Beranda » Humaniora » Membongkar Kenangan “Mas Ren”

Membongkar Kenangan “Mas Ren”

SAYA ingin bernostalgia ke tahun-tahun 70-an dan 80-an. Buat saya, kehidupan kita hari ini, termasuk prestasi, karier dan lain-lainnya, tidak bisa lepas dari hari-hari atau masa-masa sebelumnya. Saya sering mengatakan ke kawan-kawan ngobrol, sepahit apa pun masa lalu, tetap sesuatu yang indah untuk dikenang. Apalagi masa lalu itu sesuatu yang indah, maka akan menjadi indah saat dikenang lagi. Dan, Renas adalah sesuatu yang indah di masa lalu itu.

Saya menjadi pengasuh Renas (Remaja Nasional), halaman yang disediakan Harian “Berita Nasional” untuk para remaja atau anak-anak muda yang menyukai dunia penulisan, terutama sastra, pada tahun 1974. Tahun 1974 ini juga merupakan awal keterlibatan saya dalam kerja jurnalistik.

Sebelum saya masuk, Renas belum terfokuskan pada dunia penulisan, terutama sastra, yang dikhususkan bagi calon-calon penulis, penulis-penulis pemula, atau penulis-penulis muda. Ketika itu Renas merupakan halaman yang menampung beragam aktivitas remaja.

Saat saya diberi kepercayaan untuk menjadi pengasuhnya, saya pun berusaha untuk menjadikan ruang Renas yang cuma satu halaman itu sebagai ajang kreativitas kaum muda berkarya, terutama dalam dunia penulisan yang berhubungan dengan  sastra. Inilah fokus pilihan atau perhatian saya. Sedang yang di luar penulisan sastra, tetap masih diberi ruang, tapi terbatas, dan bukan perhatian utama.

Keinginan saya itu disetujui Mas Oka Kusumayudha, yang kala itu sebagai “redaktur pembina” Renas. Terlebih ketika ruang Persada Studi Klub di Mingguan “Pelopor Yogya” mulai ‘goyah’ setelah ditinggalkan Umbu Landu Paranggi di tahun 1975, saya pun berusaha mengembangkan Renas menjadi wadah atau ajang yang representatif bagi remaja atau anak-anak muda membangun dan mengembangkan kreativitasnya dalam berkarya.

 

***

SAYA menjadi pengasuh Renas pada 1974 sampai 1979. Di masa itu, semangat berpuisi anak-anak muda di Yogya memang sedang ‘dahsyat-dahsyat’nya. Dalam setiap minggunya, karya puisi yang masuk ke ‘meja Renas’ (begitu saya selalu menyebutnya dulu) berpuluh-puluh judul. Padahal, dalam setiap edisi paling banyak dimuat hanya lima sampai tujuh puisi. Sebagai redaktur atau pengasuh halaman, saya memang punya tugas mengulas atau mengomentari naskah-naskah puisi yang masuk, terutama karya-karya puisi yang ‘tidak bisa’ dimuat. Saya harus beri ulasan ulasan atau komentar, kenapa puisi-puisi itu tidak bisa dimuat. Saya ingat, kata-kata yang sering digunakan dalam setiap kali mengomentari puisi-puisi yangt ‘gagal’ dimuat itu antaralain: “ke mana imajimu? Koq hilang?”, “Ingat lho, puisi itu permainan kata penuh imaji dan perlambang. Tapi, kau sepertinya gagal menguraikannya.”, “Penghayatanmu kurang menukik, kurang dalam, akibatnya puisimum kehilangan imaji yang utuh.”, “Kata-katamu hambar, lemah, bahkan banyak rancu, tak punya kekuatan apa-apa. Akibatnya, imajinya pun hilang.”….dan banyak lainnya lagi (Berbincang Tentang Puisi-puisi Tia Setiadi – Pembacaan & Diskusi Puisi PKKH UGM #2, Rabu, 25 Juli 2012).

Suatu ketika, saya juga pernah mengatakan begini: Puisi adalah suara hati. Jadi, bila kau ingin menulis puisi, maka tulislah apa yang ada di hatimu. Dan, apa yang ada di hatimu itu disebut suara hati. Suara hatimu itu bisa bicara tentang apa saja. Bisa tentang dirimu sendirimu, gagasanmu, pendapatmu, sikapmu, kehidupanmu, sampai keluhanmu. Juga bisa beragam persoalan sosial dan kehidupan yang ada di seputarmu. Ayo menulislah!

Di kesempatan lain, saya sampaikan pula serangkaian kata yang begini: Dalam menulis (berkarya), hal penting yang harus ditanam dalam diri, yakni jangan pernah ragu atau takut untuk memulai. Di langkah awal penulisanmu, jangan risaukan perihal kualitas atau nilai karya tulisanmu. Jangan takut bahwa tulisanmu dikecam jelek, tak berkualitas, ringan, kacangan, dan semcamnya. Asahlah terus dirimu dengan menulis dan membaca. Jangan alergi membaca karya-karya orang lain. Karena dengan membaca akan menambah wawasan serta kekayaan imajinasi. Ayo menulis!

Mas Ren, itulah sebutan saya sebagai pengasuh halaman Renas. Dan, saya ingin membongkar kenangan sebagai Mas Ren. Menjadi pengasuh atau redaktur halaman (rubrik) yang disediakan untuk remaja atau orang-orang muda penyuka dunia penulisan, terutama sastra, ternyata tak hanya menyeleksi naskah-naskah yang masuk, tak hanya mengulas naskahnya bagus atau kurang bagus, tapi juga menjadi provokator. Itulah yang saya lakukan ketika itu.

Ya, saya memang suka memprovokasi siapa pun untuk menulis. Menulis apa pun. Termasuk menulis puisi. Di halaman Renas, yang terbit setiap Jumat itu, pasti akan selalu muncul kata-kata provokatif saya kepada para pemula, remaja atau orang-orang muda yang mengirimkan karya-karya tulisannya.

“Ayo, jangan putus asa. Berkaryalah terus. Kemampuanmu sudah terlihat.”

“Idemu lumayan bagus. Sayangnya penghayatanmu masih kurang menggigit. Nah, tulis lagi. Tulis lagi yang lebih menggigit!”

“Menulislah. Ayo, menulislah. Kamu pasti bisa!”

Dan, masih banyak lagi kata-kata yang provokatif itu. Tujuan atau target saya, kata-kata bernada provokatif itu dapat terus membakar semangat para pengirim naskah ke Renas, yang naskahnya belum sempat dimuat, agar mereka tidak putus asa, tidak patah semangat dalam berkarya.

Tidak sedikit di antara mereka yang dulu saya provokasi di Renas itu kini telah menjadi penulis atau penyair sukses dan terpandang.

 

***

ADA satu pengalaman menarik di antara sejumlah pengalaman menarik lainnya saat menjadi pengasuh Renas. Suatu hari di tahun 1975 (lupa persisnya), seorang lelaki muda berambut agak gondrong (seperti halnya saya kala itu) datang menemui saya di kantor redaksi dengan wajah dan tatapan yang tak ramah.

Saya sempat terkejut juga ketika lelaki muda itu tiba-tiba menggebrak meja dan bertanya dengan nada keras, “Kenapa puisi-puisi saya tidak pernah dimuat? Kenapa ?!”

Saya mencoba tetap ramah, dan mengambilkan kursi seraya mempersilakannya duduk. Tapi ia menolak duduk.

“Apa puisi-puisi saya kurang bagus? Apa puisi-puisi saya jelek? Padahal banyak puisi yang jauh lebih jelek dibanding puisi-puisi saya tetap bisa dimuat. Padahal di koran lain saja, puisi-puisi saya dimuat, koq di sini tidak. Sudah tiga kali saya mengirim puisi, tapi tidak satu pun dimuat. Apa alasannya? Apa?!” kata-katanya seperti beruntun menyerbu.

Saya nyaris terpancing juga.

“Maaf. Bagaimana bisa menjadi penulis yang berhasil, bila di awal-awal saja Anda sudah menjadi penulis yang gusar dan emosional seperti ini? Masing-masing media punya warna, gaya dan kualitas sendiri-sendiri. Jadi, maaf, jangan samakan media ini dengan media yang sudah memuat puisi-puisi Anda itu. Saran saya, menulislah terus, dan jangan pernah putus asa untuk mengirim lagi ke mari. Dan, rajin-rajinlah membaca puisi-puisi para penyair terpandang. Selain untuk perbandingan, setidaknya bisa dijadikan media untuk belajar bagaimana menulis puisi yang baik itu,” kata saya.

Setelah itu, tanpa meninggalkan kata-kata apa pun, dia langsung pergi.

Saya sedih, setelah peristiwa hari itu, puisi-puisi lelaki muda tersebut tak pernah datang lagi ke meja Renas. Saya tak tahu persis, apakah dia masih menulis puisi di media lain atau tidak.

 

***

INI hanya sekadar kata, sekadar rasa, sekadar kebanggaan dari mengenang ‘sesuatu yang indah dan berarti’ di masa lalu. Sekadar mengingat, betapa Renas telah memberikan andil yang tidak kecil bagi proses kreativitas dan perjalanan kehidupan kita hingga hari ini.

Rasanya, tak berlebihan kalau saya merasa, Renas kala itu telah berkembang menjadi barometer dunia penulisan anak-anak muda di Yogya. Dan, itu menjadi salah satu kebanggaan saya hingga hari ini. Kebanggaan saya kian memuncak, ketika mereka yang muda-muda di kala itu, yang membangun dirinya di Renas, kini, setelah sekitar tiga puluh tahun lebih kemudian menyatukan karya-karya puisi di antologi bersama “GONDAMANAN 15”.

Marilah berbangga dan berkarya sampai kapan pun! *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

*** Tulisan ini merupakan Kata Pengantar pada buku antologi puisi “GONDOMANAN 15“, yang diterbitkan Tonggak Pustaka, 2016.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dunia Batin Perempuan

SELIRIA EPILOGUS INI sebuah catatan pilihan, catatan penghujung dari serangkaian perca-kapan di beranda pergaulan sosial. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *