Selasa , 13 November 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Melestarikan Tekad Gajah Mada

Melestarikan Tekad Gajah Mada

SIAPA tak kenal Gajah Mada. Dengan sumpah Palapanya Gajah Mada mempersatukan Nusantara.

Tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan Gajahmada berikrar Palapa, bertempat di pasowanan paseban agung setelah penyelenggaraan acara ritual sesajian peringatan tahunan, Sang Maharaja Puteri Tribuwana Tungga Dewi (berkuasa di Majapahit pada 1328-1350) langsung duduk di Bangsal Pengrawit. Arya Tadah mengundurkan diri sambil menyerahkan keris pusaka kepatihan.

Sesaat kemudian Sang Raja Puteri mengundang Adityawarman serta Raja Matahun Wijayarajasa membawa Gajahmada datang mendekat. Sang Maharaja Puteri memberikan surat tertutup pelantikan Mahapatih kepada Adityawarman, dan menyuruh untuk membacanya. Setelah dibaca diberikan kepada Gajahmada, kemudian Sang Raja Puteri memberikan keris kepatihan kepada Wijayarajasa yang langsung diselipkan ke pinggang Gajahmada.

Setelah Sang raja meninggalkan tempat, disitulah Gajahmada menyatakan sumpah janji yang oleh para pujangga disebut Sumpah Palapa.

Dalam buku A. Story of Majapahit, Gajahmada berikrar yang konon sambil mengangkat keris kepatihan: Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, Seram, Tanjung Pura, ring Haru, ring Daha, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana. Samana isun amukti Palapa”.  

Maksud dari ungkapan di atas kurang lebih “selamanya tidak akan memakan palapa, apabila seluruh saudara bersuku-suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara belum bergabung menjadi satu, belum ikut merasakan kemakmuran serta belum ikut menikmati keluhuran dan kehebatan negara Majapahit”. Namun akhir akhir ini muncul tafsiran baru yang menyatakan bahwa Palapa itu adalah maca cuti kalau istilahnya sekarang. Artinya tidak akan berhenti cuti kalau Nusantara belum bersatu.

Dapat dikatakan bahwa pusat kendali kerajaan Majapahit berada di tangan Gajahmada, sedang Prabu Rajasanagara (Hayamwuruk, bertahta sejak 1350) tinggal sebagai lambang kesatuan.

Kejayaan Majapahit pada masa Hayamwuruk dan Patih Gajahmada itu disebut sebagai zaman kerta, zaman emas atau windu kencana. Negara manca menyebut Swarnadwipa, artinya pulau emas, yang maksudnya adalah seluruh kepulauan yang penduduknya tidak kekurangan sandang dan pangan. Kejayaan itu menjadi nyanyian para pujangga yang selanjutnya menjadi jimat pusaka prasasti yang lestari dalam sanubari masyarakat Indonesia.

Sementara dalam kebijaksanaannya kepemimpinannya Gajah Mada menggunakan Pustaka Asta Dasa Parateming Prabu atau 18 ilmu kepemimpinan.

Kedelapan belas prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut, antara lain : Wijaya ; Artinya seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan.

Mantriwira; Maksudnya pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun.

Natangguan : Artinya pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan.

Satya Bhakti Prabhu ; Artinya seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa.

Wagmiwak ; maksudnya pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.

Wicaksaneng Naya ; Pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.

Sarjawa Upasama ; seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.

Dhirotsaha ; seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.

Tan Satrsna ;Maksudnya seorang pemimpin tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk mensukseskan cita-cita bersama.

Masihi Samasta Bhuwana ; Maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.

Sih Samasta Bhuwana ; Maksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya.

Negara Gineng Pratijna ; Maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

Dibyacitta ; Maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).

Sumantri ; Maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.

Nayaken Musuh ; Maksudnya dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.

Ambek Parama Artha ; Maksudnya seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.

Waspada Purwa Artha ; Maksudnya seorang pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (Instropeksi) untuk melakukan perbaikan.

Prasaja ; Artinya seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.

Lihat Juga

Amustikarana

MUNGKIN kita tak begitu menghiraukan ketika rumah-rumah di jaman dahulu di pagar nya terdapat hiasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.