Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Marsudi Mardawaning Laku Jantraning Jagad

Marsudi Mardawaning Laku Jantraning Jagad

Membaca Lambang di Balik Jokowi Mantu

Orang jadi penganten ibarat sebagai raja yang diwisuda, sehari duduk berjajar dengan suami atau isterinya duduk di singgasana diapit oleh perawan ting-ting yang mengipasinya dengan lar badhak.  Perawan kembar ini biasa disebut sebagai patah sakembaran.

Kedua-duanya dirias dan dihias dengan untaian bunga indah dan harum mewangi. Dari kepala hingga seluruh badan dihias dengan indah dan harum mewangi.

Sebagaimana harapan orangtua dan orang banyak penganten bisa membangun kehidupan rumah tangganya bisa lestari harus mempunyai pegangan yang pasti untuk menjaga tegaknya balai rumah tangganya.

Pegangan itu disebut sebagai hasta brata. Lalu apa dan bagaimana pemahaman hasta brata itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan rumah tangga. Hasta adalah delapan sementara brata adalah laku atau cara.

Pertama-tama orang Jawa melihat  sifat dan keadaan bantala atau bumi. Kalau bantal itu untuk tidur, tetapi bantala artinya bumi.  Bunga mawar harum mewangi , orang yang sabar dengan hati yang lapang bakal mendapatkan anugerah dari sifat  itu. Sifat bumi itu sabar. meski disakiti, dipacul dihina bahkan dipestisida, malah memberikan kebaikannya dengan memberikan pertumbuhan seperti palawija, pala kapendhem dan macam-macam tanaman pertanian dan barang-barang pelikan yang menjadi kekayaan dari yang membuatnya sakit.

Yang kedua adalah melihat sikap dan sifat dari laku matahari. Sementara sifat dan sikap  matahari itu senantiasa memberikan pencerahan serta memberikan kehidupan kepada semua kehidupan baik tumbuh-tumbuhan, hewan ataupun manusia  yang berada di dunia ini yang senantiasa mendapatkan cahaya dan sinarnya.

Ketiga adalah menyimak sikap dan sifat dari kartika atau bintang. Kartika atau bintang di langit itu senantiasa tangguh dan tanggon. Meski dihadang oleh angin dan mendung serta prahara besar seperti putting beliung seberapa besarnya tetap tidak pernah bergerak. Artinya tangguh dan kokoh atau puguh, tidak bakal mundur selangkahpun. Ibaratnya seperti pasukan berani mati. Nekad. seperti semangatnya para bonek yang hanya berbekal bandha nekad.

Yang keempat  adalah penganten harus menyimak sikap dan sifat dari bulan yang senantiasa memberikan pencerahan kepada orang yang sedang dalam kegelapan. Di samping itu memberikan pengaruh ketenteraman bila bulan senantiasa bersinar. Karena orang tahu tidak bakal hujan kalau bulan ada sehingga manusia bisa tenang melakoni kehidupannya.

Yang kelima keluarga baru harus bisa mencontoh kehidupan yang diteladankan oleh samudera. Laut atau samudera itu mampu mewadahi apa saja yang dibuang ke laut. Meskipun ada sampah industri, ada sampah rumah tangga, bangkai binatang atau bahkan mayat manusia, tak pernah ditolak. Semua diterima dengan senang hati tanpa adanya rasa mengeluh. Kesabaran yang sangat tinggi diteladankan oleh samudera oleh laut dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

Selanjutnya manusia yang tengah membangun bahtera kehidupan baru harus menyimak sikap dan sifat jantraning tirta. Sifat air adalah senantiasa rendah hati. Senantiasa mencari tempat yang rendah. Oleh karena itulah sering disebut sebagai sikap yang lembah manah andap asor atau rendah hati bukannya rendah diri. Sneh ketika air di sungai melewati pohon atau batu yang besar, ia senantiasa menghindari artinya mencari jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Namun jangan dikira kalau tengah mengamuk air bisa mempunyai kekuatan yang luar biasa. Apapun bisa dihancurkannya. Air juga mempunyai sifat pembersih. artinya ia juga mampu membersihkan hal-hal yang kurang baik dalam kehidupan berumah tangga.

Yang ketujuh adalah bahwa penganten haruslah bisa meneladan sikap dan sifat angin. Watak angin senantiasa menerobos di manapun . Artinya dia mampu manjing ajur ajer di manapun juga dan memberi kesegaran kepada siapa saja, serta mampu memberikan bantuan dalam bentuk lahir maupun batin kepada siapa pun yang membutuhkan..

Yang kedelapan manusia yang tengah bersanding di pelaminan harus berkiblat pada sifat dan watak api. Api itu berwatak membakar apa saja yang kelihatan. Artinya dia harus mampu menghilangkan apa saja rintangan yang menghadang di dalam kehidupannya. Namun demikian bila diatur ia juga mampu memberikan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkannya. Bakti penganten dalam kehidupan berumah tangga itu harus menjadi sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.  Semuanya ditujukkan ke dalam kesentosaan jiwa, hati, rasa dan budi pekerti, yang tidak lain menuju rasa yang mantab dan lurus serta leres dalam mengemban kewajibannya. pengertian hasta brata ini menunjukkan rasa menyatu. bersatunya rasa karsa dan cipta yang bakal menuju pada terwujudnya karya yang baik.

Terwujudnya delapan sikap dan watak tadi bakal mempengaruhi sikap mantap dan lurus dalam mengemban amanah Pangeran yang menciptakan jagad raya serta menjauhi segala larangannya, disamping juga senantiasa ingat dan bisa menyelaraskan sikap dan tindak dan melestarikan watak sabar terhadap semua kehidupan yang sedang dilakoninya dan tidak malah tertarik terhadap hal-hal yang bersikap takhayul. Bisa diringkas dalam satu sikap bahwa orang yang sedang mengemban tugas menjadi manusia Jawa sejati adalah menumbuhkan sikap dan tindakan:” Niyat ingsun nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi, aruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama”.

Hati yang indah manis yang senantiasa dikedepankan dalam kehidupan sehari-hari. artinya tidak pernah curiga kepada siapa saja. hidup baik senantiasa berpikiran positip. disertai omongan yang mengajak kepada kebaikan, syukur-syukur mengarah kepada keindahan dalam membangun keindahan surga di dunia. Didukung oleh tindak laku keutamaan. sehingga dengan demikian kehidupan berumah tangga di  masyarakat tidak pernah menyakiti orang lain tetapi menjadi teladan hidup yang baik bagi sesamanya.

Dengan bersikap seperti itulah penganten baru mampu membuka tindakan yang baik yang senantiasa ingat akan kewajibannya di dunia dan senantiasa bersandar pada bersihnya cara berfikir dan nalar. untuk menghindari laku agar selarasdengan cita-cita serta keinginannya  mampu menumbuhkan ketenteraman dan kesejahteraan yang membuat masyarakat menjadi semakin indah.

Sebagai pedoman laku keutamaan bagi penganten Jawa  delapan macam sikap dan tindakan dapat diwujudkan dalam delapan simbol yakni wanita, wisma, turangga, curiga, kukila, waranggana , dan pradangga dengan berbagai rincian sebagai berikut.

Pertama wanita, atau wanodya kang puspita merupakan simbol keindahan yang tiada tara, tersurat dan tersirat. orang bercita-cita luhur diibaratkan lelaki yang ingin mempersunting wanit cantik. untuk mendapatkannya orang harus berusaha sekuat tenaga belajar, bekerja dan berusaha, tanpa kenal lelah dan pantang putus asa.

Yang kedua adalah garwa. atau sigaraning nyawa adalah simbol kebersatuan dua raga satu jiwa. setiap orang hendaknya dapat bersatu dengan lingkungan, saudara, tetangga dan masyarakat sekeliling. untuk mendapatkan kebersatuan orang harus berusaha agar suapaya hidup di masyarakat dengan rukun, damai, saling mengasihi dan semua orang dianggap sebagai teman hidup yang senasib dan sepenanggungan.

Yang ketiga adalah wisma atau rumah merupakan tempat kediaman keluarga, sebagai tempat berlindung dari panas, hujan dan bencana lainnya. Sebagai tempat kediaman  rumah  harus senantiasa diatur rapi oleh penghuninya. setiap orang hendaknya dapat meniru sifat rumah yaitu dapat menerima siapapun yang memerlukan perlindungannya dan menyesaikan masalah sefcara arif serta bijaksana.

Yang keempat adalah turangga atau tunggangan perang para punggawa tentu harus gagah dan lincah, dapat berlari dan berhenti selaras perintah penunggangnya. Di situ manusia akan sadar bahwa fisik, panca indera, nafsu harus dikendalikan oleh jiwa dan budi luhur. Nafsu terkendali pasti akan menyejukkan. Sebaliknya nafsu liar tentu akan mencelakakan manusia. Kempatnya harus dibuat asyik, namun tetap terkendali. Bila berhasil mengekangnya, maka cita-citanya yang diburu akan mudah tercapai

Yang kelima adalah curiga atau curi dan raga. Curi atau batu cadas yang runcing berbahaya bagi badan manusia, jika tidak digunakan secara tepat. Senjata ini melambangkan kepandaian, keuletan dan ketangkasan dalam menghadapi segala tantangan hidup. Agar selamat manusia hendaknya memiliki pikiaran tajam dan belajar bertindak dengan benar, cepat dan tepat tangkas dan serba ulet menghadapi berbagai macam ancaman.

Watak keenam adalah kukila  atau burung perkutut yang dipelihara untuk didengarkan suaranya yang merdu. Suara yang merdu adalah simbol suara manusia yang berbudi luhur. manusia hendaknya bisa berucap yang enak didengar, dan tidak menyakiti hati lawan bicara . di samping itu setiap kata hendaknya jelas, tegas dan berisi, serta bisa dimengerti dan diindahkan oleh lawan bicaranya.

Yang ketujuh dalah waranggana atau ronggeng atau pesinden yang dulu menyanyi sambil menari di panggung terbuka mengundang biasanya empat penonton untuk menari bersamanya. Mereka harus bisa menari dengan baik agar si ronggeng tidak berpaling pada orang lain.

Yang terakhir adalah pradangga atau praptaning kendang lan gangsa hanya dapat dinikmati bila ditabuh dengan harmonis, di bawah kendali kendang. seperangkat gamelan adalah simbol dari sebuah masyarakat dengan berbagai sifat dan watak serta kepandaian dan keinginan para anggotanya. Ketenteraman akan terjamin bila anggonya rukun dan aktif berpartisipasi sesuai dengan kecapakan mereka masing-masing. Ajaran ini sebenarnya termakut dalam berbagai karya sstr klasik Jawa seperti serat ramayana, serat Rama Jarwa, Serat Nitisruti, Serat Ajipamasa, Pustaka Weda Udanegara, Serat Tumuruning Wahyu Maya. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *