Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Peristiwa » Kisah Kesetiaan Cinta Seorang Selir (2): Usia 17 Tahun, diangkat Jadi Garwo Ampil

Kisah Kesetiaan Cinta Seorang Selir (2): Usia 17 Tahun, diangkat Jadi Garwo Ampil

PESTA syukuran karena datangnya haid pertama itu berlangsung cukup meriah, disemarakkan dengan pagelaran klenengan dan hiburan dari para pesinden. Acara itu pun ditaburi banyak sesaji. Ia pun menjalani ritual dimandikan air kembang, disaksikan kedua orangtuanya yang secara khusus datang dari desanya di Ngawi karena diundang Sri Susuhunan.

Dan, mulai saat itu orang-orang di lingkungan keraton sudah menyadari jika Sumiyatun merupakan salah seorang penari keraton yang mendapat perhatian dan diistimewakan oleh Susuhunan. Bisik-bisik bahwa dirinya mendapat perhatian istimewa dan khusus dari Susuhunan Paku Buwono X secara diam-diam terus berkembang di lingkungan keraton, terutama di kalangan para penari keraton.

 

Lurah Bedhaya

Perhatian istimewa Sri Susuhunan Paku Buwono X semakin nyata lagi, ketika dalam usianya yang masih sangat muda, Sumiyatun diangkat menjadi Lurah Bedhaya atau lurahnya penari keraton. Sebagai lurah, ia membawahi sebanyak 75 penari. Tidak sekadar hanya karena perhatian istimewa dari Sri Susuhunan, tapi keterampilannya dalam menguasai puluhan bahkan ratusan jenis tarian tradisional keraton itu memang merupakan alasan yang sangat pantas untuk menunjuknya sebagai Lurah Bedhaya.

Dalam kedudukan sebagai Lurah Bedhaya membuat dirinya semakin dekat dengan Sri Paku Buwono X. Karena sebagai penari, terlebih lurah bedhaya, ia mempunyai tugas-tugas atau kewajiban yang berkaitan dengan kepentingan sang raja. Misalnya, selama empat hari penuh ia bersama para penari bedhaya lainnya melakukan maradar atau menghadap Sri Susuhunan. Mereka berjejer bersimpuh di lantai menunggui Sri Susuhunan makan, atau mendengarkan perintah-perintah, wejangan-wejangan dan lain-lainnya.

Simak juga:  Kisah Kesetiaan Cinta Seorang Selir (1): Dari Desa, Menjadi Penari di Keraton

Bisik-bisik adanya perhatian istimewa dan khusus dari Susuhunan itu kemudian benar-benar menjadi kenyataan. Ketika usianya mencapai 17 tahun, suatu hari Sumiyatun menerima surat keputusan dari Susuhunan Paku Buwono X. Di atas kertas surat keputusan itu tertulis jelas, Susuhunan mengangkat dan menetapkannya menjadi seorang garwo ampil atau sering disebut dengan istilah selir.

 

Bukti Cinta

Surat itu bukan sekadar surat keputusan pengangkatan dirinya sebagai garwo ampil, tapi sekaligus sebagai bukti ungkapan dan wujud nyata perasaan cinta Sri Susuhunan Paku Buwono X kepada dirinya. Sumiyatun terharu dan gembira menerima surat pernyataan tanda cinta Sri Susuhunan tersebut, karena dengan surat itu ia akan memulai suatu kehidupan baru di dalam keraton yakni menjadi isteri seorang raja.

Sumiyatun pun kemudian teringat kembali dengan cerita ayahnya semasa ia masih kecil tentang ramalam Mbah Gobang yang menyatakan kelak dirinya akan menjadi isteri seorang raja. Ramalan Mbah Gobang itu benar-benar terbukti.

Setelah resmi menjadi garwo ampil atau selir, perubahan pun terjadi dalam kehidupan Sumiyatun. Nama Sumiyatun yang dibawa dari desa dan pemberian kedua orangtuanya itu harus ditinggalkannya. Ia mendapat anugerah nama baru dari Sri Susuhunan Paku Buwono X. Nama barunya adalah Raden Ayu Laksminto Rukmi. Sebuah nama yang indah, dan syarat dengan beribu makna.

Simak juga:  Kisah Kesetiaan Cinta Seorang Selir (1): Dari Desa, Menjadi Penari di Keraton

Tidak hanya nama yang diperolehnya dari Sri Paku  Buwono X, tapi juga keistimewaan-keistimewaan dan sejumlah fasilitas lainnya. Ia tidak lagi tinggal di kamar-kamar yang dikhususkan untuk bedhaya Keraton. Sebuah kamar khusus disediakan untuknya. Kamar itu dilengkapi dengan berbagai perabotan indah yang memang disediakan secara khusus untuk garwo ampil.

Ketika masuk ke kamar khusus untuknya itu, Sumiyatun yang sudah menyandang nama barunya, Raden Ayu Laksminto Rukmi, berdandan secantik mungkin dan mengenakan pakaian terbaiknya. Dan, sejak itu, sejak menghuni kamar khusus bagi garwo ampil tersebut, ia tidak lagi terikat untuk selalu mengenakan busana penari Keraton. Sebagaimana layaknya seorang selir atau garwo ampil, ia seakan punya keharusan untuk mengenakan busana yang rapi, dengan rambut tersanggul penuh hiasan bunga.

Selain mendapatkan sejumlah fasilitas, sebagai selir ia juga mendapatkan gaji tetap setiap bulannya, sebesar 60 gulden. Disamping itu ia masih menerima honor atau gaji untuk jabatannya sebagai Lurah Bedhaya. Sehingga pendapatannya dalam sebulan mencapai 100 gulden. Pendapatan sebesar itu masih di luar pemberian-pemberian khusus dari Sri Susuhunan. Tidak hanya uang, Sri Susuhunan juga sering menghadiahinya busana-busana indah dan mahal. *** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)  

Lihat Juga

Kisah Kesetiaan Cinta Seorang Selir (1): Dari Desa, Menjadi Penari di Keraton

KEHIDUPAN di dalam istana raja-raja di Jawa, dari dulu hingga kini, sarat dengan pesona dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *