Selasa , 21 November 2017
Beranda » Essai EAN » Membubarkan Penyiksaan

Membubarkan Penyiksaan

Di era 1980-an transportasi ideal dan mewah adalah Bus Malam. Yogya-Malang PP idolanya adalah Bus Agung Anugerah. Kalau lintas provinsi Jatim-Jateng viralnya adalah Bus Mila. Profesional, lajunya cepat tapi terukur, sopirnya canggih, duduk di kursinya serasa Bismillahirrohmanirrohim.

Tapi untuk memenuhi acara Minggu Pagi di Masjid Raya Batu Malang, Mbah Sot kehabisan tiket Agung Anugerah. Terpaksa naik Bus umum dari Yogya sedapatnya. Subuh tiba di terminal Malang, shalat, numpang antre mandi, sarapan pecel, kemudian naik angkot Malang-Batu. Semua serba manual. Belum ada Grab atau Go-Jek.

Kehidupan di zaman Markesot belum tua waktu itu belum move on, masih jadul, go-blog dan go-mbal. Ke mana-mana wajah masih go-song, mental go-cik, tidak gagah perkasa, tangguh berani dan sakti mandraguna seperti generasi sekarang. Dulu “old” sekarang “now”. Dulu “go” sekarang “guw”.

Paling lambat 15 menit sebelum acara, Mbah Sot harus sampai di dekat lokasi. Al-barnamiju ‘ala waqtiha. Program dilaksanakan tepat pada waktunya. Mbah Sot sembunyi di warung kecil. Ngopi sambil melihat Masjid dari kejauhan. Tapi jam 09.00, jam acara Mbah Sot diundang, belum tampak ada aktivitas apa-apa di Masjid. Mbah Sot tunggu sampai 30 menit, satu jam, kompromi sampai 1,5 jam. Akhirnya karena tidak ada tanda-tanda akan ada acara, Mbah Sot pun berjalan mencari angkot untuk balik ke Malang, kemudian Yogya.

Ternyata ketahuan oleh beberapa Panitia, yang entah sembunyi di mana. Mbah Sot dipindah ke kendaraan mereka, diajak ke Warung Jawa Timur, dan dikasih tahu bahwa “demi menjaga hubungan baik dengan Pemerintah, acara pengajian dibatalkan, karena Polres dan Kodim melarangnya”. Mbah Sot sempat merespons: “Awakmu bukan menjaga hubungan baik, Rèk, tapi bekerjasama melestarikan hubungan buruk”. Tapi Mbah Sot tidak marah. Bahkan bersyukur.

Tidak ada kenikmatan melebihi posisi Mbah Sot pagi itu. Sudah mendapat pahala karena memenuhi janji acara, sudah berjihad naik Bus semalaman sampai mandi di terminal, sudah beramal saleh mendekat ke Masjid dan siap acara — dan mendadak merdeka dan tak harus repot-repot bicara di podium Masjid, tapi sudah mendapatkan pahala dari niat dan bukti tanggung jawabnya. Malah tambah makan enak di warung maknyus, laba perenungan dengan pemuda-pemuda harapan bangsa.

Pakde Tarmihim dulu awalnya tidak benar-benar memahami cara berpikir Markesot. Normalnya orang yang diundang jauh-jauh dan sudah memenuhinya dengan naik Bus semalaman, datang sendiri ke tempat acara tanpa jemputan, lantas ternyata acaranya batal tanpa pemberitahuan sebelumnya: marah besar dong. Bahkan kalau di dunia profesional, ia berhak mendapatkan ganti rugi.

Hal seperti itu dialami Markesot tidak hanya sepuluh dua puluh kali. Ditambah lagi Markesot ternyata belum tentu mendapatkan apa-apa, penghargaan, uang transport, oleh-oleh ketela atau pisang, sesudah memenuhi janjinya. Pantas Markesot tidak pernah meningkat hidupnya. Kariernya tidak berkembang. Juga tetap miskin, tidak terkenal, tidak jadi apa-apa.

Tetapi Markesot seperti tidak mengalami apa-apa. Senyum-senyum saja. Malahan bersyukur. Anak-anak muda yang mengecewakannya itu tetap disayanginya, tidak berubah sedikit pun dari sebelumnya. Ketika Tarmihim mencoba bertanya, Markesot menjawab: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”.

O, jadi maksud Markesot, kalau bersyukur, bubarlah kemungkinan penyiksaan dari Allah.

Daur II-268,
Sidoarjo, 13 November 2017

Lihat Juga

Dibubarkan, dan Foto Bareng

Di tahun 1991 sesudah hampir dua puluh tahun tidak ada demonstrasi mahasiswa, sahabat-sahabat muda Mbah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *