Selasa , 21 November 2017
Beranda » Pariwisata » Malioboro, Jalan yang Melegenda (2): Pasar Besar dan “Titik Api” Yogyakarta

Malioboro, Jalan yang Melegenda (2): Pasar Besar dan “Titik Api” Yogyakarta

PEMERINTAH Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri mengakui tentang beragam permasalahan yang ada di Malioboro. Di dalam ‘Buku Tahunan Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1999/2000’ disebutkan, fasilitas yang tersedia di Kawasan Malioboro menyebabkan kawasan ini menjadi salah satu ruang besar yang di dalamnya terdapat jenis kegiatan. Banyaknya ragam kegiatan yang diwadahi terutama yang berkait dengan usaha perdagangan, baik skala besar maupun kecil, dibandingkan dengan luasan atau lahan yang terbatas, menimbulkan rangkaian permasalahan yang sangat kompleks. Dari pengamatan yang dilakukan, beberapa masalah yang muncul di Kawasan Malioboro antaralain menyangkut aksesibilitas, tata ruang, serta ketertiban pengguna kawasan, yang kemudian menimbulkan ketidaknyamanan .

Kota memang tidak dapat dipisahkan dari pasar, pertokoan dan pusat perbelanjaan. Bahkan menurut pakar perkotaan, Bintarto (1977), pasar selalu merupakan ‘titik api’ atau fokus point dari sesuatu kota.

Malioboro tidak hanya sebuah jalan dan tak sekadar prasarana transportasi, tapi juga telah menjadi sebuah pasar. Dan, Malioboro sekarang pantas disebut sebagai ‘pasar besar’, karena selain memiliki pasar tradisional (Pasar Beringharjo) juga terhampar barang dagangan pedagang-pedagang kakilima dari utara   sampai ke selatan. Dari selatan Teteg Rel KA sampai kawasan depan Kantor Pos Besar. Disamping itu terdapat pula berderet-deret toko besar dan sedang, pusat-pusat perbelanjaan, serta warung-warung lesehan yang menggelar dagangannya dari sore hingga pagi hari.

Karena itulah, Malioboro memang telah menjadi ‘titik api’ bagi Yogyakarta. Dari ‘titik api’ inilah akan tercermin bagaimana wajah Yogyakarta sesungguhnya serta bagaimana kehiruk-pikukannya dan bagaimana perilaku masyarakatnya.

Masih menurut Bintarto (1977), pada waktu dulu pasar merupakan daerah yang terbuka, dimana para petani dan para pengrajin membawa barang-barangnya, dan melaksanakan perdagangan secara barter atau tukar barang dengan barang. Kemajuan di bidang transportasi dan digunakan sistem uang, maka sistem barter ini menjadi sistem jualbeli. Perkembangan selanjutnya di bidang industri telah membawa perubahan yang besar untuk pasar ini. Sifat pasar berubah dari daerah terbuka menjadi gedung-gedung pusat perdagangan yang sedikit banyak tertutup, yang menjual-belikan hasil bumi dan hasil-hasil industri.

 

Terus Berkembang

Keadaan seperti itulah yang terjadi di Malioboro. Dari tahun ke tahun, dari masa ke masa, Malioboro terus berkembang. Dari pasar yang sangat tradisional sampai ke ‘pasar besar’ sekarang ini. Kini, Malioboro memang telah berubah menjadi ‘pasar besar’ yang ramai, padat, dan penuh kehiruk-pikukan. Keramaian, kepadatan dan kehiruk-pikukan itu sempat bertahun-tahun memunculkan rasa ketidaknyamanan.

Sebagai sebuah ‘pasar besar’, berbagai kegiatan niaga dan kegiatan kehidupan lainnya seakan ‘tumpah-ruah’ dan berjejalan di Malioboro. Seperti tak ada lagi ruang kosong di Malioboro yang bisa membuat pegunjung atau pengguna prasarananya bisa bernapas lega.  Hiruk pikuk pengunjung, deru mesin kendaraan bermotor, teriakan kernet-kernet bus kota, ringkik kuda andong, kesibukan pedagang kakilima memburu pembeli, serta suara sumbang nyanyian pengamen, dan beragam keriuhan lainnya seakan bergumpal menjadi satu.

Campur-baurnya berbagai keriuhan dan kesibukan itu sempat mencuatkan kesan bahwa Malioboro bukan lagi kawasan yang nyaman dan menyenangkan, tapi telah berubah menjadi area yang penuh keruwetan serta kesemerawutan. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *