Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » KERIS SI GINJE DAN SINGA MARJAYA: Pertautan Keluarga Mataram-Jambi
Keris & Sarung Keris Siginjai (ft. net)

KERIS SI GINJE DAN SINGA MARJAYA: Pertautan Keluarga Mataram-Jambi

Sepasang keris pusaka mahkota Kerajaan Jambi berupa keris Si Ginje dan keris Singo Marjaya. Keris Si Ginje atau disebut juga Si Gunjai merupakan keris kesultanan atau  yang memerintah sedangkan keris Singa Marjaya atau disebut Senja Marjayo dipegang oleh Pangeran Ratu. Sepasang keris ini menjadi lambang kekuasaan sultan dan pangeran ratu yang memerintah Kerajaan Jambi. Keris keris ini mempunyai sejarah panjang pertautan kerajaan Mataram di Jawa Tengah ataupun Yogyakarta dengan Jambi.

Menurut  buku Keris Sigenjei Dalam Legenda dan Sejarah Jambi (1998) disebutkan  bahwa pasca gugurnya Sultan Thaha, Kesultanan Jambi dihapuskan dan dibentuk Keresidenan tersendiri dengan residennya O.L.Helfrich. Sedangkan keris Si Ginje di bawa ke Batavia (Jakarta) untuk disimpan di lembaga yang bernama Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga tersebut kini bernama Muisum Nasional.

Di Museum Batavia kedua keris ini tercatat dengan nomor/inventarisasi 10920 dan 10921 dalam kelompok ilmu bangsa-bangsa (etnologi). Keduanya memiliki tangkai atau gagang dan ada kemiripan bentuk. Perbedaan hanya pada cara pengerjaan atau pembuatannya. Keduanya berbentuk ular dan bilahnya berhias daun emas. Menurut C. Den Hamer (1905) ciri-ciri keris Siginje adalah seperti berikut: Bentuk keris keseluruhannya adalah berbentuk naga, Bilah keris dikelilingi daun emas,  Mendaq  keris dihiasi dengan 16 buah permata atau intan dari jenis berlian, berbentuk oval dan pita emas. Deder atau pegangan keris bergambar raksasa, sepasang singa bersayap dan skorpion (kala) serta hiasan daun-daunan.

Dalam catatan C. Den Hammer (1904) di dalam Bescrijving Twee Krissen Als Rijkssierad Verbonden aan het Sultansgezag Over Jambi en het Pangeran Ratoeschap Aldaar, Notulen, Juli 1904, Pag 70 Iie, Batavia : Albrecht & Co, 1905, diterjemahkan oleh S. Hertini Adiwoso dan Budi Prihatna menjelaskan keistimewaan Keris Si Ginje antara lain::

Keris yang berbentuk ular pada lajur lingkar bertahtakan batu mulia dan sarung kayunya dilapis bungkus emas. Batu mulia yang ditatakan pada hulu berjumlah enam belas butir di asah berselang seling antara intan dan emas, dan menurut susunan Martapura (Kalimantan Selatan).    Di antara ke enam belas batu mulia, delapan di antaranya memiliki berat 2 karat . Sedangkan delapan lainnya lebih kecil-. Keenam belas batu tersebut dipasang emas, batu yang dipasang asahan intan dalam bentuk persegi, dan yang asahan berlian dalam bentuk oval. Bilah keris panjangnya kurang lebih 39 cm banyak dihiasi daun emas. Pada beberapa tempat hiasannya rusak dan tidak lengkap lagi. Pada bagian lebar bilah keris nampak sebuah rongga yang menggambarkan raksasa (Buta). Di atas kepala buta digambarkan awan-awan yang aneh. Di sisinya nampak seekor Kalajengking dengan ujung-ujung tombak dihias emas. Kurang lebih 1 cm di atas Buta terdapat dua singa bersayap. Singa tersebut digambar dari samping, seakan-akan sedang berkelahi dengan mulut terbuka. Selanjutnya sisi depan belakang hingga 12 cm dari ujung bilah keris diberi hiasan dengan motif tanaman. Ornamen yang bentuknya mirip huruf “S terbaring” dengan suatu relung di atasnya yang berfungsi sebagai “batu besar”, tumbuh tangkai-tangkai berdaun di sisi depan dan belakang berselang seling, bunga-bungaan dan susunan buah-buahan. Semuanya dikerjakan dengan rapi dan indah. Kepala (endas) yang disambung tempa dengan bilah keris sedikit keluar dari sarungnya juga dihiasi dua singa bersayap. Seperti telah disebutkan di muka, warangka kayu Keris Si Ginje dilapis bungkus emas.. Sarung tersebut diperkaya hiasan gambar-gambar Arab. Sisi depan, dari atas sampai bawah terisi hiasan. Sisi belakang dibiarkan polos, namun bagian atas dan bawahnya diberi hiasan gaya Arab (1904 :233-150).

Simak juga:  Kisah Seorang Empu : Putra Sedayu Pembuat Sengkelat?

Keris Siginje adalah sebuah keris yang sangat indah baik bentuk maupun ornamen/hiasannya. Bentuk hulu/tangkai keris menyerupai kepala ular yang sedang menghadap mangsanya. Tangkai keris Si Ginje memiliki mendak (semacam ring) yang berupa hiasan luar berbentuk bunga teratai. Pada mendak inilah menempel 16 buah batu permata intan dan berlian masing-masing 8 buah. Panjang bilah (wilahan) Keris Siginje ± 39 cm dan berlekuk lima (5). Pada mata keris terdapat hiasan daun-daun dari emas. Sarung (warangka) keris Siginje terbuat dari kayu kemuning. Pada bagian luarnya masih dilapisi oleh pendok yang terbuat dari lempengan emas murni dengan ornamen daun-daun sulur.

Dalam Naskah Kuno Sisilah Raja Jambi karangan Anakdo Ngebih Suthodiloqo (1317 H) keris Siginje dibuat oleh Empu  Tumenggung Berja Kerti seorang empu di Mataram.. Menurut legenda besi sebagai bahan keris Siginje berasal dari 9 jenis besi dari 9 negeri yang berawal dari nama ”Pa”, ditempa selama 40 Jum’at, dan disepuh air 12 muara. Dengan keris Siginje, maka Orang Kayo Hitam dari Jambi dapat menjalin hubungan dengan negeri Majapahit, Mentaram, Pemalangan, Brebes, Panggungan, Kendal, Jepara, dan Pati .

Simak juga:  Membumikan Wahyu Cahya Buwana

Menurut catatan Nota Serah Terima Pemerintahan Daerah dari Residen H.L.O Petri. 5 Februari 1918 – 20 Februari 1923, disebutkan bahwa pada bulan Maret 1904 Pangeran Prabu Negara atau Putra Sultan Mahiluddin atau Menantu Sultan Thaha Syaifuddin menyerahkan Keris Siginje Kepada Residen. Dan Pangeran Ratu pada bulan Maret 1904 menyerahkan Keris Singa Marjaya. Dari fakta sejarah Siginje ada analisa kuat bahwa iIstilah Jambi telah ada sejak zaman Melayu Kuno sekitar abad 7 M seperti terungkap dalam seloka adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah”. Istilah Jambi digunakan untuk nama kerajaan Jambi dan sebutan kuno atas nama sungai Batanghari yakni Sungai Jambi. Dalam perbendaharaan bahasa Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku Penghulu, dan Kubu tidak dijumpai kata Jambi itu sebagai pinang, tetapi disebutkan bahwa pinang adalah sebagai pinang. Orang Kerinci sering menyebut Jambi itu dengan Jambai, sedangkan orang Batin sering menyebut Jambi dengan Jambai. Kata Jambi punya padanan kata dengan Jambai, Jambu-Jambu, Jerambai, Jerabai, Jerambai, Jambak, gombak, Rumbai, Jambul dam Gunjai atau Ginjal. Kata malai bermakna sebagai gunjai (ginjai) atau rumbai atau jambul.. Ginje atau Ginjai artinya utas manikam atau permata dicocok (sesuai, sepadan, sejodoh) atau kalung emas misalnya perhiasan. Gunjai bermakna sama dengan jambak yang artinya gombak atau ikatan (bunga, bulu, rambut, sulur, daun, dll. Jambak bermakna sama dengan rumbai-rumbai yang artinya ikatan.. Rumbai bermakna sama dengan jumbai yang artinya rumbai-rumbai atau jambul-jambul.. Jumbai artinya sesuatu yang terikat alau tergantung. Dalam bahasa Melayu sesuatu benda, dll, yang terikat atau tergantung pada sesuatu benda disebut malai, atau jambai, atau jumbai, atau jerambai, jerabai, atau jambul atau ginjai atau gunjai.Bagi sebuah kerajaan, sesuatu (misalnya simbol) yang berfungsi mengikat atau bersifat menyatukan misalnya masyarakat atau kerajaan, dinamakan sebagai mahkota (mauli).. Jadi kata Jambi atau Jambai mengandung pengertian sebagai Ginjai (Gunjai). Sebagai lambang mahkota kerajaan Jambi diwujudkan dengan sebilah keris pusaka yakni keris Siginje untuk raja dan keris Singo Marjayo untuk pangeran ratu.. Si adalah kependekan dari kata Sri artinya utama atau mulia atau agung..    Dari analisis tersebut di alas maka kata Jambi adalah sebuah kata Melayu yang mengandung arti utama atau mulia atau agung. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

BK Selamat Berkat Keris di Papua

WALAU berpikiran jauh ke depan, namun presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tidak lepas dengan hal-hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *