Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Membedah Filosofi Among Tani Dagang Layar
Festival Perahu Nelayan Among Tani Dagang Layar 2017 di Pelabuhan Tanjung Adikarto Kulon Progo (ft. net)

Membedah Filosofi Among Tani Dagang Layar

Sejak Kerajaan Mataram didirikan yakni jaman Panembahan Senapati, ada pemahaman yang hingga sekarang perlu juga diketahui oleh mereka yang masih mengaku Jawa. Bahwa Orang Jawa baru disebut Jawa tulen kalau mampu mentautkan laut dan langit. “Kasebut Jiwa Jawa kang Kajawi kalamun wus bisa jumbuhake Laut lan Langit.”

Lalu apa makna di balik itu semboyan ataupun arahan itu. Karena semboyan itu tidak saja menjadi landasan spiritual tetapi juga menjadi landasan hidup bagi masyarakat Jawa, terutama juga dibidang aktivitas kehidupan sehari hari baik dari sisi rohaniah maupun badaniah, bahkan dari sisi yang menyangkut hajat hidup.

Ternyata filsafat yang kelihatannya rumit itu bermakna sangat sederhana namun berbobot dalam. Dalam basahasa Indonesia dikatakan mereka yang mempunyai jiwa yang luhur adalah orang orang yang mampu mentautkan laut dan langit. Ini sebuah sanepa atau perumpamaan. Biasa orang Jawa menggunakan lambang dalam berbicara.

Apa itu Laut? Tertanya bukan samudera tetapi kepanjangan dari Laku Utama-laku keutamaan. Laku keutamaan orang Jawa sebagai manivestasi penghormatan dan rasa cintanya kepada sesama dengan saesanti Niyat ingsun nyebar ganda arum= tekadku untuk menebarkan keharuman. Hal itu bisa dilakoni dengan tiga hal. Pertama; Tyas manis kang mantesi– hati yang baik dan tulus yang selalu dikedepankan. Aruming wicara kang mranani= bau pembicaraan yang baik dan membuat orang terpana karena bukan saja indah kata katanya tetapi makna dan bobot bicaranya. Yang ketiga sinembuh laku utama, ditambahkan dengan manivestasi laku keutamaan, yang tercermin dalam sikap dan perilaku hidup. Ketiga hal itu harus dirangkai dalam kehidupan manusia dalam membangun jiwa untuk mengedepankan jiwa yang baik dan luhur.= Jiwa kang Kajawi. Ini pemahaman Jawa akan sesamanya manusia. Menghormati, memberi teladan dan menjunjung sesamanya.

Simak juga:  Memburu Wahyu Keprabon  

Sementara Langit berarti Laladan Lungit, daerah yang sakral, karena berhubungan dengan kepercayaan yakni kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Daerah Sakral ini adalah wilayah keesaan Tuhan. Wilayah keesaan Tuhan ini harus disadari benar oleh orang Jawa .Di dalam pemahaman Jawa , Tuhan Yang Maha Kuasa hanyalah satu , meliputi semua tempat, abadi, yang menciptakan alam raya seisinya, jadi pujaan orang se jagad raya, dengan cara menyembah menurut caranya sendiri-sendiri. Bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa meliputi semua tempat, juga ada di dalam diri kita, artinya cahaya Ilahi, Hananira sejatine wahananing Hyang, Adanya manusia sebenarnya merupakan sarana hadirnya Tuhan di dunia. Ingatlah bahwa Tuhan menciptakan mu melalui orangtuamu, oleh karena itu kamu haruslah menghormati orangtuamu.

  Perlu juga diingat di dunia ini ada dua hal yang disebut kebenaran, yaitu kebenaran menurut Tuhan, dan kebenaran menurut yang sedang berkuasa. Oleh karenanya  bertemu dengan Allah atau Tuhan Yang Maha Esa kalau kita senantiasa sadar. Ingatlah selalu bahwa hidup itu ibarat roda yang senantiasa berputar.

Sementara larangan dari Tuhan YME menurut paham Jawa adalaht: Jangan kamu berani mengaku aku sebagai tuhan meskipun ilmumu  sampai pada jenjang mampu memahami semuanya atau bisa tahu  bersatunya rakyat dengan Rajanya. Oleh karena itulah disarankan untuk : Aja dhisiki kersa=Jangan mendahului kehendak Allah.

Simak juga:  Yogya, Awalnya Tempat Pemberhentian Jenazah

Aja sira wani marang wong tuwanira, jalaran sira bakal kena bebendhu saka Kang Murbeng Dumadi=Jangan berani terhadap orangtuamu, lantara kamu bakal menemui kesengsaraan dari  Tuhan Yang Maha Kuasa. Diingatkan pula :” Aja mung kelingan lan migatekake barang kang katon bae, sebab, kang katon gumelar iki anane malah ora langgeng=     Jangan hanya ingat dan terpaku kepada barang yang kelihatan saja, sebab yang tergelar di jagad raya ini tidaklah abadi. Dan Aja darbe pangira yen lelembut itu mesthi alane, jalaran sing apik iya ana, sing ala iya ana, ora beda karo manungsa= Jangan mempunyai prasangka bahwa yang tak kelihatan itu temtu jelek, karena yang baik juga ada, yang jelek juga ada, tidak beda jauh dengan manusia. Dipesankan:” Aja lali saben ari eling marang Pangeranira, jalaran sejatine sira iku tansah ketunggon Pangeranira= Jangan lupa setiap hari ingat dan sadar terhadap Tuhanmu, karena sebenarnya kamu  senantiasa disertai oleh Tuhanmu.

Oleh karena itulah semangat among tani Dagang layar seharusnyalah dijiwai oleh semangat di atas. Lantaran sebagaimana Pangeran Mangkubumi menorehkan spiritualitas Warga Yogyakarta dengan masterplan kotanya yang bernuansa spiritual, oleh karenanya semangat Among Tani Dagang Layar dilandasi oleh semangat yang sama yakni pertautan antara langit dan Laut sebagaimana disodorkan oleh Panembahan Senapati. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Yogya, Awalnya Tempat Pemberhentian Jenazah

SEKITAR tahun 1700-an, sebuah perkampungan kecil telah muncul di hutan Beringan. Oleh para pujangga terdahulu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *