Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Malioboro 2057, Yogya di Mata Penyair Sutirman Eka Ardhana
Marzuli Ridwan Al-bantany (ft. fb)

Malioboro 2057, Yogya di Mata Penyair Sutirman Eka Ardhana

Tak pernah kudaga sebelumnya. Seorang penulis suka-suka sepertiku ini mendapatkan sebuah ‘kado’ teristimewa.

Ya, itulah sebuah buku kumpulan puisi yang dihadiahkan oleh seseorang yang menurutku istmewa pula. Dialah Sutirman Eka Ardhana, penyair sekaligus sastrawan yang kini menetap di Yogyakarta. Dia menghadiahiku sebuah buku mungil namun puitis. Lembaran-lembaran imajinasi yang ditulisnya sebagai media berbagi cerita; tentang Yogya dari sepilihan puisi-puisi yang dicipta.

Tanganku bergetar. Dadaku pun ikut berdetak. Sebab karya seorang penyair yang sudah malang-melintang dalam dunia sastra di tanah air itu, kini benar-benar hadir di mataku. Selama ini aku hanya melihatnya dalam status-status di media sosial yang diunggahnya.

Di siang Jumat itu pun, puji dan syukur tak henti menderu dalam jiwaku. Dalam napas-napas yang kuhembuskan.

“Ini bang, buku yang dititipkan itu,” ujar ‘Cik Mat’, lelaki humoris yang pernah menjadi mahasiswanya semasa berkuliah di Yogyakarta di suatu waktu dahulu.

Sebagai seseorang yang terlanjur jatuh hati dengan dunia sastra, aku melihat ada berbagai rasa dan berjuta pengalaman hidup yang telah diteguknya di sepanjang usia yang dilalui. Dari semua untaian puisi dalam buku yang berjudul Malioboro 2057 ini, adalah ungkapan jujur Sutirman Eka Ardhana tentang daerah yang kini menjadi tempat tinggalnya itu.

Ia memandang Malioboro, memandang setiap sudut Kota Yogyakarta dengan segala pernak-pernik yang ada. Tentunya melalui kata-kata puitis yang terus mengalir dari dalam dirinya, yang kemudian dituangkannya menjadi sebuah karya sastra yang indah dan bernilai sastra.

Meski kuakui belum seluruh isi bukunya kubaca, namun buku puisi yang diterbitkan oleh Interlude, Yogyakarta pada tahun 2016 yang memuat sebanyak 52 puisinya itu, sungguh menggugah rasa; menggugah imajinasi bagi siapa saja yang berniat dan mencoba menyelami hakikat di sebalik karya-karyanya itu. Ini terlihat dari salah satu puisinya tepat pada halaman 20 yang berjudul Malioboro 2057 – yang juga sekaligus menjadi judul pada cover bukunya ini.

Dalam puisi yang diciptanya pada tahun 2007 tersebut, pria kelahiran Bengkalis 27 September 1952 ini seolah-olah hendak mengatakan kepada cucu-cucunya, kepada masa depan, kepada Malioboro di tahun “2057” nanti. Mungkin juga kepada Yogyakarta, kepada isteri atau teman-teman dekatnya, dan mungkin juga kepada setiap generasi yang datang setelahnya, tentang segala resah yang selalu berlegar-legar di mindanya. Tempat ia menumpah keluh kesah, berbagi suka maupun duka.

Kerisauan Sutirman Eka Ardhana akan memudarnya pengetahuan sejarah dan budaya di kalangan masyarakat luas, tampak kian terlontar dalam puisi berjudul Malioboro 2057 ini. Bahkan ia mengkhawatirkan jika di suatu saat nanti sejarah dan budaya yang pernah mengakar dan demikian kuat, perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan akhirnya sirna tak bersisa.

Bila membaca puisi-puisi yang ditulis Sutirman Eka Ardhana, pria berusia 65 tahun dalam buku sepilihan puisi tentang Yogya ini, kita tidak hanya dibawanya menyusuri setiap jengkal tanah Yogya. Namun kita juga dibawanya mengembara menyusuri jejak-jejak rindu dan tapak-tapak kenangan yang pernah ia singgahi. Semuanya tentang Yogya, tentang cinta dan rindu yang selalu bersemayam di jiwanya.

Tapi bila menyimak sebuah puisinya pada halaman 19 yang berjudul “Malioboro, Suatu Saat Nanti”, bahkan puisi ini kembali ditulisnya pada cover belakang buku ini, aku bagai menemukan suatu jawaban atas teka-teki, tentang apa yang ‘dikhawatirkannya’ seperti pada puisi “Malioboro 2057” itu. Bagai ada sebuah isyarat yang menyatakan betapa semakin bertambahnya umur sudah tentu akan merubah segalanya, termasuk merubah penampilan fisik dirinya yang semakin tua, namun tidak dengan jiwanya.

Atau apakah yang dimaksudkannya kali ini tentang Malioboro?. Atau tentang wajah Kota Yogya yang kian dimakan usia dan zama yang silih berganti?. Nah, secara pasti beliaulah yang bisa menjelaskan itu semua.

Baiklah, dan sebelum kuakhiri tulisan singkatku ini, mari sejenak kita selami setiap kata yang tertuang dalam puisi berjudul Malioboro 2057 yang menjadi judul buku yang istimewa buat diriku ini:

MALIOBORO 2057

Cucu-cucuku mungkin kecewa, karena letih
mencarimu. Padahal sudah kutitipkan salam
dan cerita, bahwa kau adalah sahabat setiaku
teman bercanda, tempat berkeluh-kesah,
berbagi suka-duka

Cucu-cucuku mungkin kecewa, karena hanya
menemukan kebesaran namamu di buku-buku
usang, yang terhimpit sia-sia
di gudang-gudang berdebu
perpustakaan tua

Cucu-cucuku mungkin kecewa, dipagut kelu
karena menemukan kebanggaanku
merana dan sirna
tak bersisa

Cucu-cucuku mungkin kecewa

Yogya, 2007

Ada kekaguman yang mendalam pada sosok pria yang begitu dekat dengan cucu-cucunya ini. Sebab selain seorang sastrawan yang tunak menulis puisi dan cerpen, Sutirman Eka Ardhana juga dikenal sebagai penulis yang sarat pengalaman. Tercatat sejak tahun 1974 telah menggeluti dunia jurnalistik, pernah menjadi wartawan dan redaktur di sejumlah koran-koran besar di Yogyakarta. Bahkan di usianya yang sudah sepuh ini, beliau masih setia dan menekuni dunia jurnalistik, menjadi Pemimpin Redaksi MALIOBORO EKSPRES dan redaktur Majalah Sabana.

Terima kasih, Pak. Bukunya telah sampai dengan selamat.

Karya agungmu ini telah menjadi tamu almari bukuku. Kan kujadikan pelecut di denyut nadi dalam setiap karya yang bakal kuciptakan kelak. Amin (Marzuli Ridwan Al-bantany)

Lihat Juga

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.