Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Menentukan Arah Hidup Dalam Aras Jawa

Menentukan Arah Hidup Dalam Aras Jawa

Jawa  yang saya pakai di sini dalam penertian arif bijaksana selaras makna asli Javana  bukan sekadar etnik, suku Jawa. Oleh karena itulah orang Jawa senantiasa mengejar ketenteraman hidup dengan keselarasan baik dengan alam, sesama dan Penciptanya. Dengan ketenteraman hidup bisa dicapai segalanya dengan mudah. Dalam upaya menggapai ketenteraman hidup landasan  yang bisa kita laksanakan  adalah memberikan amal bukti kebaikan kepada sesama. Hal ini terjadi karena manusia meyakini hidupnya adalah belas kasih dan anugerah Sang Pencipta sendiri. Dengan begitu sebenarnya manusia Jawa ingin menyebarkan keharuman tindakan Ilahi yang memberikan anugerah kepada manusia dan manusia haruslah mewujudkan itu juga dengan menyebarkan keharuman nama. Dengan demikian terpancar  kebaikan Allah dalam diri manusia. Karena Jawa yakin hananira sejatine wahananing Hyang– adanya manusia sebenarnya wahana hadirnya Sang Pencipta sendiri.

Oleh karena itulah tekad kita harus diselaraskan dengan tekad manusia Jawa  yang hanya ingin menyebarkan keharuman rahmat  Ilahi yang termanivestasikan dalam kehidupan dengan melakukan amal bukti kebaikan terhadap sesama  hidup, entah itu kepada alam, manusia dan Tuhan (Aku- alam- Allah).

Tekad itu dijalankan dengan laku kehidupan  yang dilandasi dengan hati yang baik dan tulus yang terpancar lewat raut muka yang manis, yang senantiasa dikedepankankan, atau selalu berpikiran positif, tidak pernah curiga kepada siapapun, meski orang itu dipandang sebagai saingan. Juga lewat cara dan bobot pembicaraan yang menawan. Segala kata yang diucapkan adalah kata-kata yang indah, tidak pernah menyakiti orang, bahkan mengajak kepada hal-hal yang baik,  membuat orang menjadi baik, baik dalam karya maupun dalam tingkah laku. Boleh dikatakan bahwa cara berbicaranya bagaikan ustad, meski dia bukan seorang dai.

Simak juga:  Darmogandhul, Pesan Islam dalam Pemahaman Jawa

Bahkan untuk mengkritik manusia  Jawa mencari jalan terbaik supaya tidak menyakiti.  Seupama isterinya menghidangkan kopi yang terlalu manis, komentar yang keluar dari mulutnya : Wah kopinya enak ya, namun akan lebih nikmat kalau gulanya dikurangi. Sebagai bukti satunya  tindakan dan ucapan serta tekad dilandasi dengan  laku keutamaan. Apa itu laku keutamaan .

Utama adalah hidup yang penuh aturan. Karena berpegangan pada tata aturan yang dimaui bersama. Entah aturan masyarakat, agama ataupun dalam negara.

Sikap mentaati peraturan dijadikan pusaka bermasyarakat. Aturan permainan yang disepakati bersama dalam masyarakat beradab harus dihormati dan dipegang teguh. Menjalankan aturan hidup itu haruslah dengan toleran. Kalau mau hidup bersama harus bisa bertenggang rasa di dalam masyarakat. Itulah Jiwa jawi luhur. Itulah jiwa dan semnangat Jawa yang indah

Kalau tidak mau disakiti ya jangan menyakiti orang. Mengupayakan orang lain senang. membuat orang bahagia . Di sinilah letaknya ketika  orang menyatakan  rugi sedikit tapi untung dapabanyak saudara, artinya lebih mementingkan persaudaraan daripada harta benda duniawi-intinya pada kerukunan.

Laku keutamaan ini di masing-masing agama, negara, maupun masyarakat mempunyai kriterianya sendiri-sendiri, tetapi yang jelas adalah memberikan amal bukti kebaikan kepada sesama hidup. Tentu hal ini tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak disertai dengan menjaga kewibawaan hidup. Menjaga nama baik

Menjaga nama sama dengan mendirikan kewibawaan nama.

Nama diri perlu di jaga kehormatannya, karena ini merupakan pusaka nama yang mesti diperjuangkan .  Mewibawakan Nama agar terpandang .

Simak juga:  Pasar Beringharjo, Dulu Terindah Di Jawa

Nama yang berkibar  senantiasa hidup di hati masyarakat . Dengan nama baik segudang karena darma bakti kepada masyarakat, menjadi dikenal dimana-mana.

Dan nama yang berwibawa ini  membawa rejeki yang empunya nama.

Nama yang baik akan membawa rejeki yang banyak. Itulah harapan mengapa ketika orang tua memberi nama senantiasa di Jawa diberi jenang. Bukan sebaliknya. Orang mengejar jenang, tetapi lupa mewibawakan nama. Hal ini dilandasi pada semangat Jawa . semangat ini merupakan cita-cita luhur orang Jawa.      Di era yang penuh iming-iming duniawi, kita didorong untuk meninggalkan hal-hal batiniah, yang sebetulnya mendorong manusia menjadi manusia yang utuh.

Manusia pada dasarnya memiliki hakikat yang kompleks, dan dituntut untuk senantiasa mengendalikan bagian tersebut agar bekerja secara harmonis selaras dan seimbang. Disebut di dalam manusia ada bagian yang lebih rendah yakni pancaindera dan yang lebih tinggi yakni akal budi. Kedua hal ini harus dipertahankan secara harmonis.

Kemampuan yang rendah mengabdi kepada kemampuan yang lebih tinggi. Apabila ini tak terlaksana terjadilah pemberontakan dalam kodrat manusia. Keselarasan ini tidak saja ada diri manusia, tetapi juga di luaran dirinya. Konsep Aku-alam-Allah mendasari pemahaman ini. Dalam setiap pertentangan antara berbagai hubungan, maka hubungan dengan Allahlah yang senantiasa dinomorsatukan, baru kemudian dengan sesama manusia. Oleh karena itulah muncullah pemahaman ‘Surodiro Jaya, jayaningrat, lebur dening pangastuti’. Bahwa segala tindakan manusia itu harus dilandasi dengan sikap arif, lembut dan rendah hati, bukannya dengan kekerasan. Kekerasan akan lebur dihadapi sikap yang rendah hati dan bijaksana dalam bingkai cinta kasih. Selamat merenung. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Abad Samudera dalam Angan-angan

YOGYAKARTA memasuki abad samudera, meski hanya mempunyai secuil Samudera Indonesia yang sangat Luas. Konon di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *