunjung tinggi kesetaraan dan nilai nilai kemanusiaan. Rakyatnya cerdas, berjatidiri, berbudaya dan berahklak mulia. Tatanan masyarakatnya berkeadilan sosial dan hukum secara taat azas. Tatanan politiknya menjunjung tinggi sistem perwakilan/permusyawaratan yang ditandai terwakilinya suku/etnis, adat budaya golongan, agama dalam lembaga legislatif dan MPR. Ciri terakhirnya pemerintahannya dikelola birokrat yang bersih, bersemangat pengabdian dan disiplin tinggi serta amanah. Dengan hidup berlandaskan Pancasila, pilarnya UUD 45, atapnya NKRI, aturannya  UU dalam Bhineka tunggal ika menahan laju ancaman dampak globalisasi dan membangun peradaban dunia yang semakin luhur dan bermartabat yang pantas dilestarikan.

*) Ki Juru Bangunjiwa adalah penulis buku dan pelaku budaya tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul Yogyakarta.

Lihat Juga

Mengenang Rendra di Sastra Bulan Purnama

Kali ini, Sastra Bulan Purnama 85 akan diisi untuk mengenang Rendra, seorang penyair dan aktor …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.