Minggu , 29 November 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Membumikan Wahyu Cahya Buwana

Membumikan Wahyu Cahya Buwana

Berbicara masalah wahyu pemahamannya di dalam pengertian ini adalah dari telaahan buday Jawa sebuah anugerah Yang Maha Agung yang menyertai seseorang karena lakunya yang laras dan indah di pandang mata lahir batin. Dan inilah yang terjadi lebih dari lima tahun lalu. Ini terlihat dari dukungan para relawan yang mendukung sosok yang sederhana jujur dan memikirkan kepentingan orang banyak. Kebetulan sosok itu berasal dari Solo. Perwujudan kerelaan itu tidak saja dengan harta benda pemikiran tetapi juga lewat laku budaya dalam doa khas spiritual Jawa yang dikemas dalam laku budaya bercampur seni. Dukungan itu kian mengalir semenja mantan walikota Solo itu mencalonkan diri menjadi Gubernur  Daerah Khusu Ibukota Jakarta. Bahkan kemudian dilanjutkan dengan pencalonan sebagai presiden.

Adalah Paguyuban Tosan Aji Bawa Raos  (Rasa) Sujatmoko yang dimotori oleh Drs IA Joko Suyanto MM(mantan Camat) sejatinya  tidak sekedar mendukung calon gubernur dan calon presiden waktu itu, tetapi hendak ‘maneges Kersaning Hyang Widi”- memburu kehendak Tuhan, apa yang perlu mereka kerjakan dalam rangka menyiapkan pemimpin masa depan. Oleh karena itulah digelarlah sebuah ritual budaya Jawa yang bersifat spiritual. Tentu sebelumnya Pak Joko demikian akrab dipanggil mendapatkan berbagai aspirasi dan juga informasi banyak serta ‘bisik ghaib’ dari para leluhur.

Mantan Camat Gondhangrejo Karanganyar  itu memang sangat akrab dengan lingkungan dimana ia bekerja termasuk di dalamnya Candi Sukuh dan Candi Cetha. Sebagai perangkat pemerintah di bidang pariwisata dan kebudayaan di wilayah Solo ia juga ingin agar budaya dan seni yuang telah pudah dihidupkan kembali. Dan sesungguhnya ia juga amat dekat dengan Keluarga Kalitan di Solo , karena makam leluhurnya yakni Makam Raden Ayu Tresnaningsih dirawat dengan amat baik. Makam itu adalah makam mantan isteri Pangeran Sambernyawa yang rela menjanda sampai akhir hatanya dengan jalan mati raga teteki atau laku spiritual hingga meninggal. Dari situlah gagasan itu berawal.

Gagasan tentang dilakukann ritual seni budaya itu ternyata didukung oleh para seniman dan budayawan Solo dan juga spiritualis dari Lawu. Sebagau wujud laku yang masih abstrak itu perlu dimanifestasikan dalam wujud sebuah keris. Oleh karena itulah laku budaya spiritual yang memburu wahyu kewibawaan itu kejuga diikuti dengna melakukan sanggaran logam dasar untuk mempuatan sebuah pusaka keris  yang berupa besi baja dan pamor. Besinya dipilih dari besi pilihan, sementara tembaganya didatangkan dari Jepang, sementara pamornya dari bijih nikel yang sudah diolah dengan baik.

Ritual budaya seni itu diawali dengan menggotong rangakian sesaji yang beranek ragam dari dusun Blumbang Tawangmangu. Blumbang bagi masyarakat Jawa lambang hati yang  terbuka mohon cucuran air kesejukan dari Yang Maha Kuasa. Tujuan dari ritual itu  adalah desa Pringgadani sebuap pertapaan di lereng Lawu..

Simak juga:  BK Selamat Berkat Keris di Papua

Terjadi sebuah peristiwa unik di pos pertama ketika rombongan pelaku ritual budaya dikejutkan dengan hadirnya empat ekor lutung Jawa yang bersikap aneh. Padahal menurut Pak Joko semenjak menjadi camat di Gondhangreja dan laku spiritual di lingkungan itu belum pernah menjumpai lutung yang ada adalah kera ekor panjang. Lurung ini berperilaku unik mereka tidak menyerbu sesaji yang berupa pisang dll, tetapi kut masuk dalam barisan rombongan dan tidak takut manusia serta berjalan dengan sikap manembah-berdoa.. Lutung ini mengiringi rombongan di kanan maupun di kiri barisan. Peserta rombongan dibuat kaget dengan ulang para luitung yang aneh itu. Mereka larut dalam doa dan matram yang dijalani sepanajgn satu setengah kilo meter dari pos pertama hingga sampai di suatu tempat yang disebut sebagai Monumen Garuda yang pernah dibangun oleh mantan Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto. Tempat ini diyakini para pelauk spiritual sebagi pintu gerbang ghaib Pringgadani yang di dalam pewayangan adalah kerajaan Gatotkaca benteng Amarta pura yang memang awalnya adalah kerajaan raksasa yang bernuansa siluman.

Di tempat itulah terjadi sebuah keanehan yang kedua. Persis di atas patung burung garuda terpancar sinar biru yang seoalah olah turun dari langit dan semua peserta ritual melihat hal itu. Dari bisik bisik yang terdengar dari para pelaku ritual disebutkan bahwa itulah ‘wahyu Wibawa yang berderajad tinggi yang turun ke bumi . Mereka meyakini bahwa yang mereka dukung bakal mengalami kemenangan dalam pemilihan.

Karena sinar itu bagaikan matahari yang menyinari bumi itulah kemudian disebut sebagai “Cahya Buwana. Oleh karena berkaitan dengan bahan dasar logam yang akan digunakan sebagai pembuatan keris pusaka, maka eris itu nantianya disebut sebagai keris “Cahya Buwana”. Dan itu terlihat pula setelah bahan keris diproses tempa oleh Empu Pauzan Puspa Sukadga. Ketika bahan keris akan ditempat dibuat keris dilakukan upacara sanggaran. Bahan keris disanggarkan di candi Cetha selama 3 hari tiga malam. Dan waktunya pun dipilih waktu yang sangat baik dalam p0etung Jawa (perhitungan jawa).

Usai disanggarkan di Candhi Cetha oleh Empu yang diserahi kewajiban menempa keris itu kemudian dilakukan wilujengan atau selamatan. Untuk mengawalinya empu Surakarta ini telah melakukan puasa dan matiraga untuk mengemban kewajiban yang tidak main main. Awalnya Empu Pauzan Surakarta ini menyatukan ketiga bahan dalam saton ydan kemudian dibuat kodokan, calon keris. Bukan perkara mudah untuk menyatukan tiga bahan logam yang berbeda karaketer ini dalam tanur yang yang menyalan dan ditempa sebagai sebuah seni metalurgi tingkat tinggi. Bahan bahan yang didatangkan dari Jepang, setelah menyatu kemudian ditempa dan menjelmalah menjadi keris lurus yang berdapur Pasopati. Ini sebagai indikasi bahwa seorang pemimpin itu haruslah menyerahkan jiwa raganya bagi yang dipimpinnya. Artunya bukan menguasai tetapi lebih melayaninya. Semua ditujukan bagi kesejahteran rakyat. Ricikan atau bagian yang khusus dari keris ini adalah adanya sekar kacang yang pogok atau kelihatan patah meski sesungguhnya memang demikian. Keris ini mempunyai blumbangan, sogokan kanan dan kiri dan pamornya pun khas beras wutah.. Mengapa beras wutah, menueur sang empu konon ini merupakan manunggaling kawula Gusti agar kesejahteraan dirasakan bersama Kemakmuran diharapkan dirasakan dengan adanya kepemimpinan yang mengayomi dan melayani rakyat. Bukan sebalinya. Ini berkaitan dengan Cahya Buawana yang turun menerangi semua manusia di alam raya ini. Mengapa keris itu lurus agar orang yang memegan kteri situ mempunyai tekad yang lurus dan kuat akan amanah rakyat. Karena bajanya dari Jepang yang sangat kuat untuk mengasahnya pun digunakan gurinda berserbuk intan.

Simak juga:  Kalau Kyai Condong Campur Murka

Banyak keanehan ketika pusaka ini dibuat di Besalen Suralaya tempat Empu Pauzan menempanya.. Menurut pengakuan panjak, pembantu empu ketika ditempa bahan keris itu menimbulkan pijar yang sangat luar biasa auranya. Kalau tempaan keris biasa menimbulkan pijar seperti kembang api, pijar keris Cahya Buwana bagaikan bulatan bulatan kecil yang kalau diperbesar di dalam foto komputer di dalamnya tergambar sebuah wajah. Sinar yang dipancarkannya tidak merah tetapi biru, sungguh luar biasa” kata Pak Joko.

Empu Pauzan juga merasa heran bertahun tahun membuat keris tetapi baru kali ini mendapati hal yang istimwa.. setelah jadi diberi warangka dari Cendana Wangi bergaya Surakarta.

Setelah keris diserahkan kepada Pak Joko, keris ini mengalami ritual lagi  dengan upcara wilujengan ageng pada malam purnama Sidi. Karena dalam pemahaman Jawa siapa yang berlaku jujur dan baik akan mendapatkan anugerah besar dari Sang Hyang Agung. Ritual itu juga wujud sujud syukur atas selesainya pembuatan keris. Anehnya sebulan setelah keris itu dibuat, wafatlah sang Empu Pauzan sebelum sempat memberikannya kepada yang berhak.(Ki Juru Bangunjiwa)

Lampiran :
Membumikan Wahyu Cahya Buwana Dalam Sebuah Pustaka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *