Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Seni & Budaya » Makna dan Filosofi di Balik Erotisme Tayub

Makna dan Filosofi di Balik Erotisme Tayub

Stigma mesum sudah terlanjur diberikan oleh sejumlah pihak kepada tarian Tayub. Padahal Tayub merupakan salah satu bentuk kesenian atau tarian rakyat yang masih sangat dikenal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga hari ini. Stigma itu muncul, karena erotisme yang ditampilkan para penari Tayub atau dikenal dengan sebutan ledhek tersebut dinilai telah mengeksploitasi seks dan mengundang birahi. Benarkah demikian?

Kesan adanya erotisme pada tarian Tayub memang sesuatu yang tak bisa disangkal. Kesan itu terlihat jelas dari lengang-lenggok dan goyangan tubuh yang enerjik sang penari atau ledhek manakala sedang menari Tayub. Erotisme seperti itu selintas memang terkesan menggoda, menggairahkan, bahkan tak jarang ditafsirkan sebagai  upaya mengundang birahi, terutama bagi para lelaki yang ingin menjadi penayubnya. Kesan mengundang birahi itu akan semakin bertambah lagi, ketika sang penari tak henti-hentinya melempar senyum dan kerling mata yang seakan menggoda.

Sekelam itukah tarian Tayub? Serendah itulah nilai-nilai seni yang ada pada Tayub? Seburuk itukah citra dan imejnya? Bila kita ingin memandang dan menilainya dengan jujur serta tanpa prasangka moral yang berlebihan, sesungguhnya di balik erotisme Tayub terkandung makna dan nilai-nilai filosofi.

Padahal Tayub yang kini oleh sementara pihak dipandang dengan penuh curiga dan cibiran, serta dituduh penuh kemesuman itu, pada sekitar abad XV pernah berjasa bagi syiar agama Islam di kawasan pesisir utara Jawa. Abdul Guyer Bilahi, seorang tokoh da’i atau pendakwah di masa itu, mengembangkan syiar Islam di pesisir utara Jawa dengan menggunakan kesenian Tayub. Tarian Tayub sebagai bentuk kesenian rakyat yang populer di kala itu, dipakai sebagai media untuk memberikan pemahaman serta pengetahuan tentangt kebesaran Islam.

Simak juga:  Tak Akan Melayu Hilang di Dunia Maya

 

Dibuka dengan Shalawat

Erotisme Tayub yang selalu menjadi titik perhatian masyarakat penonton itu, serta alunan gamelan dan dentangan kendangnya dimanfaatkan sebagai media untuk mengundang warga atau masyarakat datang menonton. Masyarakat yang sudah tertarik perhatiannya terhadap Tayub, akan selalu datang lebih awal sebelum pergelaran tarian itu dimulai. Ketika warga masyarakat sudah banyak berkumpul itulah, dakwah Islam dimulai.

Sebelum pergelaran Tayub dimulai, acara diawali terlebih dulu dengan lantunan shalawat dan dzikir sebagai penghormatan serta penganggungan asma Allah. Sehingga ketika itu terjadi perpaduan antara Tayub sebagai bentuk kesenian rakyat dengan penyampaian syiar atau dakwah Islam kepada masyarakat. Jadi dalam satu acara atau perhelatan, masyarakat di samping mendapat hiburan secara jasmani juga akan mendapat siraman rohani yang mengukuhkan keyakinan mereka terhadap Islam.

Menyatukan budaya atau seni tradisi rakyat yang sudah ada dengan syiar dan dakwah Islam, memang merupakan cara-cara yang banyak dipakai para penyebar Islam di Jawa masa itu. Sebelumnya, Wali Sanga yang terkenal di Jawa itu misalnya, telah menggunakan media wayang kulit sebagai media syiar dan dakwah Islam. Menggunakan bentuk-bentuk budaya atau seni tradisi rakyat sebagai nedia syiar dan dakwah ternyata memang membawa keberhasilan dalam penyebaran di masa itu.

Dalam pemahaman tasawuf Islam Jawa, tarian Tayub dan erotisme goyangannya itu mengandung nilai-nilai filosofis yang tinggi. Tarian Tayub dinilai merupakan cerminan atau gambaran dari keberadaan jati diri manusia dengan unsure-unsur keempat nafsu yang melingkupi kehidupannya. Kemudian kebaradaan penari perempuan atau ledhek pada tarian Tayub, digambarkan sebagai gambaran dari tujuan untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan hidup.

Pada awalnya dulu, dalam pergelaran tarian Tayub itu selain ada penari-penari perempuan atau ledhek juga terdapat loima penari lelaki atau penyaub. Salah seorang dari penayub itu berposisi sebagai tokoh sentral yang digambarkan dalam pemahaman tasawuf Jawa itu sebagai keberadaan mulhimah. Sedang empat penayub lainnya digambarkan sebagai cerminan dari empat unsure nafsu yang ada pada diri manusia, yaitu aluamah, amarah, sufiah dan mutmainah.

Tarian Tayub dengan para penari perempuan dan kelima lelaki penayubnya itu merupakan gambaran dari perjuangan atau perjalanan manusia dalam meraih cita-cita dan keberhasilan. Bila ingin berhasil untuk meraih tujuan yang mulia, maka manusia harus mampu mengendalikan unsur-unsur nafsu yang ada dalam dirinya terlebih dulu. Keberadaan para ledhek itu merupakan gambaran dari bentuk ujian yang akan menggoda keempat unsur-unsur nafsu tersebut. Jika berhasil mengalahkan unsur-unsur nafsu, maka manusia akan lulus dalam meraih tujuan hidupnya.

Simak juga:  Puisi, Musik dan Tarian di Taman Terakhir

Dan, yang masih terjadi hingga hari ini, pada tarian Tayub itu ada tradisi pemberian suwelan. Suwelan adalah bentuk pemberian uang oleh penayub kepada penari perempuan (ledhek) atau di kawasan Jawa Timur disebut dengan waranggana. Suwelan itu diberikan oleh lelaki penayub setelah selesai menayub atau ngibing. Suwelan itu sebenarnya wujud atau bentuk dari ucapan terima kasih karena telah bersedia menayub bersamanya. ***

 

* Sutirman Eka Ardhana, penyuka budaya Jawa, dan redaktur Warta Kebangsaan.

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.