Beranda » Sastra » Kumpulan Puisi

Kumpulan Puisi

ADA SUARA KERETA

Ada suara kereta
melengking dari jauh
sekeping kenang meluruh
aku terjaga, mengingatmu.
Sungguh.

Ada suara kereta
seperti memanggil-manggil
mengajakku pergi
entah ke setasiun mana.

Aku pun sibuk menerka-nerka.
Apa mungkin ke setasiun
yang kausimpan, dalam
lorong rahasia?

2016

GERIMIS MALAM

hampir larut
rintikmu turun
menyentuh dedaunan

hampir larut
gerimismu
membangunkan angan

hampir larut
basahmu
mempermalam kelam

2016

ADA TELAGA, DALAM

ada telaga
dalam
memanggilku
tenggelam
di dalamnya

ada telaga
dalam
di matamu

aku tenggelam
dalam telaga
di matamu

2016

ANDAI HUJAN DATANG LAGI

andai hujan datang lagi
telah kusiapkan
sehelai mantol
agar kata-kata untukmu
tidak menjadi basah
dan kedinginan

andai hujan datang lagi
masihkah kau setia
menunggu
di beranda?

2016

HUJAN

Sudahkah kauhitung
titik-titik hujan
yang kukirimkan
dalam dingin

Dalam derai hujan
seperti ada yang pergi
membiarkan diri termangu
dipeluk kelu

Setelah hujan reda
ke mana perginya
bayang-bayang kenang
yang berteduh di sini?

2016

SISA-SISA GERIMIS

sisa-sisa gerimis ini
masih menyimpan catatan
tentang dingin, kelam
dan angan-angan

sisa-sisa gerimis ini
masih membasah
dalam harap
dan senyap

sisa-sisa gerimis ini
kusimpan dalam tas
kalau kaumau
kan kubawakan
untukmu

2016

KEMANA PERGINYA GERIMIS?

Gerimis selalu saja datang
menyapa dan bercerita
tentang dingin, harapan
serta gelisah.

Juga berkisah soal rindu
yang basah di jalanan

Ke mana perginya gerimis
yang tadi menyapaku di teras itu?
Padahal aku masih rindu
mendengar suara renyainya

2016

SURAT GERIMIS

sudah kubaca
rindu yang kaukirim
dalam renyai gerimis
yang datang
jelang petang

sudah kubaca
kata-kata yang tertulis
di renyai gerimis
tentang kenangan
tak habis-habis

aku berharap
angin tak segera datang
mengusir gerimis
karena aku ingin juga
membalas rindumu

2016

Biodata:
Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Karya buku kumpulan puisinyaRisau (Pabrik tulisan, 1976), Emas Kawin (Renas, 1979), Malioboro 2057 (Interlude, 2016. Dan, puisi-puisinya juga terhimpun pada sejumlah antologi puisi di antaranya Tugu, Dermaga I,Dermaga II, Merapi Gugat (2011), Kitab Radja-Ratoe Alit (2011), Suluk Mataram (2012), Satu Kata Istimewa (2012), Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (2012), Suara-suara Yang Terpinggirkan (2012), Dari Negeri Poci 4 – Negeri Abal-Abal (2013),Lintang Panjer Wengi di Langit Yogya, Dari Negeri Poci 5 – Negeri Langit(2014), Parangtritis (2014), Jalan Remang Kesaksian (2015), Dari Negeri Poci 6 – Negeri Laut (2015) dan Semesta Wayang (2015). Selain juga menulis sejumlah novel. Kini redaktur di majalah Sabana, danWarta Kebangsaan. Juga dipercaya menjadi pengajar di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Sulis Bambang dan Bengkel Sastra Taman Maluku di Sastra Bulan Purnama

Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang yang dipimpin Sulis Bambang, seorang perempuan penyair yang bukunya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *