Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Mencermati Legenda Keris Secara Cerdas
Keris Sengkelat (foto: net)

Mencermati Legenda Keris Secara Cerdas

LEGENDA atau dongeng selalu menyertai keris. Legenda keris memang mengandung maksud. Dongeng atau legenda bisa jadi punya maksud menjunjung tinggi harkat si empunya keris atau kerisnya sendiri. Oleh karenanya masyarakat pecinta tosan aji perlu cerdas menangkap legenda tersebut. Jangan sampai jatuh dalam mistifikasi yang keliru. Sebagai contoh Drs kisah empu Gandring yang tertulis dalam buku Pararaton. Buku itu sendiri baru muncul sekitar 200-300 tahun setelah Singasari sudah tidak ada, yakni zaman Majapahit.

Kisah keris empu Gandring bisa jadi bukan kisah sejarah kronologis, tetapi interpretasi situasi masyarakat dalam ‘pepindhan’ keris. Sebab keris mengemban sebuah muatan sejarah, tangguh. Hal ini menjadi kian nyata ketika ditemukan prasasti bahwa Ken Arok itu tidak mati dibunuh tetapi mati tua. Demikian pula Anusapati, anak Ken Dedes. Toh Jaya pun bukan lagi raja Singasari tetapi kerajaan lain. Keris dalam pertumbuhannya bukan lagi sebagai senjata pembunuh, tetapi sudah menjadi simbolisasi kehidupan masyarakat.

Oleh karena itulah keris empu Gandring perlu dipahami secara benar bukan sebagai keris fisik, tetapi makna simbolisasinya yang perlu ditangkap.

Keris dibuat dari paling tidak 3 bahan utama seperti besi, baja dan pamor. Ditempa empu dalam suasana doa, dan perlu waktu dalam proses menyatu. Oleh karena itu keris ibarat masyarakat Singasari yang terjadi dari berbagai lapisan masyarakat, suku, agama, dll. Untuk mempersatukan masyarakat ini perlu waktu dan tokoh pemersatu yang dipercaya semua golongan. Dan Empu Gandring tampaknya dipersonifikasikan sebagai tokoh pemersatu.

Siapa empu Gandring juga menjadi misteri. Nama Gandring mungkin mempunyai arti tersendiri dalam wacana budaya waktu itu. Kerisnya sendiri digambarkan berpegangan Ri Cangkring. Padahal Ri Cangkring ini bila dipegang akan menimbulkan luka pada pemegangnya. Oleh karena itu bila keris ini dicari bentuk fisiknya mungkin sampai kapan pun tidak bakal ditemukan. Dan menurut Drs Budihardjo keris Empu Gandring merupakan ‘pepindhan’ saja.

Demikian pula yang terjadi dengan keris Condong Campur yang dikabarkan bisa melesat ke angkasa dan menebar mala petaka. Legenda ini perlu ditangkap secara cerdas.

Tampaknya menangkap legenda dengan cerdas ini juga disarankan oleh Serat Anduporo karya R Ng Surodipo. Kisah seperti Joko Tingkir, Joko Tarub dan lain sebagainya perlu ditangkap secara cerdas bahwa legenda itu bukan menceritakan apa adanya, tetapi mengkisahkan fakta historis tetapi dengan kacamata penghormatan kepada pribadi yang dikisahkan.

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *