Selasa , 21 November 2017
Beranda » Nasional » KH Hasyim Asy’ari, dari Kiai Agung Sampai Pahlawan Nasional

KH Hasyim Asy’ari, dari Kiai Agung Sampai Pahlawan Nasional

SETIAP kali berbicara tentang perjalanan gerakan Islam di Indonesia sepanjang paruh abad ke-20, kita tentu tidak bisa lepas dari nama besar Hadratussyaikh KH  Hasyim Asy’ari (1871-1947).  Namanya tercatatnya dengan tinta emas tidak saja sebagai seorang ulama akbar atau terkemuka, tokoh pesantren, pendiri organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama, pejuang, tapi juga seorang sufi dan penulis buku terpandang.

Kyai yang namanya tak bisa dilepaskan dengan dinamika perkembangan pesantren di Tanah Air serta sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah organisasinya para nahdiyin ini terlahir dengan nama Muhammad Hasyim di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, pada 14 Februari 1871 atau  24 Dzulqaidah 1287 dari ayah Kyai Asy’ari dan ibu Nyi Halimah.

Ia lahir dari keluarga elite kyai di Jawa. Kakek buyutnya, Kyai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang. Kakeknya, Kyai Usman, pendiri Pesantren Gedang, Jombang, dan merupakan kyai terkemuka di akhir abad ke-19. Ketika itu Kyai Usman dikenal sebagai tokoh tarekat yang terpandang di Jawa dan Madura, dan mempunyai pengikut yang ribuan jumlahnya. Sedang ayahnya, Kyai Asy’ari berasal dari Demak, adalah pendiri Pesantren Keras, Jombang.

Ayahnya yang merupakan keturunan Abdul Wahid dari Tingkir dan dipercaya sebagai keturunan Jaka Tingkir dan Prabu Brawijaya VI, raja Majapahit yang terakhir itu, semula seorang santri di Pesantren Gedang. Kecerdasan, penampilan dan perilakunya telah menarik perhatian Kyai Usman. Karena dipandang sebagai santri yang tekun, cerdas dan berakhlak mulia itulah, Kyai Usman kemudian mengambilnya menjadi menantu dan dinikahkan dengan puteri tertuanya yang bernama Halimah. Dari pernikahan itu lahir sepuluh orang anak, dan KH Hasyim Asy’ari merupakan anak yang ketiga.

Pendiri Pesantren Tebuireng

Pesantren memang dunia dan jiwa kehidupan KH Hasyim Asy’ari. Ia lahir, tumbuh, berkembang dan besar di pesantren. Boleh dibilang, hari-hari sepanjang hayatnya hanya dijalani dan diabdikan di pesantren.

Sejak lahir sampai berusia lima tahun ia tinggal bersama kakek dan orangtuanya di Pesantren Gedang. Memasuki usia enam tahun, ayahnya mendirikan Pesantren Keras, dan ia pun dibawa serta ke pesantren baru tersebut.  Ia pun dididik ayahnya di pesantren itu sampai usia 13 tahun. Bahkan karena kemampuannya dalam menguasai kitab-kitab kuning (kitab-kitab Islam klasik), pada usia 13 tahun ia telah diberi kepercayaan untuk menjadi asisten pengajar.

Setelah itu ia memperdalam ilmu agamanya pada sejumlah pesantren terkemuka di Jawa dan Madura. Selepas dari pesantren ayahnya secara berturut-turut ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis, Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura) dan Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo).

Di Pesantren Kademangan, Bangkalan, ia memperoleh didikan berharga dari Kiai Kholil, kiai terkemuka di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, tentang sastra Arab, figh dan ilmu tasawuf atau sufisme. Kyai Kholil merupakan santri terpandang dari Syekh Nawawi Al-Bantany, imam Masjid Al-Haram di Mekkah yang bergelar Sayyidul ulama al-Hijazi.

Setelah sekitar tiga tahun di Pesantren Kademangan, ia memperdalam ilmunya tentang figh di Pesantren Siwalan Panji. Di pesantren ini, pada tahun 1892 ia menikah dengan puteri Kyai Yakub yang bernama Khadijah.

Tak lama setelah pernikahannya, ia menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah bersama isteri dan mertuanya, Kyai Yakub. Seusai ibadah haji, ia tidak langsung pulang ke Tanah Air, tapi bermukim di Makkah selama beberapa bulan untuk memperdalam ilmu lagi. Akan tetapi setelah tujuh  bulan di Makkah, isterinya kemudian meninggal dunia tak lama setelah melahirkan putera pertamanya. Putera pertamanya yang diberi nama Abdullah itu juga tidak berusia panjang. Allah mengambilnya semasa masih berusia dua bulan.

Sepeninggal isteri dan anak pertamanya, awal tahun 1893 KH Hasyim Asy’ari kembali ke Tanah Air. Akan tetapi semangatnya untuk memperdalam ilmu agama yang lebih luas lagi begitu membara, sehingga baru tiga bulan berada di Jawa, ia kembali memutuskan diri berangkat ke Makkah. Ia tidak berangkat sendiri, tapi ditemaniu adiknya, Anis, dan saudara iparnya, Kyai Alwi.

Selama tiga tahun menuntut ilmu di Hijaz, Makkah, ia berguru kepada Syekh Mahfudh at-Tarmisi yang berasal dari Tremas, Jawa Timur. Syekh Mahfudh merupakan ulama ahli hadits terkemuka yang mengajar di Masjidil Haram, dan murid dari Syekh Nawawi Al-Bantany. Selain mendapatkan ilmu berharga mengenai hadits, ia juga mendapatkan pemahaman sangat mendalam tentang tasawuf tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Selama di Makkah, ia tidak hanya belajar kepada Syekh Mahfudh at-Tarmisi, tapi juga sempat berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama asal Nusantara. Santri lainnya dari Tanah Air yang ketika itu bersama-samanya berguru kepada Syekh Ahmad Khatib antaralain KH Wahab Hasbullah, KH Bisyri Syamsuri dan KH Ahmad Dahlan. Dan KH Ahmad Dahlan kemudian dikenal sebagai pendiri gerakan Muhammadiyah.

Sekembali dari Makkah pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari yang telah menikah lagi dengan puteri Kyai Romli dari Kemuring, Kediri, yang bernama Nafisah, sempat mengajarkan ilmu yang diperolehnya selama beberapa bulan di Pesantren Keras. Kemudian ia mencoba membangun pesantren di Plemahan, Kediri. Tapi usahanya di Plemahan tak membawa hasil.

Namun KH Hasyim Asy’ari tak putus asa. Di tahun 1899 itu juga ia membeli sebidang tanah di Desa Tebuireng, sekitar dua kilometer dari Pesantren Keras, dan membangun pesantren di atasnya. Pesantren baru yang bangunan awalnya sangat sederhana karena terbuat dari bambu itu dikembangkannya bersama delapan orang santri yang dibawa dari Pesantren Keras. Sampai kini pesantren itu terkenal dengan nama Pesantren Tebuireng.

Dari tahun ke tahun Pesantren Tebuireng terus mengalami perkembangan pesat. Tahun 40-an di Jawa terdapat sekitar 25.000 ulama dan kyai. Sebagian besar dari para kyai itu ternyata pernah menjadi santri di Tebuireng. Bahkan para kyai yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren baru (pesantren-pesantren terkemuka saat ini) seperti Pesantren Lasem, Rembang (Jateng), Pesantren Darul Ulum, Jombang, Pesantren Mambaul Ma’arif, Jombang, Pesantren Lirboyo, Kediri dan Pesantren Asembagus, Situbondo adalah mereka yang pernah berguru kepada KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Karena itulah KH Hasyim Asy’ari kemudian mendapat gelar sebagai Kiai Agung atau Hadratussyekh.

 

Penulis Produktif

KH Hasyim Asya’ari tidak hanya sekadar seorang ulama atau Kyai Agung, tapi ia juga dikenal sebagai penulis kitab (buku) yang produktif. Sebagian besar dari kitab-kitab yang ditulisnya dalam bahasa Arab itu sampai kini masih menjadi kitab pegangan yang dipelajari di banyak pesantren.

Karya-karya besarnya itu antaralain Al-Risalah al-Tawhidiyyah (Kitab tentang Teologi), Al-Qala’d fi bayan ma yajib min al-aqa’id (Syair-syair tentang kewajiban menurut akidah), Al-Tibyan fi al-nahy’an muqata’at al-arham wa al-aqarib wa al-akhawan (Kitab Penjelasan mengenai Larangan Memutuskan Hubungan Kerabat dan Persahabatan), Al-Risalah al-jami’ah (Kitab Lengkap), Adab al-alim wa al-muta’allim (Ahlak Guru dan Murid), An-Nur al-mubin fi mahabbah sayyid al-mursalin (Cahaya Terang tentang Cinta pada Rasul), Al-Durar al-muntathirah fi al-masa’il al-tis ‘asharah (Kitab tasawuf tentang Mutiara-mutiara mengenai Sebilanbelas Masalah), dan sejumlah kitab terkemuka lainnya.

Sebagai tokoh dan pemimpin gerakan Islam di Indonesia, KH Hasyim Asy’ari adalah pendiri organisasi Islam terbesar di Tanah Air saat kini, Nahdlatul Ulama, yang didirikannya pada tahun 1926 bersama mantan muridnya, KH Abdul Wahab Hasbullah. Ia wafat pada 25 Juli 1947. Kemudian untuk mengenang semua jasa dan pengabdiannya kepada Tanah Air, Presiden Soekarno melalui Kepres No. 294 Tahun 1964 telah menetapkan KH Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional.*** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *