Selasa , 20 November 2018
Beranda » Seni & Budaya » Kesenian Tradisional sebagai Media Dakwah Kultural Islam
Tarian Angguk Kulonprogo (foto: job)

Kesenian Tradisional sebagai Media Dakwah Kultural Islam

Sejumlah kesenian tradisional di negeri ini sempat dicurigai sebagai bentuk kesenian yang tak Islami atau bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Lihat saja misalnya, kesenian tradisonal Tayub, juga Lengger dan lainnya, sempat dicap sebagai kesenian yang tak sesuai dengan Islam, karena dipandang menampilkan erotisme. Walau tak sedikit pula yang memandang bahwa Tayub misalnya, memiliki pesan-pesan mulia bagi kehidupan. Bahkan ada pula yang menyebutnya mengandung unsur-unsur tasawuf.

Bahkan  tari Jaipong yang populer sebagai bentuk kesenian rakyat di Jawa Barat itu pun sempat dicurigai sebagai bentuk kesenian yang mengundang selera syahwati. Sehingga sempat terdengar ada wacana yang mengharuskan para penari Jaipong itu mengenakan pakaian lengkap yang menutup seluruh tubuh. Artinya, tak diperbolehkan menari dengan bagian dada yang terbuka.

Benarkah, banyak kesenian tradisional kita, di Jawa khususnya, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam? Untuk menjawabnya, tentu tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Tetapi bila merujuk kepada apa yang telah dilakukan oleh para Wali (Wali Sanga) ketika mengajarkan dan menyebarkan Islam di Tanah Jawa, jelaslah terlihat bagaimana Islam diperkenalkan sebagai agama yang sangat terbuka dan ramah. Terbuka dan ramah dengan beragam bentuk budaya serta kesenian tradisional masyarakat.

Keterbukaan dan keramahan Islam dengan budaya dan kesenian tradisional atau kearifan lokal itulah yang menyebabkan Islam yang didakwahkan para Wali itu dengan cepat diterima oleh masyarakat. Bahkan kesenian-kesenian tradisional itu oleh Wali Sanga telah dijadikan media dakwah atau media penyampaian kebenaran-kebenaran Islam kepada masyarakat.

Salah satu bentuk kesenian tradisional yang telah dijadikan media dakwah Islam itu adalah Wayang Kulit. Ketika itu, Wayang Kulit merupakan bentuk kesenian yang sangat populer dan sangat disukai oleh rakyat atau masyarakat luas. Para Wali kemudian menggubah lakon-lakon atau cerita-cerita wayang yang sesungguhnya sumber awalnya sarat dengan filsafat-filsafat Hindu itu (karena kisah Mahabrata dan Ramayana berasal dari India) menjadi sarat dengan nilai-nilai dan filsafat Islam.

Simak juga:  Islam, Wayang dan Indonesia

Kesenian Wayang Kulit hanyalah salah satu dari bentuk kesenian tradisional atau kesenian rakyat yang dijadikan media dakwah Islam, sehingga kemudian dinilai sejumlah lakonnya bernuansa Islami atau mengandung nilai-nilai Islam. Selain itu masih terdapat sejumlah kesenian tradisional lainnya yang juga kemudian berkembang menjadi media syiar Islam.

 

Perlu Direposisi

Sungguhlah menarik dan tepat apa yang dilontarkan oleh pengamat seni budaya dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Drs Jabrohim MM, beberapa tahun lalu, yang menyatakan khazanah kesenian tradisional yang Islami perlu direposisi dan direvitalisasi karena bisa dijadikan media untuk pendukung syiar Islam.

Saat tampil dalam orasi seni “Tegur Sapa Budaya” di kampus UAD tersebut, Jabrohim dengan tegas menyatakan kesenian tradisional tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan ia menandaskan, kesenian tradisional itu dapat dijadikan media dakwah kultural atau dakwah melalui kesenian, khususnya bagi Muhammadiyah.

Apa yang dikemukakan Jabrohim itu sangatlah tepat. Kesenian-kesenian tradisional, utamanya yang Islami memang perlu direposisi atau direvitalisasi untuk segera dapat dikembangkan menjadi media dan sarana dakwah Islam yang sangat efektif. Kini memang saatnya dakwah kultural dikembangkan, terlebih dalam menyebarkan atau mengembangkan Islam sebagai agama yang sejuk, lembut dan anti kekerasan.

Menariknya, dalam orasi seninya itu, Jabrohim menyinggung organisasi Islam, Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar di Indonesia, dapat menjadikan kesenian-kesenian tradisional itu sebagai media dakwah kultural.

Apa yang dikemukakan Jabrohim itu menjadi menarik, karena seperti apa yang diakuinya, sebagai salah satu organisasi sosial kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, dalam perjalanan dakwahnya, Muhammadiyah melalui program atau gerakan pemurnian ajaran Islam pernah dituduh sebagai organisasi yang tidak ramah terhadap seni.

Simak juga:  Islam, Wayang dan Indonesia

Diuraikannya, banyak kritikan yang menyatakan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi yang tidak `bersahabat` terhadap kebudayaan, khususnya budaya lokal termasuk kesenian tradisional. Atas dasar itu ia sangat berharap, agar sekarang saatnya untuk ‘bersahabat’ dengan kesenian-kesenian tradisional yang Islami itu, agar dapat dijadikan media dakwah kultural dalam kaitannya penyebaran dan pengembangan syiar Islam.

Jabrohim benar. Harapannya bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sekaranglah saatnya kembali ‘bersahabat’ dengan kesenian-kesenian tradisional, terlebih kesenian-kesenian tradisional yang Islami. Terlebih lagi, sekarang ini sejumlah kesenian tradisional yang Islami itu seperti telah terpinggirkan. Lihat saja misalnya, bagaimana tersendat-sendatnya perkembangan atau kehidupan kesenian tradisional seperti Shalawatan, Angguk, Kubrasiswa, Hadrah, Tari Badui, dan lainnya lagi.

Sekarang yang perlu dipikirkan adalah bagaimana menghidupkan atau mengembangkan kembali kesenian-kesenian tradisional, khususnya yang Islami itu, sehingga kesenian-kesenian tersebut dapat tumbuh dan berkembang, serta menjadi bentuk kesenian yang disukai oleh masyarakat luas.

Langkah itu memang perlu kerja serius. Tanpa kesungguhan, khususnya bagi pekerja dan penggiat kesenian Islam, upaya untuk menjadikan kesenian-kesenian tradisional itu sebagai media dakwah Islam, tentu akan menghadapi banyak hambatan. Masyarakat, di lapisan mana pun, di perkotaan atau juga di pedesaan, sudah saatnya untuk dibangkitkan kembali apresiasi dan kesukaannya terhadap kesenian-kesenian tradisional, terutama yang Islami tersebut.

Dan, sekaranglah saatnya kembali dilakukan langkah-langkah untuk membangun kesepahaman, menjalin ‘persahabatan’, merangkul dan menghargai kesenian-kesenian tradisional yang notabene merupakan ‘milik’ masyarakat itu. Sehingga nantinya kesenian-kesenian tradisional itu benar-benar menjadi media dakwah atau media syiar Islam yang sangat efektif. Media dakwah yang memberikan pemahaman bahwa Islam benar-benar agama yang mencintai kesenian, mencintai kelembutan, dan membenci kekerasan.

Sekarang pula saatnya kita mengulang kembali kesuksesan dakwah Islam yang disampaikan para Wali (Wali Sanga) di Jawa pada awal-awal perkembangan Islam di Tanah Jawa dulu, dengan menjadi kesenian-kesenian tradisional itu sebagai media dakwah atau media syiar Islam yang ampuh.

Lihat Juga

Islam, Wayang dan Indonesia

SEJARAH perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak bisa dilepaskan dari awal mula kemunculan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.