Selasa , 21 November 2017
Beranda » Essai EAN » Membubarkan Negara

Membubarkan Negara

“Saat ini saya hanya bisa bantu doa semoga pada saatnya nanti bangsa kalian bisa mendirikan Negara”, demikian pesan Markesot kepada Brakodin, Sundusin dan Tarmihim sebelum pamit pergi bersama Mbah Shoimun, “maafkan saya tidak berani menyentuhkan jari-jari saya ke keadaan ini, sebab hasil dari sentuhan itu pasti akan menambah kemungkinan benturan besar yang menyedihkan, mungkin bahkan mengerikan”

Suatu kali tiga sahabatnya itu mencoba membuntuti Markesot. Tapi mereka terhenti di tepian hutan yang mereka tak mungkin memasukinya karena medan fisiknya yang sangat sulit. Mereka hanya menatap dari jauh: ada semacam pancaran cahaya ke angkasa, di suatu bagian dari tengah hutan itu, seakan-akan di bawah hamparan cahaya itu ada semacam kota besar. Ada keinginan mereka bertiga untuk suatu hari akan berusaha menembus dan mencapai wilayah itu, tetapi belum berhasil.

“Bukannya bangsa ini sudah mendirikan Negara sejak 1945?”, Sundusin bertanya kepada Markesot ketika itu.

Markesot menjawab: “Negara yang benar-benar Negara, sebagaimana para ahli mendefinisikan dan semua orang memahami Negara. Bukan Negara khayal yang de facto-nya bukan Negara, melainkan Pemerintah. Bahasa jelasnya, bukan Negara yang Pemerintahnya mengaku Negara. Bukan Negara yang dijadikan negara-negaraan oleh Pemerintahnya. Bukan Negara yang tinggal papan nama, karena faktanya sebagai Negara sudah dibubarkan justru oleh Pemerintahnya sendiri yang digaji oleh rakyatnya. Understand?

Tèèèn…!”, jawab Tarmihim, Brakodin dan Sundusin serentak.

“Bukan Negara yang oleh Pemerintahnya dijadikan etalase Perusahaan penjual tanah air. Yang didirikan pada tahun 1945 itu memang maksudnya sungguh-sungguh Negara, tetapi kemudian berkembang menjadi Perusahaan yang dimiliki oleh Pemerintahnya. Menjadi Negara Perusahaan yang bukan hanya tidak mengamankan harta benda tanah air rakyatnya, tetapi malah menggadaikan dan menjualnya. Itu pun dengan bargaining power PSK tepian Kali Codé. Negara Perusahaan yang bukan hanya tidak memakmurkan rakyatnya, melainkan membangkrutkannya. Yang bukan hanya tidak menanggungjawabi moral gajinya, tetapi malah merepotkan, memeras, menindas, melemahkan, mengakali, membodohi, mem-bego-in dan menganiaya rakyatnya”

Mafhum”, sahut Tarmihim.

“Bahkan di dalam Negara Perusahaan itu terdapat banyak sekali Perusahaan-perusahaan milik kelompok Pejabat-pejabatnya. Perusahaan para Pejabat itu bekerjasama untuk kepentingan yang bisa dikerjasamakan. Bisa juga bersaing di antara mereka, berebut lahan dan akses, sikut-menyikut, gusur-menggusur, rampok-merampok satu sama lain.”

Mupakat”, kata Sundusin.

“Bahkan bisa juga saling memusnahkan. Atau sekurang-kurangnya mengambil alih berbagai wilayah keusahaan, aset dan maintenance, satu sama lain secara bergiliran, bergantung siapa atau kelompok mana yang berkuasa”.

Tentu saja Tarmihim, Brakodin dan Sundusin pada prinsipnya memahami apa yang dimaksudkan oleh Markesot.

“Semoga suatu hari rakyat kalian benar-benar mendirikan Negara, dengan sadar terhadap kedaulatannya. Kalau Negara sudah didirikan, yang di dalamnya terdapat kekayaan di dalam tanah dan airnya, semoga rakyat mampu memilih pemimpin dan pemerintah yang punya kesetiaan menjalani kalimat lagu wajib kebangsaannya: Indonesia tanah airku (Stanza-I), bukan tanah airmu atau tanah airnya

“Bukan Pemimpin dan Pemerintah yang menjual murah Indonesia tanah yang kaya (Stanza-II) sehingga secara bertahap menjadi bukan milik rakyat Indonesia lagi. Bukan Pemimpin dan Pemerintah yang melukai (Stanza-III) Indonesia tanah yang suci, yang tidak percaya kepada bangsanya sendiri, meremehkan rakyatnya sendiri, menghina martabat dan harga diri bangsanya sendiri”

“Pun bukan Pemimpin dan Pemerintah yang memobilisasi bangsanya untuk tidak percaya kepada dirinya sendiri, untuk bergerak ke masa depan tidak sebagai dirinya sendiri. Melainkan menjadi budak dari kepentingan, cara berpikir dan ideologi kehidupan orang yang bukan mereka. Yang menjaga dengan teguh NKRI Harga Mati, bukan mematikan harga NKRI. Yang merawat keutuhan Indonesia, bukan memecah belah rakyat demi mempermudah tercapainya target Perusahaan Kepentingannya…”

Markesot minggir ke hutan mungkin sampai dua tahun ke depan. Entah untuk apa. Tapi ketiga sahabatnya tahu untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kalau Markesot pergi, berarti tidak tinggal. Bahwa kalau Markesot di sana, lantas disangka pasti tidak di sini.

Orang tua itu sempat mengatakan bahwa ia merasa ngeri Tuhan sedang bekerja menerapkan apa yang Ia firmankan di pertengahan Kitab itu: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah: tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

Simon alias Saimon atawa Mbah Shoimun senyum-senyum mengejek sambil berlalu pergi dengan Markesot, memasuki kabut senja hari.

Daur II-270,
Yogya, 15 November 2017

Lihat Juga

Dibubarkan, dan Foto Bareng

Di tahun 1991 sesudah hampir dua puluh tahun tidak ada demonstrasi mahasiswa, sahabat-sahabat muda Mbah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *