Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Menanti Jawaban Rumput Yang Bergoyang

Menanti Jawaban Rumput Yang Bergoyang

Sebuah peringatan Jawa berbunyi; ‘Nalika ati suci, jagad kandha marang janma kang sujana, bab gelar jati kang winadi‘. Ketika hati manusia suci, dunia ini membeberkan kepada orang yang ‘maneges‘-mencari tahu, tentang kehidupan sejati.

Seperti yang terjadi akhir-akhir ini fenomena alam begitu mempesona dan mengagetkan. Manusia lalu mencoba mengotak-atik. Ada yang mencoba untuk ‘maneges’. Ada yang sampai pada kesimpulan bahwa gempa berturut-turut di bumi Indonesia ini merupakan sebuah peringatan dan percobaan bagi manusia bahwa alam juga merupakan kebesaran Tuhan dan itu tidak terbatas. Oleh karena itulah manusia tidak harus mengkerdilkannya dalam sebuah bangunan. Tengara ini amat jelas terlihat pasca gempa. Kalau masyarakat kita mau jujur sekarang ini masyarakat tersekat di dalam buatan manusia sendiri. Seolah-olah Tuhan juga disekat-sekat dalam pemahaman yang sempit. Meski di mulut manusia mengungkap Allah Maha Besar, tetapi didalam tindakannya selalu tersekat oleh pemikirannya sendiri. Manusia mengurung Tuhan di dalam kata-kata dan bangunan seperti gereja, masjid, Pura, candi dan lain sebagainya, dan seolah-olah kebesaran Tuhan itu tidak boleh keluar dari kungkungan bangunan yang dibuat oleh manusia sendiri. Seolah-olah hanya di situ ada Allah. Malahan ada yang menjadi alah-alah kecil yang berani menghakimi orang lain. Bahwa keyakinan dirinyalah yang paling benar. Orang lain pasti salah.  Agama belum menjadi ‘ageming aji’, tetapi masih menjadi aksesori. Orang baru mempunyai agama, tetapi belum menjalankannya dan membudayakannya di dalam kehidupan bermasyarakat.

Disadari atau tidak tindakan manusia juga sering terkungkung dalam pemikirannya yang sempit. Padahal secara terucap seringkali ucapan bahwa Tuhan itu maha kuasa atas dunia ini selalu muncul dari mulutnya.

Fenomena alam itu menyadarkan kembali akan hakikat kebesaran Tuhan yang tidak ada batasnya. Di alam pun Tuhan bersimaharaja. Gempa bumi, Gunung meletus tsunami, merupakan bukti kebesaran Tuhan. Kemudian fenomena pelangi, teja batang, teja kurung, ataupun teja-teja lainnya yang menyiratkan segala firasat bahwa manusia harus siap siaga menerima segala kehendak Yang Kuasa. Oleh karenanya manusia perlu menyiapkannya. Mempersiapkan kehidupan yang baik merupakan langkah yang utama.

Situasi alam yang kurang bersahabat sudah menjadi santapan manusia Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Ini bisa dilihat semenjak jaman Merapi meletus tahun 1006.

Kehebatan orang Jawa khususnya dengan mahakaryanya yang spektakuler seperti Candi Borobudur membuat manusia Jawa seolah ingin menguasai dunia. Jangan dianggap bahwa ilmu yang dikuasai manusia Jawa ketika itu tidak mendunia. Ilmu Jawa sudah sampai di manca negara dengan bukti adanya universitas jaman dulu yang disebut Jhanabadra. Namun sedihnya bersamaan itu terjadi pula sebuah kesengsaraan rakyat yang diakibatkan oleh kekuasaan yang saat itu menginginkan sebuah mahakarya yang dahsyat sebagai perolehan ulah pikir manusia Jawa. Maka lahirlah candi Borobudur yang bisa jadi menelan kurban rakyat kecil yang diminta kerja paksa untuk membangun bangunan yan spektakuler itu. Oleh karena itu bukan tidak mungkin masyarakat kecil lari ke Jawa Timur. Terjadilah ketidak seimbangan antara kekuasaan manusia Jawa dengan lingkungannya termasuk kawula alit. Rakyat ditekan. Alam dibabat, akibatnya keselarasan alam berubah maka Merapi meletus 1006 yang mengakibatkan Borobudur rusak berat. Bencana bagi orang Jawa dianggap sebagai sebuah peringatan akan adanya ketidaklarasan dalam hidup bermasyarakat. Ketidak larasan itu juga akibat tingkah laku manusia sendiri yang terlalu pongah akan kecerdikannya.

Setelah Borobudur hancur, masyarakat Jawa mulai sadar bahwa ulah pikir itu perlu tetapi tetapi bukan nomor satu. Kemudian lahirlah kesadaran akan adanya ulah rasa dan ulah jiwa. Inilah sebabnya di Jawa Timur meski tidak ada candi yang segede Borobudur tetapi terlahir hasil olah jiwa dan rasa Jawa yang bernama Negara Kertagama, Sutasoma, Arjuna Wiwaha, Jangka Jayabaya dan lain sebagainya. Lalu hasil olah pikir manusia Jawa bagaimana? Semua kemudian disimpan menjadi rahasia kraton. Hanya orang-orang tertentu yang boleh mengembangkannya atas seizin raja. Seperti ilmu keris, ilmu pertanian dan ilmu-ilmu lainnya tersimpan dan hanya dikenali oleh kelompok atau orang-orang tertentu. Keseimbangan lahir batin menjadi tumpuan hidup sejarah manusia Jawa khusunya dan Nusantara pada umumnya. Hal ini terjadi pada zaman Majapahit. Kesadaran akan hidup bijak mewarnai kehidupan manusia Jawa.

Hancurnya Majapahit disamping juga karena perang saudara juga dipungkasi atau diakhiri dengan adanya tsunami atau bencana alam yang tercatat dalam sekar dadanggula. Meski hal itu tidak tercat dalam sejarah Majapahit.

Begitu juga ketika Ibukota Mataram dipindah dari Pleret ke Kerta bisa jadi juga akibat terjadi bencana alam gempa. Hanya tidak pernah terungkap dalam catatan sejarah. Gempa, tsunami, atau bencana alam dan bencana politik sebenarnya amat kental mewarnai kebudayaan masyarakat Jawa.

Bukan sebuah kebetulan kalau manusia Jawa kemudian merakit kata-kata bijak yang merupakan pengalaman dasar hidup bermasyarakat. Seperti bhineka tunggal ika tan hanna dharma mangrwa, merupakan kebijakan hidup Majapahit ketika terjadi gempa politik akibat perbedaan agama dan suku serta kelompok yang terjadi di Majapahit. Fenomena ini diambil oleh leluhur menjadi semboyan negara Republik ini. Dengan begitu sebenarnya para leluhur bangsa ini sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa fenomena alam dan politik menjadi terjangan yang bisa sewaktu-waktu menimpa bangsa ini. Sayang kearifan manusia Jawa dulu itu dianggap tidak modern dan dinilai kuna. Yang modern yang datang dari mancanegara, akibatnya keluhuran nilai-nilai budaya Jawa tersingkirkan. Dan kemudian muncul dengan sangat fenomenal ketika terjadi bencana lagi.

Manusia Jawa, dan Indonesia umumnya tidak begitu sadar bahwa nilai-nilai bermasyarakat itu sudah termanifestasikan dalam semangat kebersamaan yang tertera pada Pancasila. Kalau diperas nilai yang terkandung dalam Pancasila itu adalah semangat tepa selira dan Gotong royong. Hanya masalahnya semuanya lupa lantaran terlelap oleh silau kilaunya materialisme dari manca yang begitu menarik. Akibatnya kekayaan bumi sendiri yang sudah dijalani dengan sangat arif ditinggalkan dan ditanggalkan, bahkan dicoba untuk dibuang, lantaran dianggap tidak bermutu.

Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senapati kembali menggunakan Mataram sebagai sebuah wacana hidup bahwa hidup harus didasaskan pada Mataram-mata arum, hati nurani. Hidup harus seimbang lahir batin. Dasar spiritual begitu kental dalam jaman ini. Kemudian dilanjutkan oleh Sultan Agung dan pewarisnya.

Sultan Hamengku Buwono I mendasarkan pembuatan kotanya berdasarkan semangat Trihita Karana-Parahyangan-pawongan-palemahan (Allah-aku-alam). Ketiganya harus dalam keseimbangan lahir batin. Garis imajiner merupakan inti hidup manusia bahwa harus mengupayakan keselarasan lahir batin antara kehidupan spiritual dan kehidupan duniawi.

Para pendiri bangsa kemudian mengambil makna dari semangat para leluhur untuk mendasari kehidupan bersama agar sentausa. Maka yang mengemuka seperti Pancasila, Merah Putih, Bhineka Tunggal Ika, tan hanna dharma mangrwa, menjadi pedoman hidup. Masalahnya adalah tidak tersosialisasi dengan baik dan malahan dianggap menghalangi penguasa  yang akan bertindak seenaknya terhadap masyarakatnya. Akibatnya banyak yang diselewengkan atau diplesetkan.

Kalau kita mau jujur masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia umumnya sudah sangat akrab dengan bencana, baik itu alam ataupun politik. Dan bagaimana bersikap juga sudah dicanangkan dalam semangat Pancasila, yang intinya tepa salira dan gotong royong. Kalau itu mau ditegaskan kembali sebaiknya kaum elit politiklah yang harusnya menyadari hal itu. Tanpa pemahaman di tingkat elit politik hanya akan menjadi salah persepsi terhadap kekuasaan. Bahwa kekuasaan di Indonesia itu dibatasi oleh Pancasila. Padahal Pancasila mengatur hubungan bermasyarakat agar selaras serasi seimbang dalam bernegara dan berbangsa.

Masyarakat tidak perlu resah terhadap fenomena alam, karena itu sudah sangat akrab, yang perlu dipersiapkan adalah menggunakan hidup yang baik, ‘nyebar ganda arum’ membuktikan bahwa hidup itu hanya merupakan perwujudan memberikan bukti kebaikan kepada sesama hidup dan rasa yang indah. ‘Aweh bukti becik, lan rasa resep.

*) KI Juru Bangunjiwa Pelaku Budaya tinggal di Bangunjiwa

Lihat Juga

Angkringan, Warung Nasionalis dan Ajang Silaturrahim

SALAH satu ciri khas Yogya adalah warung angkringan. Dan, salah satu ciri khas angkringan selain …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.