Selasa , 21 November 2017
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VIII: Memperkokoh Toleransi

Diskusi Kebangsaan VIII: Memperkokoh Toleransi

Diskusi Kebangsaan ke-8 dari Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta memilih tema “Kebangsaan Dalam Memperkokoh Toleransi” dirasakan sangat tepat. Ketika pada saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan dan masalah yang sangat krusial. Masalah yang menghadang perjalanan bangsa ini tidak berdiri sendiri.Saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Yang bila tidak segera dicarikan solusinya dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Masalah yang dimaksud adalah yang berhubungan dengan toleransi. Terasa semakin ke depan yang subur bermunculan adalah sikap hidup egoistik. Penyalah gunaan kekuasaan yang berujung pada korupsi merupakan salah satu bentuk sikap egoistik itu. Operasi tangkap tangan (OTT) terhadap beberapa oknum penyelenggara Negara sangat jelas menunjukkan sikap intoleran terhadap kepentingan rakyat.

Sebenarnya kesadaran akan adanya ancaman ini bukan tidak diketahui dan dicermati oleh para pihak pemangku kepentingan. Pemerintah dengan segenap jajaran serta aparat keamanan Negara sudah tidak kurang melakukan pencegahan. Sebut saja aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang saat ini sedang berhadap-hadapan dengan Panitia Angket DPR RI tidak pernah kendor dalam mengemban tugas memberantas koruptor. Sampai di mana ujung dari operasi KPK ini mari kita tunggu dengan kesabaran.

Maka untuk membedah masalah-masalah krusial ini, PWSY menghadirkan tiga nara sumber yang sangat berkompeten di bidangnya. Mencoba mengurai problematikanya dan sekaligus mencoba menawarkan solusinya. Para nara sumber tersebut adalah: Prof Dr Sudjito SH MSi (Guru Besar Fak Hukum UGM), Prof.DrH.Amin Abdullah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga) dan Drs.HM Idham Samawi (Anggota DPR RI).

 

Klitih di Yogya

Sungguh sangat mengagetkan dan serasa menyentak kesadaran kita ketika Ka Polsek Wirobradjan Kompol Endang dalam forum diskusi menyampaikan fakta-fakta memiriskan hati. Para pelaku klitih di Yogya meski daerah Wirobradjan sebagai samplenya,mereka mengaku tidak merasa bersalah melakukan klitih. Ketika anak-anak remaja yang telibat klitih tersebut diinterogasi aparat Polri,mereka menjawabnya sangat enteng. Biasa-biasa saja tanpa merasa bersalah apalagi berdosa. Wah,apakah ini bukan sesuatu yang sudah tergolong gawat. Anak-anak remaja harapan pemimpin masa depan sejak usia dini sudah kehilangan pegangan etika dan moral. Terlebih lagi hal seperti ini terjadi di Yogya.

Hampir sama kekagetan kita ketika ibu Kompol Endang secara gamblang menyebutkan bahwa pengikut organisasi yang dibubarkan pemerintah belakangan ini cukup banyak di Yogya.Yang lebih mengagetkan disebutkan,bahwa para mahasiswi justru terdeteksi jumlahnya lebih banyak ketimbang mahasiswa. Seandainya hal ini benar ,sudah mengisyaratkan Yogya lampu kuning dalam hal toleransi.

 

Alami stagnan ?

Bila kita masih saja berkutat dengan persoalan-persoalan seperti dikemukakan di atas,berarti kita benar-benar mengalami stagnan untuk melangkah maju. Dunia sudah melesat maju meninggalkan kita di berbagai hal. Mari kita sadarkan diri,bahwa persoalan toleransi ini merupakan kekuatan yang amat besar dalam merajut rasa kebangsaan. Mulailah dari diri kita masing-masing. Amalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Semboyan Bhineka Tunggal Ika mengikat kita sebagai bangsa yang memang multi dalam berbagai hal. Pertahankan NKRI dengan UUD 1945 nya.

Semoga dikabulkan doa kita !

 

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *