Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Memburu Wahyu Keprabon  
Ilustrasi (foto: net)

Memburu Wahyu Keprabon  

Pemahaman perburuan Wahyu Keprabon di masa lalu, sekarang ini kadang dimaknai keliru oleh sebagian masyarakat, bahkan juga masyarakat Jawa sendiri. Oleh karena itu ketika Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan siap menjadi salah satu calon presiden di republik ini pada pemilu mendatang, banyak orang bertanya-tanya, laku spiritual yang bagaimana yang dilakoni oleh Sri Sultan memburu wahyu keprabon istana kepresidenan.

Banyak orang berpikiran agak unik ketika melihat Sultan maju sebagai calon capres. Malahan ada juga yang menghubung-hubungkannya dengan laku keutamaan para pendiri kraton Mataram.seperti Panembahan Senopati ketika mengejar wahyu keraton Mataram. Yang menonjol ketika perjuangan Panembahan Senopati memburu Wahyu keprabon Jawa, lebih dipahami sebagai lakutapabrata di tempat-tempat seni semacam gunung, pantai, gua dan tepi laut kidul. Padahal dalam tulisan pujangga Jawa dengan jelas dipaparkan perjuangan sang Senapati dilaksanakan dengan nyata dan membumi.

Sangat jelas dipaparkan dalam Wedhatma pada Sinom termuat anak kalimat:” amemangun karyenak tyasing sesama’, artinya senantiasa berbuat demi menyenangkan hati orang lain, tidak malah menyakiti, tidak memaksakan kehendak. Sedangkan dalam Wulangreh lebih ditegaskan lagi perjuangan Panembahan Senopati dalam mendapatkan “Wahyu Keraton Jawa” Tapane nganggo alingan, pan padha alaku tani, iku kang kinarya, sasap, pamrihe aja ketawis jubriya lawan kibir,sumunggah ingkang den singkur, lan endi kang kanggonan, wahu keraton jawi, tinampelan anggepe pan kumawula’.

Demikian paling tidak dikedepankan Sri Susuhunan Pakubuwono IV dalam Wulangreh sinom ke 19. bait tempat ini menyatakan bahwa dalam menjalani ‘laku’-perjuangan,  Panembahan Senapati menjalani kehidupan sebagai petani. Artinya menjalani kehidupan rakyat yang sesungguhnya, menjauhkan watak sok kuasa, sombong dan angkuh. Maka kemudian sang pujangga berpesan bahwa siapapun yang ketempatan Wahyu keprabon , sikapnya pasti merakyat, – anggepe pan kumawula.

Bersikap memihak kepada rakyat dan lebih jelas lagi memihak kepada petani, sesungguhnya merupakan ideologi raja Jawa, sejak zaman kerajaan tempo hari. Namun sayang ideologi tersebut tidak ditangkap secara cerdas oleh masyarakat Jawa sendiri khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Termasuk juga para kerabat keturunan raja dan birokrat keraton Jawa. Orang Jawa terkesan lebih mementingkan laku-laku kebatinan untuk mendapatkan amanah kekuasaan. Barangkali hal ini merupakan kecelakaan pemahaman akibat kesederhanaan pola pikir “wong Jawa” dalam merespon pemikiran para empu dan pujangga sastra di masa silam.

Dalam banyak prasasti disebutkan pula keberpihakan raja-raja Jawa terhadap petani. Diantaranya berupa statemen raja yang membebaskan suatu wilayah dari kewajiban upeti atau pajak, karena jasa rakyat wilayah tersebut dalam membangun jaringan irigasi misalnya. Kita ingat akan adanya tanah perdikan di masa lalu.

Sejarah Jawa sesungguhnya telah mewariskan hikmah perjuangan para tokoh-tokohnya dalam mendirikan kerajaan. Prabu Erlangga, Ken Arok, Raden Wijaya sampai dengan Panembahan Senapati adalah contoh, tokoh-tokoh sejarah yang mendapatkan dukungan rakyat hingga mampu mendirikan negaranya. Mereka menyelami  kehidupan rakyat secara nyata untuk menangkap suara rakyat yang sejati dalam rangka mendirikan kerajaannya.

Oleh karena itulah mereka itu tergolong pemimpin yang mampu membangun human relation dengan rakyat, mampu berkomunikasi dengan rakyat dan mampu memotivasi rakyat untuk mendukung ide mendirikan kerajaannya dengan tertata dan aturan yang baik. Persoalan yang muncul kemudian adalah bahwa para penerus pendiri kerajaan itu dan juga mereka yang berada di lingkar kekuasaan, terbelit oleh kultur mukti wibawa. Nikmat dalam kekuasaan telah menghapus roh ideologi keberpihakan kepada rakyat.

Dalam Wulangreh dan Wedhatama senantiasa dipesankan untuk meniru laku perjuangan  Panembahan Senopati. .. Nuladha laku utama…. Berkacalah dari laku keutamaan  yang dijalankan oleh Wong Agung ing Ngeksi Ganda. Pertama-tama laku utama lah yang diminta untuk dicontoh bukan orangnya.

Wulangreh yang lebih ditujukan kepada kerabat keturunan raja dan birokrat keraton berisikan nasihat mengelola moralitas kekuasaan yang harus berpihak kepada kepentingan rakyat. Sedang Wedhatama merupakan ajaran yang lebih diarahkan memandu setiap individu Jawa dalam bermasyarakat.  Fokus ajarannya merupakan pendidikan moral etika Jawa kepada generasi muda untuk bekal hidup bermasyarakat.

Substansi ajaran bukan hanya anjuran bertapa brata, matiraga dan mimpi di awang uwung, tetapi sangat membumi, misalnya tentang ajaran wirya, arta winasis, seperti yang tersirat dalam kalimat berikut ini: “Bonggan kang tan merlokena, mungguh ugering ngaurip, uripe lan tri prakara, wirya arta tri winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman ngulandara” Demikian KGPAA  Sri Mangkunagoro IV serat Wedhatama bait 29 pupuh sinom.

Ajaran yang terkandung dalam tembang tersebut menanamkan cita-cita kepada generasi muda untuk senantiasa mempunyai ambisi menggapai kehormatan- wirya, kekayaan-  arta, dan ketinggian ilmu –winasis. Dihubungkan dengan bait sebelumnya, maka bait tersebut merupakan ajaran Jawa dalam memberikan penajaman arah menjalani hidup tidak sekadar ‘ngupa boga’ mencari pangan dan sandang saja. Tatkala dikaitkan dengan bait-bait selanjutnya, maka ambisi mencapai wirya-arta-winasis, tersebut belum merupakan kesempurnaan hidup.

Sebab menurut ajaran Jawa kesempurnaan hidup adalah mencapai titising pati. Yaitu mampu mengembalikan semua elemen hidup yang dimiliki kepada sumbernya. Wadhag raga kembali sempurna ke alam semesta, roh- urip kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedang yang tadinya wujud, tinggalah nama yang harum semerbak mewangi dan bisa diteladani oleh anak keturunannya.

Wedhatama yang memuat ajaran ‘wirya- arta –winasis disusun dengan mengabdopsi kisah peri hidup Panembahan Senopati. Kisah perjuangan ksatria Jawa yang merakyat dan menciptakan perubahan. Silang sengketa berebut legitimasi kekuasaan antar keturunan Demak dan Pajang telah menyengsarakan rakyat. Konflik horizontal diperparah dengan keinginan memisahkan diri para bupati pesisir dari kekuasaan Demak Pajang. Panembahan Senopati adalah perwira Pajang yang bertugas memadamkan pemberontakan para bupati pesisir.

Oleh karena itulah dialah perwira lapangan yang memahami penderitaan rakyat akibat konflik para elit kekuasaan. Diselami kehidupan nyata rakyat, diberdayakan untuk mengadakan perubahan. Pemberdayaan rakyat tersebutlah yang sejatinya digunakan Panembahan Senapati memadamkan pemberontakan elit politik kekuasaan di daeran dan mendirikan Kerajaan Mataram.

Kultur Wulangreh-Wedhatama yang mengajarkan –wirya –arta –winasis dan keberpihakan kepada rakyat semestinya perlu direkonstruksi kembali dan diperbarui kemasannya agar mudah dipahami masyarakat umum. Kemudian diletakkan pada aras kebersamaan membangun masyarakat yang hayu – indah. Artinya bahwa seluruh rakyat perlu memiliki kehormatan, berjiwa patriot, makmur dan berpendidikan. Dengan demikian kultur Wulangreh-Wedhatama, bukan semata-mata mengajarkan tapabrata dan keprihatinan terus menerus. Syukur kalau mampu mengejawantahkan semangat yang dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tahta untuk rakyat. (Ki Juru Bangunjiwa)

Ki Juru Bangunjiwa, pemerhati sekaligus pelaku budaya, tinggal di Bangunjiwa, Kasihan Bantul.

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *