Selasa , 20 November 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Menganyam Bleketepe Melepas Anak Awali Hidup Berumahtangga
Jokowi pasang bleketepe jelang resepsi Kahiyang-Bobby (ft. dok. allseasons-photo)

Menganyam Bleketepe Melepas Anak Awali Hidup Berumahtangga

Membaca Lambang di Balik Jokowi Mantu

Menjelang hari H nya digelar upacara,  di depan rumah dipajang berbagai macam ritual tradisi yang berupa memajang berbagai simbol dari daun dan buah..

Biasanya pasang janur atau tarub dilakukan dua hari sebelum hari H. Selain daun muda kelapa atau janur yang berarti dianing nur, mohon berkat kepada Sang Pembuat hidup atau terang, di depan pintu masuk rumah  di pasang berbagai hiasan dari daun-daunan yang semuanya itu kalau dibaca mencuatkan lambang. Atau lebih jelasnya sebagai pitutur atau nasihat hidup.

Di depan pintu kanan dan kiri dihias dengan berbagai daun dan buah pisang. Disamping cara menghiasnya harus enak dipandang mata, juga buah dan daun yang dipasang diharapkan makin mempercantik ruangan. Selain itu nasihat yang muncul pun perlu dipertegas dan diperjelas.

Yang dinamakan tarub adalah mempercantik dan memperindah rumah agar sedap dipandang mata.  Menganyam blarak bleketepe, dan memasang tambahan rumah dengan memasang terpal dan payon guna membuat para tamu terlindungi dari panas dan hujan. Maknanya si empunya hajad tengah menganyam awal kehidupan di masa tuanya. Atau darma orang tua harus mengawinkan anaknya.-Darmaning bapa mengentaskan anak dengan mengawinkannya.

Sementara dedaunan yang dipasang semuanya mengandung lambang nasehat kehidupan. Orang Jawa menggunakan kata tetuwuhan, tumbuhan maknanya hidup ini bertumbuhkembang tidak statis. Harapannya hidup manusia baik siempunya hajad maupun yang hendak dikawinkan juga tumbuh berkembang. Dan perkembangannya pun harus berkembang ke arah kehidupan yang baik mulia jangan sampai terjerumus ke jalan yang salah.

Sedang buah yang menyeruak adalah pisang raja dua tandan, maknanya agar berindak bak raja yang memerintah dengan adil, agar rakyatnya bersujud dan kehidupan raja pantas diteladan dan disimak. Oleh karena itu pisang yang dipasang pun pisang raja talun yang tengah menguning, ibarat kencana atau emas. Kalau tidak salah juga ada setandan buah pisang Kepok yang berarti cukup sekali saja menjadi raja sehari maksudnya kapokl.

Simak juga:  Marsudi Mardawaning Laku Jantraning Jagad

Selanjutnya dipasang batang tebu yang berarti harapan dengan bersemboyankan kemantapan jiwa, antebing kalbu, pria dan wanita yang membangun kehidupan baru meski selalu hidup di dalam keprihatinan , tetapi diharapkan untuk tepat kuat dan teguh sampai tujuan hidup bersama.

Sementara cengkir gading memberikan peringatan agar di dalam berkarya di  masyarakat hanya berlandaskan tekad kuat dalam ulah pikir- kencenging pikir, jangan hanya senang dipuja namun harus sampai dirasa merasakan kemuliaan.

Juga dua ikatan padi yang yang tengah menguning dan dipilih bulir-bulir yang penuh melambangkan cukup sandang dengan bukti isinya penuh lantaran berkarya dengan kerja keras dan hasilnya disimpan sebagai cadangan hidup.

Otek canthel tidak dilupakan, artinya kekayaan jangan sampai dihabiskan, tetapi harus disisakan disimpan yang rapi supaya nantinya kalau membutuhkan tidak lagi susah dan membuat putus asa.

Daun kluwih melambangkan harapan agar hidupnya mendapatkan kelebihan-keberuntungan–  begja, pintar kaya dan terkenal. Dan didalam kehidupan bermasyarakat mempunyai kepercayaan diri yang kuat dan tidak minder.

Sedangkan daun apa-apa mengingatkan agar keluarga lepas dari aral dan halangan, tetap rukun yang dilandasi atas cinta sejati dituntun kepasrahan kepada Hyang Maha Kasih dengan laku keutamaan.

Lambang munculnya daun alang-alang sebenarnya harapan yang dicapai jangan sampai terhalang oleh aral melintang, sehingga harapan dan cita-cita keluarga bisa terwujud bagaikan kapal yang berlayar menempuh samudra kehidupan sampai di pelabuhan.

Daun kara melambangkan ilmu, agar hidupnya jangan sampai terbuang sia-sia. Bisa hidup dengan tepat bertindak cepat dan tepat, omongannya diatur, tindakannya ditata supaya tidak membuat orang lain sakit hati.

Di selipin juga daun maja yang memberikan peringatan bahwa kehidupan berumahtangga itu ada paitnya juga disamping yang manis-manis. Oleh karena itu entah manis entah pahit menempuh kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat seharusnya tetap kuat dan teguh jangan sampai patah semangat dan kalah. Kalau bisa harus berpegang, Tumetesing kacuwan dadiya rerentenging kanugrahan.

Simak juga:  Ajaran Kehidupan Lewat Sesaji

Didukung juga daun girang , diharapkan kehidupannya senantiasa mendapatkan kegembiraan hati yang terpancar dalam kehidupan sehari-hari. Gembira lahir batin, lantaran kecukupan harta benda dan ketenteraman lahir batin.

Daun pohon beringin juga disertakan di dalam hiasan di samping kanan kiri pintu masuk melambangkan tumbuh berkembangnya keluarga bisa menjadi pengayoman, perlindungan bagi keluarga dan masyarakat. Juga menjadi perlindungan bagi mereka yang tengah kesusahan. Berdekatan dengan keluarga ini diharapkan bisa ayom, ayem dan tenteram.

Di samping daun-daunan tadi juga disertai dengan janur atau daun muda kelapa yang dirangkai bak sulur dengan harapan agar kehidupannya senantiasa disenangi oleh tetangga dan masyarakat, sampai tujuan kehidupannya tercapai dan terlaksana.Sempulur rejekine, sempulur rumah tanggane, sempulur uripe. Itulah makna dari pajangan tarub di depan pintu masuk perhelatan yang penuh dengan pitutur luhur yang semuanya berorientasi kepada kesalamatan hidup lahir batin.

 

Sarat Simbol

Masyarakat Jawa mengenal berbagai macam daun dan tumbuhan sebagai sarana pengobatan berbagai macam penyakit. Demikian pula melegenda adanya dedaunan tau tumbuh-tumbuhan yang terbukukan dalam ‘Makna Simbol Tumbuh-tumbuhan, suatu Kajian terhadap Serat Salokapatra’. Mitos tersebut diungkap sebagai dasar kehidupan sosial, budaya, tindakan serta sikap manusia. Artinya lewat mitos ini, manusia selalu bertatakrama atau bertingkah laku selaras adat istiadat yang telah berlaku di lingkungannya.

Dalam sebuah hajatan misalnya, dedaunan diyakini dan dijadikan simbol lewat rangkaian kembar mayang. Selain simbol kembar mayang juga berperan sebagai penolak bala agar tidak diganggu oleh makhluk jahat. Kembar mayang ini dalam tradisi ritual pengantin di Surakarta dilakukan tersendiri, sementara untuk gagrak Yogyakarta biasanya diikutsertakan dalam upacara panggih. Kembar mayang ini nantinya dibuang tidak jauh dari tempat pertemuan penganten, dimaksudkan agar tidak ada mahkluk jahat yang mengganggu prosesi yang tengah berlangsung.

Simak juga:  Kelengkapan Srana Pasrahing Penganten

Kembar mayang terdiri dari janur-daun kelapa muda, yang ditancapkan pada sebatang pelepah pisang. Hiasan kembar mayang dijadikan hiasan saat pernikahan agung Sembadra dan Arjuna dalam pentas wayang kulit.

Hiasan dalam kembar mayang tersebut kebanyakan dari bahan janur yang dirangkai dalam berbagai macambentuk. Seperti gunung. Maksudnya agar mempelai pria harus punya banyak pengetahuan dan pengalaman, seperti tingginya sebuah gunung. Selain itu pula, dalam membentuk mahligai perkawian harus sabar. Bentuk hiasan seperti keris menyimbulkan kebijakan, pandai serta berhati-hati dalam menjalani kehidupan yang baru dibina.

Hiasan pecut dan payung, bermakna agar tidak mudah putus asa dan menjadi pembawa kedamaian keluarga dan masyarakat. Diharapkan pula agar kedua mempelai selalu optimis dan cepat tanggap terhadap setiap masalah yang dihadapi dalam berkeluarga. Biasanya disimbolkan dalam bentuk hiasan belalang dan burung.

Jenis dedaunan lainnya yang sering digunakan sebagai simbul berupa daun beringin, daun kruton, dadap srep, dlingo bengle, dan bunga patra manggala. Yang menurut Suryo Negoro simbol beringin bermakna agar kedua mempelai melindungi keluarga serta orang lain. Daun kruton agar terlepas dari godaan jahat. Semakna dengan simbol daun dlingo bengle yang sering digunakan sebagai obat infeksi. Sementara daun dadap srep, untuk melambangkan kejernihan pikiran dan selalu tenang dalam menghadapi masalah keluarga yang dialami. Untuk memperindah sekaligus menolak perbuatan jahad disimbolkan lewat bunga patra manggala. Yang perlu diingat dan diketahui dalam penggunaan kembar mayang ini hanya digunakan oleh mereka yang menikah untuk yang pertama kali.(Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Marsudi Mardawaning Laku Jantraning Jagad

Membaca Lambang di Balik Jokowi Mantu Orang jadi penganten ibarat sebagai raja yang diwisuda, sehari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.