Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Membedah Mitologi “Sedulur Papat Lima Pancer”
Ilustrasi (Ft. kompasiana.com)

Membedah Mitologi “Sedulur Papat Lima Pancer”

SEMENJAK dahulu orang Jawa mempunyai ‘perhitungan’ (petung Jawa) tentang pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Perhitungan itu meliputi baik buruknya pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Petung yang oleh sebagian orang dianggap klenik sebenarnya mengandung pengertian waspada dan kehatian-hatian orang Jawa dalam memulai sebuah pekerjaan. Khusus tentang hari dan pasaran termuat di dalam mitologi kisah Dewa.

Batara Surya  yang dianggap sebagai Dewa Matahari turun ke bumi menjelma menjadi Brahmana Raddhi di gunung tasik.

Ia menggubah hitungan yang disebut Pancawara (lima bilangan) yang sekarang disebut Pasaran yakni : Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon, nama kunonya : Manis, Pethak (an) Abrit (an) Jene (an) Cemeng (an), kasih. Hal ini bisa dilihat karya Ranggawarsita.

Kemudian Brahmana Raddhi diboyong dijadikan penasehat Prabu Selacala di Gilingwesi. Sang Brahmana membuat sesaji untuk dewa-dewa selama 7 hari berturut-turut dan tiap kali habis sesaji, hari itu diberinya nama.

Sesaji Emas, yang dipuja Matahari. Hari itu diberinya nama Radite, nama nya sekarang : Ahad atau Minggu. Sesaji Perak, yang dipuja bulan. Hari itu kemudian diberi nama : Soma, nama sekarang : Senen. Sesaji Gangsa ( bahan membuat gamelan, perunggu ) yang dipuja api, hari itu diberinya nama : Anggara, nama sekarang Selasa.  Sesaji Besi, yang dipuja bumi, hari itu diberinya nama Buda, nama sekarang Rebo. Sesaji Perunggu, yang dipuja petir. Hari itu diberi nama Respati, nama sekarang Kamis.  Sesaji Tembaga, yang dipuja Air. Hari itu diberi nama Sukra, nama sekarang : Jumat . Sesaji Timah, yang dipuja Angin. Harinya bernama Saniscara disebut pula : Tumpak, nama sekarang : Sabtu.

Nama sekarang hari-hari tersebut adalah nama hari-hari dalam Kalender Sultan Agung, yang berasal dari kata-kata Arab ( Akhad, Isnain, Tslasa, Arba’a, Khamis, Jum’at, Sabtu ) nama-nama sekarang itu dipakai sejak pergantian Kalender Jawa Asli yang disebut Saka menjadi kalender Jawa atau Sultan Agung yang nama latin  <I>Anno  Javanico (AJ)<P>.

Pergantian kalender itu mulai 1 Sura tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042 = Kalender masehi 8 Juli 1633. Itu hasil perpaduan agama Islam dan kebudayaan Jawa.

Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun Saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali. Rangkaian kalender saka seperti : Nawawara ( hitungan 9 atau pedewaan ) Paringkelan ( kelemahan makhluk ) Wuku ( 30 macam , satu siklus 210 hari ) dll.

Dipadukan dengan kalender Sultan Agung ( AJ ) tersebut, keseluruhan merupakan petungan ( perhitungan ) Jawa yang dicatat dalam Primbon. Dikalangan suku Jawa, sekalipun di lingkungan kaum terpelajar, tidak sedikit yang hingga kini masih menggunakannya ( baca : mempercayai ) primbon.

Kadang Papat

Menurut KPH Surya Wicaksono dari Istana Jawa Grup, hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu menurut kepercayaan Jawa sejalan dengan ajaran “Sedulur papat, lima pancer ” empat saudara sekelahiran, kelimanya pusat.

Ajaran ini mengandung pengertian bahwa badan manusia yang berupa raga, wadag, atau jasad lahir bersama empat unsur atau roh yang berasal dari, tanah, air, api dan udara. Empat unsur itu masing-masing mempunyai tempat di kiblat empat. Faktor yang kelima bertempat di pusat, yakni di tengah.

Lima tempat itu adalah juga tempat lima pasaran, maka persamaan tempat pasaran dan empat unsur dan kelimanya pusat itu;

Pasaran Legi bertempat di timur, satu tempat dengan unsur udara, memancarkan sinar ( aura ) putih.

Pasaran Paing bertempat di selatan, salah satu tempat dengan unsur Api, memancarkan sinar merah. Pasaran Pon bertempat di barat, satu tempat dengan unsur air, memancarakan sinar kuning. Pasaran Wage bertempat di utara, satu tempat dengan unsur tanah, memancarkan sinar hitam . Kelima di pusat atau di tengah, adalah tempat Sukma atau Jiwa, memancarkan sinar manca warna (bermacam-macam )

Dari ajaran sadulur papat, kalima pancer dapat diketahui betapa pentingnya Pasaran Kliwon yang tempatnya ditengah atau pusat ( sentrum ) tengah atau pusat itu tempat jiwa atau sukma yang memancarkan daya perbawa atau pengaruh kepada ” Sadulur Papat atau Empat Saudara ( unsur ) sekelahiran.

Satu peredaran ” Keblat papat kalima pancer ‘ itu dimulai dari timur berjalan sesuai dengan perputaran jam dan berakhir di tengah (pusat).(Ki Juru Bangunjiwa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *