Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Sains & Tekno » Kisah Kopi Dari Mintaraga Pakasi Di Antara Puisi dan Musik

Kisah Kopi Dari Mintaraga Pakasi Di Antara Puisi dan Musik

Mintaraga Pakasi, seorang coffee Grading dari Surabaya menyampaikan kisah mengenai kopi di Indonesia di antara lantunan lagu puisi, yang dimainkan oleh pemetik gitar Rimawan Ardono dan penabuh kendang Otokbina Sidarta. Kopi dan puisi seperti saling betemu dalam acara yang diberi tajuk ‘Puisi, Musik dan Kopi’. Selasa 7 Maret 2017 lalu di Tembi Rumah Budaya, jalan Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Aga, panggilan dari Mintaraga Pakasi, selain seorang coffee grading, juga dikenal sebagai coffee procesing. Dalam acara, yang mempertemukan kesenian dan kuliner, dan kopi sebagai salah satu dari penanda kuliner, Aga menjelaskan sejarah kopi di dunia.

Secara singkat, demikian Mintaraga memulai, saya akan menjelaskan sejarah kopi di dunia. Tanaman kopi, demikian kata Aga, dipercaya berasal daeri Abyssinia (Afrika), dan tanaman ini merupakan tanaman endemik dari Afrika. Yang dimasud endemik, demikian Aga menjelaskan, adalah tanaman sejenis rumputan dan tidak ditaman seperti umumnya pohon.

“Tanaman kopi terus berkembang di Timur Tengah dan menjadi produk perdagangan andalan di Timur Tengah, yang kemudian tersebar ke Eropa sehingga bangsa Eropa mulai mengembangkan tanaman kopi di daerah jajahannya”, kata Minataraga Pakasi sambil menambahkan bahwa perlu diketahui bahwa kopi hanya dapat tumbuh di daerah Ekuator atau garis tengah bumi.

Menurut Aga, kopi masuk di Indonesia pada abad 17, yang dibawa oleh bangsa Eropa, dalam hal ini Belanda melalui VOC menanam kopi di bumi Jawa. Dan jenis kopi yang dibawa adalah varietas coffea arabica.

Mintaraga diantara penggemar kopi

“Pada abad 18, tanaman kopi di Jawa terkena wabah karat daun sehingga dikembangkan di Suamtra dan tersebar dipenjuru nusantara.” Jelas Mintaraga Pakasi atau Aga,

Aga menyampaikan, saat ini jenis tanaman kopi di Indonesia, jumlahnya 80 prosesn jenis kopi Robusta dan sisanya jenis Arabica. Selain di Jawa kopi di Indonesia berkembang di pulau-pulau lain seperti Suamtra, Bali,  Flores, Sulawesi dan Papua.

Dalam menjelaskan mengenai kopi di Indonesia, Aga sambil membuatkan sajian kopi kepada  para hadirin yang datang dalam acara ‘Puisi, Musik dan Kopi’. Para hadirin yang datang sebagian besar penggemar kopi, mereka di antaranya seorang antropolog dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, PM. Laksono namanya, juga seorang aktor teater dan pemain film Landung Simatupang., Dr. Greg Wuryanto seorang arsitek, Halida Wibawaty seorang dokter mata dan sejumlah nama para penggemar kopi, puisi dan musik.

Aga menjelaskan, tanaman kopi termasuk dalam jenis tanaman self fertile. Kopi menyerap aroma  tanaman pendampingnya sehingga membentuk karakter sebuah kopi. Jawa, Sumatra dan Toraja merupakan daerah utama penghasil kopi. Kopi di Indonesia tumbuh di region yang berbeda-beda, sehingga menciptakan original karakter disetiap daerahnya.

“Kopi Toraja sebagian besar ditanam di sebuah kabupaten daerah pegunungan Sulawesi Selatan yang berjarak 300 m dari Makasar, dan kopi tersebut mendapat julukan Queen of coffe, karena cita rasanya enak dan harum. Pendek kata, rasanya unik.: ujar Mintaraga Pakasi.

Dalam perkembangan berikutnya, demikian Aga menjelaskan, kopi bukan lagi hanya sebagai bahan pangan di dapur, tetapi telah menjadi obyek dari sebuah gaya hidup, dan dalam mengkonsumsi kopi timbul sebuah paradigma baru yang mengacu pada gaya hidup yang kebarat-baratan.

“Kopi sekarang, melalui cafe-cafe, besar atau kecil, telah menjadi tanda dari wisata kuliner” ujar Mintarara Pakasi (*)

Lihat Juga

Sarasehan dan Pentas Sastra Di Ajibarang, Purwokerto

Sarasehan dan pentas Sastra Banyumas di Selenggarakan di Banyuman, Purwokerto. Ahmadun Yosi Herfanda, seorang penyair …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *