Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Mencari dan Membangun Ide Penulisan
Mempersiapkan penulisan (Ft: izwie.com)

Mencari dan Membangun Ide Penulisan

IDE merupakan ‘senjata utama’ bagi wartawan (jurnalis), dan juga penulis, baik itu penulis fiksi maupun non-fiksi. Artinya, sehebat dan sehandal apapun seorang wartawan atau penulis, tanpa memiliki atau mendapatkan ide, maka ia tidak akan mampu menulis satu tulisanpun.

Kerja kewartawanan dan kepenulisan selalu berpangkal pad ide. Bahkan, menurut Kurniawan Junaedhie (1993), bagi wartawan, ‘ide adalah panglima’.

Nah, saya ingin bicara soal wartawan atau jurnalis dulu. Setidaknya saya ingin berbagi pengalaman tentang dunia yang sudah saya geluti sekitar 40-an tahun lebih. Wartawan yang ideal, setidaknya menurut pemahaman saya, adalah wartawan yang gencar dan rajin mencari serta memburu ide. Dan, bukan wartawan yang hanya menunggu ‘berita dari langit’.

Wartawan penunggu ‘berita dari langit’ adalah wartawan yang pemalas dan tidak kreatif. Wartawan tipe ini hanya menunggu datangnya undangan dari suatu instansi atau lembaga-lembaga tertentu untuk menghadiri ‘jumpa pers’ atau meliput suatu acara yang ingin dipublikasikan kepada masyarakat luas. Serta menunggu kalau-kalau ada berita yang ‘jatuh dari langit’.

Berita-berita ‘dari langit’ adalah berita-berita yang sifatnya spontan dan di luar dugaaan. Misalnya, musibah jatuhnya pesawat, bencana banjir, kebakaran, kecelakaan lalulintas, pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.

Seandainya tidak ada undangan ‘jumpa pers’ atau undangan meliput acara tertentu serta ‘berita dari langit’, maka wartawan yang ‘tak kreatif’ itu tidak bergerak ke mana-mana. Ia hanya diam dan gelisah menunggu di kantor, sambil berharap-harap ada peristiwa atau kejadian yang akan terjadi hingga bisa dijadikan berita, serta berharap ditugaskan redakturnya untuk menemui suatu sumber berita. Akibatnya, ia tidak membuat atau menulis sepotong berita pun.

Jadi, janganlah menjadi wartawan yang hanya menunggu datangnya undangan peliputan, menunggu undangan ;jumpa pers’, menunggu ditugaskan redaktur, dan menunggu jatuhnya ‘berita dari langit’. Tapi, jadilah wartawan yang kreatif dan gencar mencari, menggali serta membangun ide.

 

Ide Ada di Mana-mana

Masih sering terjadi dalam setia rapat proyeksi (rapat perencanaan dan penugasan wartawan) ada wartawan yang mengatakan tidak punya proyeksi apa-apa karena tidak tahu harus mencari informasi berita ke mana.

Wartawan yang seperti itu adalah wartawan yang di benaknya hanya ada hamparan kosong dan tidak punya ide apa-apa. Bahkan ia sama sekali tidak mengerti ke mana harus mencari ide untuk penulisan berita.

Padahal ide ada di mana-mana. Tidak sedikit pula ide tersebut terdapat di tempat-tempat yang terkesan ‘tidak penting’ atau ‘tak berarti’.

Ide dapat ditemukan di pasar, perkampungan, kawasan pemukiman, pusat perbelanjaan, angkutan kota, terminal bus, stasiun kereta api, perpustakaan, kantor kecamatan, ruang seminar, rumah sakit, puskesmas, komplek prostitusi, hotel, ruang pameran, museum, pasar malam, dan banyak lainnya lagi.

Bahkan dari hal-hal yang sederhana, ide pun dapat ditemukan. Misalnya, dari surat pembaca, selebaran, brosur, iklan, sampai barang-barang bekas dan terkesan ‘tak berharga’ di pasar loakan.

Simak juga:  Menulis itu Indah dan Menyenangkan

Pasar – Pasar merupakan pusat berkumpulnya banyak orang dari berbagai lapisan status social. Karena di pasar orang-orang akan mendapatkan beragam keperluan hidupnya. Dari keperluan akan sandang sampai pangan. Dari keperluan atau kebutuhan perawatan diri sampai racun-racun pembasmi serangga dan tikus.

Wartawan yang kreatif dan peka, akan mendapatkan banyak ide tulisan (berita) dari dalam pasar. Di tengah-tengah suasana hiruk-pikuk serta kesibukan para pedagang dan pembeli itu akan ditemukan banyak ide cemerlang dan menarik untuk bahan tulisan (berita).

Jangan disangka di dalam pasar hanya terdapat informasi berita tentang bisnis atau ekonomi saja. Beragam potret social dan persoalan kehidupan lainnya dapat ditemukan di dalampasar, hingga bisa dijadikan ide penulisan, baik untuk penulisan berita biasa, maupun feature.

Informasi jika di pasar banyak copet, janganlah dipandang sebagai informasi yang sederhana. Informasi itu tentu dapat dijadikan ide yang menarik untuk membuat tulisan, misalnya tentang “liku-liku percopetan di pasar”, “kenapa banyak perempuan menjadi copet di pasar?”, “dalam seminggu berapa banyak uang yang tersedot copet?”, “suka-duka pencopet cilik di pasar”, dan lain-lain. Atau, barangkali akan diperoleh pula ide untuk menulis “derita para korban copet”.

Jika ingin menjadi wartawan yang sedikit ‘usil’, cobalah simak dan cermati, apakah di dalam pasar hanya berlangsung bisnis jual-beli beras, bisnis cabai, bisnis sayur-mayur dan bisnis kain batik saja? Apakah tidak ada bisnis lainnya yang menarik? Misalnya, bisnis seks?

Perkampungan – Perkampungan juga merupakan sumber ide bagi wartawan. Suatu kampung jangan hanya dilihat sebagai kawasan tempat tinggal sejumlah penduduk dari beragam lapisan dan status social masyarakat saja. Sejumlah pesoalan yang selalu dirasakan oleh warga di kampong itu dapat digali untuk dijadikan tulisan yang menarik. Misalnya saja, soal sampah. Jangan dikira sampah yang selalu menumpuk di ujung jalan kampung itu juga termasuk ‘sampah’ untuk berita.

Suatu hari Anda terpaksa harus menutup hidung rapat-rapat ketika berjalan dekat tumpukan sampah di ujung jalan kampung. Kalau Anda tipe wartawan yang tidak kreatif, Anda tentu akan buru-buru menghindar dari sengatan bau sampah itu seraya mengumpat-umpat.

Tetapi jika Anda adalah tipe wartawan yang kreatif dan selalu ‘ingin tahu’, Anda tentu tidak begitu saja berlalu pergi. Anda tentu berpikir untuk mencari sisi-sisi menarik dari tumpukan sampah itu yang barangkali bisa dijadikan ide penulisan.

Setidak-tidaknya Anda mendapatkan ide untuk mengetahui, berapa truk atau berapa ton sampah yang dihasilkan penduduk di kampung tersebut dalam sehari? Ide-ide lainnya seputar sampah itu yang bisa muncul antara lain berapa banyak pengeluaran warga atau penduduk kampung untuk sampah tersebut. Misalnya, untuk pembuangan sampah itu setiap kepala keluarga (KK) ditarik dana Rp. 5 ribu per bulan. Bila di kampung itu terdapat 50 KK, maka dalam setiap bulannya warga kampung tersebut mengeluarkan uang Rp. 250 ribu untuk sampah.

Simak juga:  Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga "Ke-indonesiaan"

Dan, jika Anda ingin, Anda bisa membawa atau mengembangkan persoalan sampah itu lebih meluas lagi, tidak hanya sekadar di kampung tersebut, tapi juga di kota. Anda dapat menghitung berapa besar anggaran yang dikeluarkan warga kota hanya untuk sampah. Hitungan sederhananya, jika satu kampung saja dikeluarkan uang sebesar Rp. 250 ribu per bulannya, maka untuk satu kota yang mempunyai 50 kampung akan ‘tertarik’ uang dari warga kota sebanyak Rp. 12,5 juta.

Anda juga bisa melacak ke mana sampah-sampah itu dibuang? Ke TPA (tempat pembuang akhir) sampah atau di pinggiran desa yang sepi? Lantas menarik juga untuk diketahui, bagaimana derita masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar TPA sampah. Akibat-akibat apa yang mereka alami, karena pembuangan sampah itu? Seandainya sebagian besar penduduk yang tinggal di sekitar TPA sampah itu menderita ‘sesak napas’ atau di tempat tinggal mereka berkeliaran ribuan lalat,ini tentu sebuah ide tulisan yang mearik juga.

Brosur atau Selebaran – Brosur atau selebaran kadangkala menyimpan ide yang cemerlang. Misalnya, ketika sedang jalan-jalan, Anda mendapatkan brosur atau selebaran tentang telah dibukanya suatu ‘toko batik’ baru. Di selebaran itu ada penjelasan tentang tersedianya beragam macam dan jenis batik, dari batik-batik tulis ternama, batik-batik tradisional sampai batik ‘cap’.

Ide apa yang Anda temukan dari brosur atau selebaran pembukaan ‘toko batik’ baru tersebut? Anda boleh saja tertarik untuk menulis profil ‘toko batik’ baru itu, dan perannya dalam usaha pengembangan serta pengenalan batik secara lebih luas lagi. Jika soal itu yang ingin ditulis, Anda hanya akan menghasilkan berita atau tulisan  yang ‘biasa-biasa’ saja. Soal pendirian took-toko baru bukan hal yang ‘luar biasa’ dan istimewa. Sebab, setiap saat bisa terjadi.

Coba Anda lihat batik-batik tulis yang indah dan menarik itu. Harganya pasti tidak murah. Tapi, bagaimana dengan penghasilan para pekerja, atau buruh pembatiknya? Apakah hasil mereka untuk ‘membatik’ satu lembar kain batik tulis itu seimbang dengan harga jualnya di took? Dan, sepadankah pendapatan mereka dengan keuntungan besar yang diraih pemilik took atau penjualnya?

Nah, jika ide sudah didapatkan, Anda tinggal membangun ide tersebut menjadi suatu tulisan yang ‘layak baca’ dan ‘layak jual’. Anda tidak hanya bisa menghasilkan tulisan berupa berita langsung (straight news) yang menarik, tapi juga feature yang mempesona dan menggoda pembaca. Atau bahkan Anda bisa mengembangkan ide tersebut untuk dijadikan berita atau reportase yang sifatnya investigative report, participle report, serta interpretative report. ***

Lihat Juga

Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga “Ke-indonesiaan”

DALAM sebuah perbincangan, saya mengatakan bahwa menulis akan membuat hidup menjadi lebih berarti. “Buktinya?” tanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *