Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Makna Simbol ‘Uba-Rampe’

Makna Simbol ‘Uba-Rampe’

KETIKA Sebuah Lembaga Penerbitan bersama Pametri Wiji menyelenggarakan ‘Jamasan Tosan Aji’, berbagai ‘uba rampe’ atau sesaji disediakan. ‘Uba Rampe’ ini makin banyak lagi bila kita mengikuti ‘jamasan pusaka Kraton’.

Lalu apa makna ‘uba rampe’ dalam kaitan dengan filosofi Jawa. Perlu kembali kita segarkan pemahaman kita akan keris. Dalam pemahaman Jawa seorang lelaki dewasa matang harus ‘mempunyai’; Wisma, Turangga, Curiga, Kukila, Wanita’ . Secara harfiah orang menerjemahkan rumah, kuda, keris, burung dan isteri (wanita), tetapi makna simbolisasinya tidak pernah disinggung.

Dalam pengertian tentang hal ini sekarang justru pemahaman tentang makna simbolisasi yang harus diperhatikan. Keris harus dipahami sebagai ‘senjata perang’, sangu hidup. Sangu untuk hidup itulah yang diwujudkan dalam bentuk ‘uba rampe’ yang secara riil diwujudkan dalam bentuk berbagai barang duniawi. Tetapi sesungguhnya simbolisasinyalah yang harus ditangkap. Sebab orang Jawa tidak pernah memberi nasehat secara langsung, tetapi biasanya tersirat dalam suatu simbol.

 

Religiusitas Jawa

Dalam pemahaman ini juga perlu ditangkap bahwa keris merupakan sebuah manifestasi dari religiusitas orang Jawa.

Di surat kabar pernah pula disingkap mengenai keris sebagai manifestasi ‘manembah jati’ yang dikaitkan dengan ‘sangkan paraning dumadi’. Dan untuk mencapai persatuan dengan ‘Gusti'(manunggaling kawula-Gusti) ternyat dibutuhkan sangu.

Sangu itu berupa ‘uba rampe’, seperti bunga setaman, sanggan, berupa pisang raja, wewangian, berbagai jenis makanan, dan minuman.

Dalam tradisi Jawa dikenal ‘Bunga Setaman’ sebagai simbolisasi sebagi bunga Ilahi yang tertanam di dalam diri manusia yang diharapkan bisa semerbak mewangi keseluruh penjuru dunia. Sebab taman dalam simbolisasi bisa berarti lingkungan dimana manusia hidup. Bisa di suatu tempat tertenu dan bisa juga berskala luas yakni dunia.

 

Raja atas Dirinya

‘Sanggan ‘ berupa buah pisang Raja juga menggambarkan suatu harapan. Sanggan berarti kewajiban. Dipilih pisang dan bukan buah yang lain, ini pun punya arti. Pohon pisang hanya hidup sekali. Setelah berbuah kemudian mati. Ibaranya, manusia itu mempunyai kewajiban hidup sekali. mengapa dipilih pisang Raja. Diharapkan manusia bisa menjadi raja atas dirinya sendiri. Raja dalam dalam pengertian ini adalah bijaksana, berwibawa dan mempunyai kemampuan mengendalikan pemerintahan. Manusia harus mampu mengendalikan hidupnya sendiri seperti seorang raja. Sedangkan berbagai wewangian jelas menyiratkan gambaran harapan bahwa hidup manusia harus berarti dan berkebajikannya harus terpandang, sehingga setelah manusia mati, ia meninggalkan nama harus semerbak, seperti harumnya berbagai wangi-wangian yang ada. Di samping itu juga sering terbersit ungkapan pisang ayu suruh ayu, ini merupakan lambang keinginan manusia yang mempunyai pangajab-pengharapan yang baik-rahayu selamat.

 

Kesejahteraan Manusia

Dari beberapa catatan dimunculkan mengenai berbagai uba rampe merupakan hasil alam yang kesemuanya ditujukan bagi kesejahteraan manusia. Sekilas bisa ditangkap bahwa manusia harus berkaca kepada alam.

Prinsip ini sebenarnya amat populer bagi orang Jawa. Bahkan pemahaman ini dipertajam lagi dalam ‘Hasta Brata’.

Memang sulit untuk dicari referensi tentang simbolisasi yang tertuang dalam berbagai macam uba rampe ini. Tidak ada satu buku pun yang bisa menjelaskan masalah filosofi bunga. Namun dalam pandangan masyarakat Jawa keluasan wawasan seseorang tentang kehidupan mempengaruhi kedalaman penafsirannya tentang berbagai lambang yang muncul. Kematangan pribadi dan kedewasaan juga menjadi dasar pemahaman simbolisasi secara dasariah. Oleh karena itu masyarakat Jawa tidak memberikan patokan tertentu mengenai sebuah simbolisasi, tetapi semua diserahkan kepada para penafsir. Dengan demikian kedewasaan, kematangan, kecerdasan, keaktifan dalam mencari jawab atas kehidupan menjadi sangu manusia untuk menaksirkan berbagai lambang yang muncul. Keluasan penaksiran lambang yang muncul tergantung keluasan wawasan seseorang. Sebagaimana kisah wayang, penangkapan penonton atas kisah wayang juga bermacam-macam, tergantung kedewasaan, wawasan dan kematangan manusia dalam berpikir.

 

Satu Rangkaian Utuh

Yang jelas uba rampe tidak bisa berdiri sendiri. Semua harus dikaiteratkan dengan sebuah ‘laku’ yakni penjamasan, kalau itu membersihkan pusaka.

Pembersihan merupakan sebuah ‘laku’, tata cara yang juga merupakan simbolisasi yang hanya bisa dipahami oleh mereka-mereka yang mengetahui apa itu maknanya. Oleh karena itu ‘uba-rampe’ dan segala peralatan yang digunakan dalam sebuah ‘laku’ itu sarat dengan simbolisasi dan lambang yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Semua itu dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh menuju kepada kesatuan dengan yang Mahakuasa (manunggaling kawula-Gusti).

Sayangnya tradisi ini masih berupa tradisi lisan dan amat sulit untuk dijelaskan, kecuali mereka yang mengerti dan memahami serta terbuka kepada hasil kebudayaan nenek moyang.

Sebagai hasil budaya keris memang unik, menarik dan kaya akan lambang dan simbolisasi. Uniknya lagi setiap keris mempunyai sejarah dan ceritanya. Maka sungguh suatu kesalahan bila keris ini kemudian dijadikan industri seperti sejarah batik. Sebab dengan begitu hanya akan mengubur keris sebagai hasil budaya. Kita perlu membiarkan keris apa adanya dan menggali dan mengkajinya kembali untuk menemukenali hal-hal yang sudah mulai kabur. Dengan demikian tradisi perkerisan di Indonesia bisa diharapkan semakin kaya dan semakin mendalam. Dengan begitu kita menghargai mahakarya nenek moyang secara tepat proporsional dan tidak salah. Sebab dari sini bisa kita gali dan kita temukenali lagi cikal bakal ‘jati diri bangsa’ yang bakal mendukung dan mempertegas jati diri bangsa yang sampai hari ini kian samar dan makin pudar. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *