Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Hukum » Sang Advokat (1) Aprillia Supaliyanto, MS, SH: Menegakkan Kebenaran Wujud Nasionalisme
Aprillia Supaliyanto MS, SH (Ft: Ist)

Sang Advokat (1) Aprillia Supaliyanto, MS, SH: Menegakkan Kebenaran Wujud Nasionalisme

MULAI hari ini Warta Kebangsaan akan menampilkan sejumlah sosok advokat di Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama yang berkaitan dengan sikap atau pandangannya tentang hukum dan nasionalisme atau kebangsaan. Advokat merupakan salah satu unsur dalam sistem peradilan di mana pun, termasuk di Indonesia. Karenanya, advokat yang eksistensinya sudah diatur di dalam UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tersebut, juga merupakan salah satu pilar dalam penegakan supremasi hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Dan, sosok pertama yang ditampilkan adalah Advokat Aprillia Supaliyanto, MS, SH yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Kongres Advokat Indonesia (KAI).

***

 

Aprillia Supaliyanto MS, SH (Ft: Ist)
BERPIHAK kepada kebenaran merupakan sikap serta pegangan atau komitmen yang sejak dini sudah tertanam di dalam jiwa advokat Aprillia Supaliyanto, MS, SH. Sejak masih kanak-kanak, lelaki yang dilahirkan di Ponorogo, Jawa Timur, pada 24 April 1964 ini, sudah dididik dan ditempa oleh sang ayah, Marrikan Martowiyono (alm), untuk senantiasa menghargai serta berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran.

Sikap dan prinsip-prinsip yang sudah dimiliki sejak dini itu ternyata sangat berperan besar dalam perjalanan hidupnya kemudian. Setamat dari SMA Negeri I Ponorogo di tahun 1983, ia kemudian kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Lantas, setelah berhasil meraih gelar Sarjana Hukum di tahun 1989, dunia kepengacaraan atau dunia advokat dipilihnya menjadi pilihan hidup.

“Pada dasarnya setiap orang pasti mencintai kebenaran. Akan tetapi tidak semua orang punya kesempatan untuk berbuat atau melakukan sesuatu secara nyata demi menegakkan kebenaran dan keadilan itu. Menurut saya, pekerja hukum, termasuk advokat, merupakan profesi yang memberikan peluang atau kesempatan besar bagi seseorang yang ingin berbuat nyata dan positif bagi tegaknya kebenaran. Atas dasar itulah saya tertarik untuk menggeluti dunia kepengacaraan atau dunia advokat ini. Apalagi profesi advokat terasa begitu pas dengan jiwa saya yang menggandrungi kebebasan. Tapi ingat, kebebasan yang saya maksud adalah kebebasan yang bertanggungjawab dan tidak terlepas dari norma-norma hukum,” ungkap Aprillia Supaliyanto ketika mengemukakan kenapa ia tertarik menggeluti dunia profesi advokat, di kantornya Jl Janti, Yogyakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, profesi advokat sesungguhnya merupakan profesi yang terhormat. Karena, profesi ini memiliki komitmen yang sangat besar terhadap setiap langkah perjuangan menegakkan kebenaran dan hukum, Namun diakui atau tidak, sesalnya, masih ada advokat yang tidak memahami sepenuh hati prinsip-prinsip dasar dari profesi yang digelutinya.

Simak juga:  Sang Advokat (2) Aprillia Supaliyanto MS, SH: Pekerja Hukum Harus Bermoral Tinggi

“Apa pun alasannya, setiap advokat maupun pekerja-pekerja atau praktisi-praktisi hukum lainnya tidak boleh berpaling dari kebenaran. Maka akan tercelalah apabila ada advokat atau pekerja-pekerja hukum yang dalam melaksanakan tugasnya telah berpaling dari kebenaran demi mencapai tujuan-tujuan tertentu. Berjuang menegakkan kebenaran merupakan wujud dari sikap nasionalisme kita terhadap hukum di negeri ini. Atau dengan kata lain, menegakkan hukum secara benar merupakan bagian dari sikap nasionalisme itu sendiri. Sikap untuk menegakkan hukum dan tidak berpaling dari kebenaran hukum, juga merupakan wujud nyata dari sikap kebangsaan kita,” ujar Aprillia lagi.

 

Bukan Ladang Bisnis

Era globalisasi memang telah mempengaruhi berbagai sektor kehidupan. Keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya semakin terasa. Sektor hukum misalnya, semakin memiliki peluang untuk merambah atau berperan dalam sektor-sektor lainnya. Seperti sektor pengembangan teknologi, perhubungan, komunikasi, perindustrian, perbankan, perdagangan, pelayanan kesehatan, serta pembangunan perekonomian dan banyak lainnya lagi.

Kondisi semacam itu, menurut Aprillia Supaliyanto, jelas akan sangat berpengaruh terhadap dunia pelayanan hukum atau profesi advokat. Advokat yang peka serta tanggap dengan beragam perkembangan dewasa ini akan memiliki peluang besar untuk mengembangkan aktivitas profesinya. Untuk itu selain peka dan tanggap, setiap advokat harus memiliki keahlian yang lebih spesialisasi lagi.

Ia mengemukakan, bila advokat tidak peka dan tanggap dengan perkembangan yang sedang terjadi, maka sudah dapat dipastikan tidak akan mampu mengantisipasi berbagai gejolak dan dinamikan kemajuan pembangunan di berbagai sektor sekarang ini. Bila tidak mampu mengantisipasinya, maka karier advokat bersangkutan tak akan dapat berkembang. Karier profesinya akan tertinggal jauh dengan perkembangan pesat yang sedang terjadi di sekitarnya.

Advokat yang mampu mengantisipasi perkembangan di era sekarang, diyakini Aprillia akan mengalami ‘pelonjakan’ menggembirakan dalam perjalanan profesinya. Namun, tambahnya, ‘pelonjakan’ yang menggembirakan itu harus pula ditanggapi atau diterima dengan sikap mawas diri. Sebab, bila tidak mawas diri, seorang advokat bisa terseret pada sikap serta perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan dalam kerja profesinya.

“Sikap mawas diri ini bukan mengada-ada. Ini sesuatu yang penting untuk dipahami. Perkembangan dewasa ini bila tidak disikapi dengan mawas diri, bisa membuat seorang advokat tergelincir menjadikan profesi advokatnya sebagai ladang bisnis yang menggiurkan. Harus ingat, profesi ini bukan ladang bisnis. Bila seorang advokat telah menjadikan profesinya sebagai ladang bisnis, maka ia telah mengkhianati nilai-nilai moral serta prinsip-prinsip dasar profesinya. Lebih dari itu, berarti juga telah mengkhianati sikap nasionalisme dan rasa rasa kebangsaannya di dalam hukum. Jadi, perkembangan-perkembangan menggembirakan dalam era globalisasi itu, janganlah ditanggapi justru dengan menjadikan dunia pelayanan hukum sebagai ladang bisnis. Sikap semacam ini sangat berbahaya, karena dapat menjauhkan hukum dan keadilan dari jangkauan tangan-tangan lemah. Dan, hukum pun bisa menjadi sesuatu yang mahal,” jelas Aprillia Supaliyanto, yang kini dipercaya sebagai Sekjen dalam DPP Kongres Advokat Indonesia (KAI) periode 2014-2019 yang dipimpin H Tjotjoe Sandjaja Hernanto SH, MH selaku Presiden.

Simak juga:  Sang Advokat (2) Aprillia Supaliyanto MS, SH: Pekerja Hukum Harus Bermoral Tinggi

Menjadikan jasa pelayanan hukum dalam profesi advokat sebagai suatu ladang bisnis, dipandang Aprillia akan dapat memporak-porandakan bangunan-bangunan moral hukum yang selama ini diperjuangkan dan ditegakkan kewibawaannya. Selain itu deretan kata-kata suci “Sekalipun langit runtuh, keadilan tetap ditegakkan” hanya akan menjadi slogan hukum yang sia-sia. Karena akan sia-sialah berhrap keadilan dapat ditegakkan, bila kepentingan ‘bisnis’ lebih berperan dari kepentingan hukum itu sendiri.

 

Masih Banyak Kendala

Sepanjang perjalanannya dalam kerja profesi advokat sejak 1992, Aprillia melihat sampai hari ini masih banyak kendala yang menghadang dalam proses penegakan hukum. Menurutnya, tanpa mengenyampingkan masih adanya aturan-aturan hukum yang sudah tertinggal dengan perkembangan-perkembangan yang ada, kendala itu lebih banyak datang dari persoalan moral oknum-oknum yang terkait di dalamnya. “Misalnya, ada oknum yang sengaja memperdaya pencari keadilan atau kliennya dengan sasaran hanya mengeruk uangnya, tapi menterlantarkan perkaranya. Atau oknum-oknum lainnya yang dengan secara sadar mempermainkan serta melecehkan wibawa hukum,” katanya.

Bagi Aprillia Supaliyanto, persoalan moral setiap pekerja hukum merupakan permasalahan penting yang harus diperhatikan dan dicermati bila ingin menyaksikan pembangunan dan penegakan hukum berjalan lancar serta mencapai sasaran yang didambakan. Apabila moral segenap pekerja hukum benar-benar berpihak pada keadilan dan kebenaran, maka hukum akan tampil sebagai sesuatu yang berwibawa, disegani dan pengayom bagi setiap pendamba keadilan. ***(Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Sang Advokat (2) Aprillia Supaliyanto MS, SH: Pekerja Hukum Harus Bermoral Tinggi

APRILLIA Supaliyanto memandang masalah moral merupakan persoalan penting dalam kerja profesi advokat. Tak hanya advokat. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *