Minggu , 29 November 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Memburu Kehidupan yang Tenteram

Memburu Kehidupan yang Tenteram

PEPELING, atau peringatan Jawa mengetengahkan,

Urip iku urub,
Urub itu laras
Laras iku respati
Respati iku careming kantentreman
 

Hidup itu bagai api bernyala, ada angin ada api yang serasi ibarat perbuatan baik,
Perbuatan baik yang selaras dan indah
Keselarasan itu indah dan menarik
Hidup yang indah dan menarik itu membuat ketenteraman.

Orang Jawa senantiasa diperingatkan akan kehidupannya, bahwa kehidupan itu sangat berarti. Oleh karena itu jangan disia-siakan. Hidup itu harus berkontribusi terhadap kehidupan dengan segala daya dan upaya. Yang dicari adalah hidup yang lurus, laras dan leres, benar, selaras dengan alam, sesama dan Allahnya serta terlihat indah dipandang mata. Selebihnya membuat hidup itu menjadi sebuah wahana kedamaian bagi setiap orang.

Guyup rukun, saling membantu, tolong menolong, bahu membahu, holobis kuntul baris membangun masyarakat, membangun negara dan membangun bangsa dalam upaya mencapai kesejahteraan bersama yang menjadi cita-cita rakyat Indonesia, adil makmur tata titi tentrem karta raharja.

Dunia senantiasa berputar, tidak pernah berhenti. zaman pun terus berjalan. Sayangnya hal -hal dan kebiasaan buruk terus saja menguasai jagad manusia. Meskipun sebenarnya kearifan Jawa senantiasa mengingatkan bahwa dunia ini ibarat Cakra Manggilingan. Roda dunia terus berputar, tiak berhenti. Nasib manusia pun terus berubah. Kadangkala di atas, tak jarang juga berada di bawah. Tinggal menunggu waktu. Tidak selamanya manusia itu senang, dan tidak juga selamanya manusia sengsara.

Sengsara akibat bencana kebijaksanaan , sengsara akibat bencana alam  semakin nyata. Tragedi menjadi-jadi. Sebagai akibat, manusia tidak lagi percaya kepada pimpinan, bahkan juga sesamanya. Dunianya masih sama, namun nasib manusianya berbeda. Mereka yang tadinya bersimaharaja, kini terkucil, sendiri. Yang dulunya mereka di bawah berdarah-darah, kini berkuasa. Masih banyak lagi contoh. Namun manusia sering lupa akan hal ini bahkan tak ingat lagi arah hidupnya sendiri, akibat pengejaran harta benda yang tiada henti. Seolah-olah manusia sudah melalaikan tujuan hidupnya.

Yang dikejar adalah kekuasaan dan kekayaan. Tidak luput, agama digunakan sebagai wahana mencapai kekuasaan dan kekayaan. Dengan berbagai jalan, kekuasaan dan pengumpulan uang dijalani.

Wong mangan wong, – orang makan orang, sudah lumrah. Anak lali bapa, anak lupa orangtuanya, semakin biasa. Wong tuwa lali tuwane. Orang lupa umurnya yang sudah tidak muda lagi, juga semakin tidak aneh. Itulah yang diramalkan para leluhur Jawa dalam Jangka Jayabaya. Manusia semakin buta, meski secara fisik melihat. Oleh karena itulah peringatan nenek moyang yang diwujudkan dalam jangka ini sekarang penting untuk dicermati.

Orang tua lupa akan sifat ketuaannya, seharusnya mengedepankan bobot kehidupan yang berorientasi kepada nilai-nilai spiritualitas yang benar. Orang tua seharusnyalah sudah  mupus pepudyan jati, menjadi tempat bertanya anak cucu, akan kehidupan yang baik dan benar. Namun sekarang  justru sebaliknya, masih mengejar dunia dengan jalan kurang sewajarnya. Bahkan cenderung ke hal-hal yang melenceng dari kebenaran..

Simak juga:  Membangun Budaya Menegakkan Bangsa

Sing edan bisa dandan – yang gila bisa merias diri, sing bengkong bisa nggalang gedhong, yang bertabiat tak jujur justru mampu membikin gedung. Wong waras lan adil uripe kepencil. Orang yang berkelakuan baik dan jujur serta adil malah tersingkir. Durjana saya ngambra-ambra, penjahat semakin nekat, wong apik saya sengsara, orang baik semakin sengsara dan dihina serta  difitnah.

Perlu dipahami, yang dimaksud  orang gila artinya tidak lagi memperhitungkan norma dan etika dalam mengejar barang dunia.  Orang bengkong cara mengejar keduniawiannya  tidak jujur, apapun ditempuh. Tidaklah aneh kalau cara mengejar kebendaan lewat cara-cara di luar etika kemnusiaan. Kemudian menjadi orang kaya, segalanya terpenuhi. Sebaliknya, orang waras, yang pikirannya lurus dan tindakannya adil, serta mengumbar kebajikan, biasanya hidupnya malah susah dan dipencilkan.

Uniknya lagi, wong bener saya thenger-thenger. Wong salah padha bungah, orang benar kebingungan merenungkan nasib tindakannya yang benar, sementara yang salah malah makin riang. Memang di zaman seperti ini barang dan uang bisa hilang tidak keruan rimbanya. Lantaran banyaknya penipuan. Demikian pula kepangkatan dan drajat kemanusiaan, tidak lagi mempunyai arti, lantaran digunakan mengejar hal-hal yang menyimpang dari jalur kebenaran.

Namun nenek moyang masih memberikan petunjuk bahwa “Bejane sing lali, bejane sing eling. Nanging sauntung-untunge sing lali , isih untung sing waspada. Angkara murka samsaya ndadra.”

Masih untung yang ingat daripada yang lupa, tetapi lebih untung yang waspada akan kehidupan. Sebab angkara murka di dunia ini semakin merajalela. Hal ini membuat rakyat kecil jadi bingung. Tidak ada lagi panutan yang bisa dipegang. Teladan baik sudah sirna. Yang lebih berat lagi orang berusaha jadi susah. Banyak halangan untuk berusaha. Sebab banyak pekerja menantang majikan. Majikan jadi umpan.

Kelihatannya dunia semakin tua dan semakin tidak lagi mengindahkan kebaikan. Dunia seakan-akan menjadi buruk . Ini diperlihatkan para leluhur dengan jangkanya yang berbunyi “ Wong ala diuja. Wong ngerti mangan ati. Bandha dadi memala. Pangkat dadi pemikat. Sing sawenang-wenang rumangsa menang. Sing ngalah rumangsa kabeh salah. Wong sing atine suci samsaya didohi.

Orang jahat dibiarkan. Orang yang seharusnya tahu malah bikin kisruh. Orang-orang yang melek hukum yang diminta mengatasi masalah hukum semakin menggunakan kepandaiannya untuk bisa bikin frustasi rakyat kecil. Orang yang berkuasa dan bertindak seenaknya makin merasa menang. Yang mengalah serba salah. Orang-orang yang baik dan suci justru semakin dibenci dan dijauhi. Memang zamannya baru begini. Haruskah manusia ikut arus zaman?

Simak juga:  Makna Simbol Dedaunan di Balik Tarub

Peringatan ini semakin membuat nyali makin ciut lantaran  pitik angkrem sakdhuwure pikulan. Maling wani nantang sing duwe omah. Begal pada dhugal. Rampok padha keplok-keplok. Rakyat yang mengharapkan kebahagiaan, justru khawatir, karena ayam yang diharapkan bertelur, ternyata bertelur dan mengeram di atas pikulan yang sewaktu-waktu bisa jatuh. Harapan rakyat masih jauh panggang dari api. Zaman kian rusak. Pencuri kian menjadi-jadi dan berani melawan si empunya rumah. Harta rakyat disikat. Perampok, dan perompak semakin merajalela. Merekapun berpesta pora.

Anehnya lagi di tengah-tengah kegembiraan dan pesta pora itu masih juga dilantunkan doa-doa keselamatan. Nenek moyang mengingatkan  bahwa banyak orang menyalahgunakan doa. “Akeh wong mendem donga. Kana-kene rebutan unggul. Angkara murka ngambra-ambra. Agama ditantang. Akeh wong angkara murka. Nggedhekake duraka. Ukum agama dilanggar. Prikamanungsan diiles-iles. Kasusilan ditinggal.

Doa hanya pelengkap seremonial. Di sana sini berebut keunggulan. Sebab angkara murka digelar di mana-mana. Agama ditantang. Kedurhakaan makin dibesar-besarkan. Hukum agama dilanggar. Kemanusiaan dilanggar. Kesusilaan ditanggalkan.

Leluhur kita semakin prihatin, sebab akhirnya orang Jawa yang sebenarnya mempunyai semangat baik, arif bijaksana serta meningggalkan diri dan menegakkan pribadi justru semakin langka.  Tata lahir, atau fisiknya saja orang Jawa, tetapi semangat sudah bukan lagi orang Jawa. Oleh karenanya ditulis dalam Jangka “ Wong Jawa kari separo, Landa Cina kari sajodho. Akeh wong ijir, akeh wong cethil, sing eman ora keduman, sing keduman ora eman. Akeh wong mbambung, akeh wong limbung. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka.

Kelihatan zaman bukannya semakin baik. Manusia tetap dituntut waspada akan datangnya zaman yang berubah. Sebab akhirnya manusia akan sadar bahwa yang ‘salah bakal seleh’. Yang pada akhirnya yang benar akan tetap benar. Yang putih akan tetap putih.

Kawruh Jangka Jayabaya tadi paling tidak pernah didengar oleh Susila Bambang Yudhoyono, baik ketika masih remaja , maupun ketika berusaha memahami kawruh Jawa dalam pendalamannya mengenai hidup dan kehidupan.

Kawruh bangunjiwa mengedepankan piwulang ‘ tuwa pan wus pantes, kalamun pupuse tansah ngengidung pepudyan jati, karena wus lerem kerem ing reh rahayu’ Tua seharusnyalah senantiasa mengedepankan kearifan Ilahi, karena senang dalam ulah kebatinan yang mengarah kepada keselamatan. “ Kalamun pupuse wus tumelung, tumuli ngalami alum, tumungkula kanthi alim, paniku sinebut sepuh, garis wates pepancening Gusti pinasthi”. Kalau umur sudah senja, bergegaslah untuk sadar dan insyaf karena sudah garis Tuhanlah bahwa manusia harus mati. “ Tuwa hawya kongsi tiwas hangudi nggayuh utama, kang supadi sinupeket ing pamitran, margane untuk pangapura”. Tua jangan sampai lelah memburu keutamaan, mencari sahabat, karena itulah jalan mendapatkan maaf dan pengampunan.

Ki Juru Bangunjiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *