Beranda » Peristiwa » Mantan Wartawan Yogya Meninggal Saat Diskusi Kebangsaan
Arie Giyarto menyematkan bendera ke Rosandi Rudatan, dua jam sebelum Rudatan meninggal dunia. (ft. Ist)

Mantan Wartawan Yogya Meninggal Saat Diskusi Kebangsaan

Jagad wartawan Yogyakarta kembali berduka. Drs Rosandi Rudatan SPd, Selasa (22/8/2017) siang dipanggil pulang ke haribaan Allah SWT secara sangat mendadak saat mengikuti Diskusi Kebangsaan dalam Masyarakat Multikultur di Kampus 2 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Jalan Babarsari, Sleman.

Rudatan meninggal beberapa saat menjelang Adzan Duhur. Rudatan yang duduk di deretan kursi paling belakang sayap barat. Dia merupakan penanggap pertama setelah narasumber yang terdiri dari anggota DPR RI Drs H Idham Samawi MM, sosiolog Drs H Yuly Khodir dari UMY dan Dr Bambang Priyo Subandono dari UAJY dan Rektor UAJY selesai menyampaikan materi. Ketika pertanyaan itu dijawab oleh Idham Samawi, Rudatan yang duduk bersebelahan dengan Koran Bernas sudah tak ada lagi di tempat. Ternyata dia bergeser beberapa meter ke barat dan berdiri bersandar di tembok.

“Aku pegel je yen lingguh terus(saya pegal kalau harus duduk terus-red),” katanya kepada seorang teman.

Tiba-tiba Rudatan limbung dan terjatuh. Sejumlah peserta dan panitia yang ada di dekatnya segera berlarian memberi pertolongan. Tubuh pria berpostur kecil itu diangkat ke dekat pintu masuk. Karena kondisinya mencemaskan, dengan tubuh dingin dan menggigil serta terjadi perubahan raut muka, dia segera dilarikan ke RSAU Hardjolukito

“Tapi sampai di ruang UGD ternyata sudah meninggal,” kata Johan Tedja, ketua panitia Diskusi Kebangsaan ke-7 yang membawanya ke RS.

Dia memperkirakan, Rudatan meninggal dalam perjalanan ke RS. Dua dokter yang sempat memeriksa, menurut Johan mengatakan almarhum meninggal karena serangan jantung. Ketika kabar duka itu disampaikan Sekretaris Paguyuban Wartawan Sepuh Drs Sugeng Wiyono kepada MC Maria Kadarsih, acara dihentikan sejenak.

Seluruh peserta diajak hening sejenak mendoakan arwah almarhum. Pulang dari RS, almarhum disemayamkan di rumah duka, Jalan Kantil III, Condongcatur Sleman. Menurut rencana, almarhum akan dimakamkan Rabu (23/8/2017) pukul 10.00 di makam Tambakbayan, tak jauh dari rumahnya.

Rudatan memang sudah bukan wartawan lagi. Pria kelahiran 27 Desember 1952 yang menghabiskan masa kecil dan remaja di Tukangan Yogya itu terakhir berstatus pensiunan guru SMA Negeri 4 Yogyakarta Karier wartawannya dimulai dari majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang. Kemudian pindah ke Harian Bernas sejak masih berkantor di Jalan Gondomanan 15. Ketika kawah Sinila di dataran Dieng mengeluarkan gas beracun yang meminta banyak sekali korban, Rudatan menulis laporan komprehensif dan menarik.

Ketika Bernas bekerjasama dengan Grup Kompas Gramedia dan berkantor di Jalan Jendral Sudirman, dia dihadapkan pada pilihan. Tetap menjadi redaktur Halaman Bisnis waktu itu, atau menjadi guru SMA Negeri Karangmojo Gunungkidul.

Karena sulitnya mengatur waktu lantaran jarak jauh yang dilaju, akhirnya Rudatan nemilih tetap jadi guru hingga pensiun di SMAN 4 Yogya. Sejak awal, dia juga aktif menulis buku cerita bersambung berlatar silat. Banyak buku lain ditulisnya, akhir-akhir ini terutama berkait dengan teknologi komputer.

“Ini buku bapak terakhir, baru minggu ini selesai,” kata Unik, anak kedua almarhum sambil menunjukkan buku bersampul biru yang masih terbungkus plastik.

Judulnya “10 Teknik Paling Efektif Trading Binary”. Unik kemudian membagi buku tersebut pada Koran Bernas dan rekan~rekan PWS yang hadir ke rumah duka.

Tak Ada Firasat

Unik tidak mendapat firasat apa pun atas berpulangnya almarhum. Cuma kepada ibunya, menurut Unik, ayahnya berkata “Bu, yen dipundhut, muga~muga ibu dhisik. Ben aku bisa ngurus ibu”. Tapi hal ini ditanggapi Ny Jati Rudatan sebagai gurauan saja.

Saat hadir di arena diskusi tak seorang pun melihat ada tanda~tanda aneh. Juga ketika duduk di samping Koran Bernas yang sempat menyematkan pita merah putih yang harus dikenakan di lengan, Rudatan masih ceria dan banyak cerita. Tetapi menurut Unik, ayahnya sempat nenghubungi Ari, kakaknya, mengeluh habis minum obat karena badannya tidak enak. Ari menyarankan ayahnya istirahat saja. Saat Koran Bernas mengecek dus snacknya, memang ada bungkus obat Polysteane obat untuk lambung.

Menurut Unik, keluarga tidak tahu kalau Rudatan mengidap penyakit jantung. Dua kali check up, hasilnya negatif. Tetapi sudah sejak lama, ayahnya sering mengeluh sakit di ulu hati. Keluarga sama sekali tidak menduga, jantung telah merenggut nyawa ayah dari dua anak dan kakek dari tiga cucu itu secara mendadak. Memutus cinta yang selama ini begiu hangat dibangun dalam keluarganya.

Selamat jalan mas Rudatan. Semoga engkau mendapat tempat yang nyaman di sisi Allah. (Arie Giyarto)

Sumber: koranbernas

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *