Selasa , 21 November 2017
Beranda » Nasional » Kyai Haji Ahmad Dahlan Tokoh Gerakan Islam Modernis

Kyai Haji Ahmad Dahlan Tokoh Gerakan Islam Modernis

KEJAYAAN Muhammadiyah hingga kini, tentu tidak bisa lepas dari nama besar Kyai Haji Ahmad Dahlan, seorang putera bangsa yang lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 1 Agustus 1868. Karena dari tangannyalah Muhammadiyah lahir dan berkat kerja keras serta semangat perjuangannya yang tak kunjung henti, Muhammadiyah telah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di negeri ini.

Kyai Haji Ahmad Dahlan terlahir dengan nama Muhammad Darwisy. Ia merupakan putera keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan KH Abu Bakar dan Siti Aminah binti KH Ibrahim. Ayahnya, yakni KH Abu Bakar, di masa itu merupakan salah seorang ulama terpandang di Yogyakarta, karena dikenal sebagai khatib pada Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Sedang ibunya, Nyai Siti Aminah, adalah puteri dari KH Ibrahim yang ketika itu bertugas sebagai penghulu besar di Kasultanan Yogyakarta.

Pengetahuan tentang agama Islam diperolehnya sejak kecil dengan mengaji dari ayahnya sendiri. Bahkan dalam usia delapan tahun ia sudah khatam membaca Al-Quran. Menjelang dewasa ia memperdalam ilmu agamanya dengan belajar pada sejumlah kyai terkemuka. Di antaranya belajar ilmu nahwu kepada KH Muhsin dan ilmu fiqih kepada KH Muhammad Saleh, yang secara kebetulan kedua kyai itu adalah kakak iparnya sendiri.

Menurut M Yusron Asrofie (Lihat Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya, Yogyakarta Offset, 1983), selain kedua kyai itu ia juga menuntut ilmu  pada KH Abdul Hamid dari Lempuyangan dan KH Muhammad Nur. Kemudian ia belajar ilmu falak dari Kyai Raden Haji Dahlan, putera Kyai Termas. Dalam ilmu hadist ia belajar kepada Kyai Mahfudh dan Syaikh Khayyat. Ia juga belajar ilmu qiraah (membaca Al-Quran), kepada Syaikh Amien dan Sayyid Bakri Satock. Bahkan ia juga sempat berguru pada Syaikh Hasan, R Ng Sosrosugondo, Raden Wedana Dwijosewoyo dan Syaikh Muhammad Jamil Jambek dari Bukittinggi.

Pada tahun 1889 Muhammad Darwisy mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Siti Walidah binti Kyai Penghulu Haji Fadhil. Dari pernikahannya dengan Siti Walidah yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, lahir enam orang putera-puteri. Masing-masing Johannah (1890), Muhammad Siraj Dahlan (1898), Siti Busyro (1903), Siti Aisyah (1905), Irfan Dahlan (1906), dan Siti Zuharoh (1908).

Masih menurut M Yusron Asrofie, selang beberapa bulan dari perkawinannya, Muhammad Darwisy pada tahun 1890 berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dia berada di sana sekitar delapan bulan. Setelah selesai mengerjakan ibadah haji, ia tidak langsung pulang ke tanah air, tapi masih memperdalam ilmu agamanya di Tanah Suci itu. Di antaranya ia berguru kepada Imam Syafi’i Sayyid Bakri Syata dan mendapat nama Haji Ahmad Dahlan.

Namun sumber lain menyebutkan, Muhammad Darwisy pergi haji pada usia 15 tahun dan tinggal di Mekkah selama lima tahun. Ketika pulang kembali ke Indonesia tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903 ia berangkat lagi ke Mekkah dan menetap selama dua tahun. Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah. (lihat – Wikipedia).

Tetapi di dalam buku Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya, ( Drs M Yusron Asrofie, Yogyakarta Offset, 1983) diuraikan bahwa pada tahun 1903 KH Ahmad Dahlan pergi menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya  dengan membawa puteranya, Muhammad Siraj, yang berumur sekitar enam tahun. Dia tinggal di Mekkah selama sekitar satu setengah tahun dan belajar pada beberapa orang guru. Dalam ilmu fiqih ia berguru kepada Kyai Makhful Termas, Sa’id Babusyei, dan kepada Mufti Syafi’i dalam ilmu hadist. Ia belajar ilmu falak kepada Asy’ari Baceyan dan berguru kepada Syaikh Ali Mishri Makkah dalam ilmu qiraah. Disamping itu ia berkawan dan berguru pada sejumlah ulama Indonesia lainnya yang tinggal di Tanah Suci seperti Syaikh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih Maskumambang dari Gresik.

Disamping itu selain beriterikan Nyai Siti Walidah, KH Ahmad Dahlan juga pernah pula menikahi Nyai Abdullah dan mendapatkan anak bernama R Duri. Kemudian pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. Pernah juga menikah dengan  Nyai Aisyah yang melahirkan seorang puteri bernama Dandanah. Dan pernah juga menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman.

Merujuk pada  buku Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya tersebut diketahui bahwa pada mulanya kitab-kitab yang dipelajari oleh KH Ahmad Dahlan adalah kitab-kitab dari Ahlussunnah wal Jamaah dalam ilmu aqaid, dari Mazab Syafi’i dalam ilmu fiqih dan dari Imam Ghazali dalam ilmu tasawuf. Sesudah kembali dari Mekkah, ia mulai membaca kitab-kitab yang berjiwa pembaharuan, di antaranya Al-Tauhid karya Muhammad Abduh, Tafsir Juz Amma karya Muhammad Abduh, Kanz Al-Ulum, Dairah al-Ma’arif karya Farid Wajdi, Fi al-Bid’ah karya Ibn Taimiyyah, Al-Tawassul wal-Wasilah karya Ibn Taimiyyah, Al-Islam wal-Nashraniyyah karya Muhammad Abduh, Izhar al-Haq karya Rahmah Allah al-Hindi, Tafshil al-Nasyatain Tahshil al-Sa’adatain, Matan al-Hikam karya Atha Allah dan Al-Qashaid al-Aththasiyyah karya Abd al-Aththas.

 

Dirikan Muhammadiyah

Sejarah mencatat, peran penting dan ‘sangat berarti’ yang telah disumbangkan KH Ahmad Dahlan terhadap perjalanan kemajuan bangsa ini adalah melahirkan atau mendirikan Muhammadiyah. Organisasi sosial-keagamaan yang membangun semangat gerakan Islam modernis ini didirikan pada tahun 1912 di Yogyakarta.

Tak bisa dipungkiri, kelahiran Muhammadiyah di tahun 1912 itu tidak bisa lepas dari peran organisasi kebangsaan Budi Utomo yang didirikan pada 20 Mei 1908 oleh Dr Wahidin Sudirohusodo dan kawan-kawannnya. KH Ahmad Dahlan sendiri pada tahun 1909 telah tercatat sebagai anggota Budi Utomo.

Berkat keikutsertaannya di dalam organisasi kebangsaan Budi Utomo itulah gagasan-gagasan cemerlang tentang perlunya sebuah organisasi sosial-keagamaan Islam muncul di pikiran KH Ahmad Dahlan. Gagasan cemerlang itupun mendapat dukungan dari para pimpinan Budi Utomo.

Gagasan cemerlang itupun diwujudkan dengan didirikannya Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah. Dan, pada tanggal 20 Desember 1912, KH Ahmad Dahlan diserta enam orang tokoh lainnya mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar Muhammadiyah mendapatkan badan hukum. Permohonan itu diajukan melalui Budi Utomo yang kemudian menyampaikannya kepada Pemerintah Hindia Belanda.

Sekitar dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 1914 permohonan itu baru dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Akan tetapi oleh Pemerintah Hindia Belanda organisasi Muhammadiyah tersebut hanya diizinkan keberadaannya di daerah Yogyakarta saja. Ternyata di daerah-daerah di luar Yogyakarta, semangat untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah sulit dibendung.

Khawatir berbenturan dengan ketentuan yang dikeluarkan Pemerintah Hindia Belanda, KH Ahmad Dahlan lalu mencoba mencari langkah alternatif lain agar semangat membangun organisasi sosial-keagamaan tidak terhenti begitu saja. Langkah yang diambil, KH Ahmad Dahlan kemudian meminta dan menyarankan agar cabang Muhammadiyah di luar daerah Yogyakarta memakai nama lain.

Langkah atau saran itu disetuju. Sehingga kemudian cabang Muhammadiyah di Pekalongan misalnya, diberi nama Nurul Islam, kemudian di Makassar bernama Al-Munir, Ahmadiyah untuk Muhammadiyah di Garut, dan di Solo bernama Sidiq Amanah Tabligh Fathonah  (SATF). Tak hanya itu. Di Yogyakarta sendiri, untuk menguatkan keberadaan Muhammadiyah telah berdiri sejumlah perkumpulan atau jemaah-jemaah. Diantaranya; Cahaya Muda, Ikhwanul Muslimun, Hambudi-Suci, Taqwimuddin, Dewan Islam, Priya Utama, Khayatul Qulub, Ta’awanu alal birri, Thaharatul Aba, Thaharatul Qulub, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi, Ta’ruf bima kanu wal-Fajri.

Pada tahun 1917 di Yogyakarta berlangsung Konggres Budi Utomo. Konggres tersebut berlangsung di kediaman KH Ahmad Dahlan. Di dalam konggres itu bermunculan banyak permintaan dari daerah-daerah di luar Yogyakarta agar di daerah-daerah lainnya bisa didirikan cabang Muhammadiyah. Permintaan itupun mendapat tanggapan yang positif dari KH Ahmad Dahlan.

Tapi permintaan itu tidak begitu saja mudah dilaksanakan, mengingat ketatnya kebijakan-kebijakan politik Pemerintah Hindia Belanda.  Beberapa tahun kemudian  tepatnya pada pada tanggal 7 Mei 1921 KH Ahmad Dahlan baru bisa mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Setelah menunggu beberapa bulan, barulah pada 2 September 1921 permohonan tersebut dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

KH Ahmad Dahlan meninggal di Yogyakarta pada 23 Februari 1923 dalam usia 54 tahun.  Karena jasa-jasa KH Ahmad Dahlan yang sangat besar dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden No. 657 tahun 1961 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno.

Sepeninggal KH Ahmad Dahlan Muhammadiyah terus berkembang dan tak pernah berhenti dalam mengisi perannya membangun dan membesarkan bangsa dan negara. Muhammadiyah hingga hari ini tak pernah berhenti dalam menempatkan dirinya sebagai gerakan pembaharuan keagamaan atau dikenal juga dengan sebutan gerakan Islam mordenis. ***  (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *