Selasa , 20 November 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Keris Dalam Tinjauan Arkeologis dan Arkeometalurgis
Keris Lajer (ft. net)

Keris Dalam Tinjauan Arkeologis dan Arkeometalurgis

Kolesi Museum Rangga Warsita, Keris Lajer (ft. net)
PROF DR TIMBUL HARYONO menyebutkan peradaban logam terbagi menjadi tiga tahap, yakni tembaga, perunggu dan besi. “Penggunaan persenjataan mengalami perkembangan” ujarnya di Museum Sonobudaya beberapa waktu lalu. Pada masa itu banyak senjata dari bahan logam yang bermunculan baik dari bahan perunggu maupun dari bahan besi. Sesuai dengan tahap perkembangan metalurgis yang berawal dari penggunaan tembaga, bau kemudian perunggu, dan akhirnya besi, kemunculan senjata pun secara bertahap selaras dengan perkembangan peradaban logam. Menelusur kapan zaman besi digunakan di Nusantara, Prof Dr Timbul Haryono mengatakan bahwa pada zaman tembaga sangat jarang ditemukan senjata dari bahan tembaga karena secara metalurgis logam tembaga memiliki skala kekerasan yang rendah sehingga tidak efektif untuk artegak persenjataan. Baru setelah manusia menemukan perunggu, yakni campuran tembaga dan timah, artefak persenjataan dibuat dari bahan perunggu. Banyak artefak persenjataaan. Banyak artefak senjata perunggu yang ditemukan di situs-situs arkeologi. Pada umumnya artefak persenjataan berupa senjata tikam sejenis belati.

Di situs arkeologi di Ban Chiang, Thailand, misalnya, ditemukan senjata berwujud mata tombak dari bahan perunggu yang berasal darisekitar tahun 3000 Sebelum Masehi.

Namun yang agak menarik adalah artefak senjata tombak bimetalik yang merupakan gabungan antara perugngu dan besi; mata tombak dibuat dari besi tetapi bagian corongnya dibuat dari bahan perunggu. Senjata ini berasal dari sekitar tahun 2000 Sebelum Masehi.

Hal ini menunjukkan suatu tahap peralihan dari perunggu ke besi. Dalam peradaban logam di Cina persenjataan logam telah mulai muncul sejak peradaban Hsia sekitar tahun 2000SM-1700 SM dan kemudian berkembang sejak dinasti Shang abad ke-16 SM. Di antara artefak persenjataan dari bahan perunggu adalah mata panah (zu), mata tombak (mao), kapak (ge, chu dan qi), pisau belati (dae).

Simak juga:  Kisah Seorang Empu : Putra Sedayu Pembuat Sengkelat?

Peradaban Indonesia memasukai zaman logam setelah mendapat pengaruh kebudayaan perunggu Dongson di Vietnam sekitar abad ke-3 SM. Sejak itu pemanfaatnan logam perunggu dan besi mulai dikenal. Pada sebuah batu besar (batu gajah) yang ditemukan di Sumatra Selatan  ada relief yang menggambarkan seseorang menyelipkan pisau belati. Batu tersebut merupakan peninggalan dari kebudayaan megalitik. Ini merupakan bukti tertua walaupun bukti tidak langsung adanya penggunaan senjata loga di Indonesia. Setelah kebudayan Indoesia memasuki peradaban yang baru dengan datangnya pengaruh kebudayaan India pada sekitar abad ke-5 Masehi perkembangan teknologi logam mulai maju pesat. Spesialisasi pekerjaan berdasarkan bahan mulai muncul. Bahkan spesialisasi atas dasar jenis artefak yang dibuat juga berkembang. Sejak itulah bangsa indonesia umumnya atau bahwa Jawa khususnya mulai menganggap dan menilai secara khusus terhadap senjata logam terutama besi, yang di kemudian hari menjadap julukan ‘tosan aji’.

 

Senjata Populer

Penyebutan keris sendiri menurut Prof Dr Timbul telah ada sejak Mataram kuna sekitar abad 9 Maseh. Para prasasti Rukam dan Wukajana yang berasal dari abad 9 Masehi disebut kris sebagai satu dari artefak besi sebagai perlengkapan sesaji dalam upacara penetapan <I>sima<P>. Sima adalah sebidang tanah, yang oleh raka dibebaskan dari kuwajiban membayar pajak kepada raja sehingga para petugas pengumpul pajak dilarang melaksankan tugasnya di wilayah sima tersebut.  Kelengkapan sesaji yang berupa benda logam besi tersebut adalah wadung, rimwas-kapak perimbas, patuk-patuk, linggis kris, gululi-tombak dll.

Dari contoh prasasti ini ditarik simpul bahwa keris telah ada sejak Mataram kuna. Dari penyebutannya yang tak berubah, keris bisa jadi merupakan senjata yang populer. Bahkan pada zaman Mataram kuna para pembuat artefak logam dikenal dengan istilah selaras dengan jenis bahan seperti panday tamwaga- pande tembaga, panday kangsa-perunggu, panday wsi-besi, panday mas-emas.

Simak juga:  KERIS SI GINJE DAN SINGA MARJAYA: Pertautan Keluarga Mataram-Jambi

 

Ketrampilan Turunan

Data etnografis di Toraja dan Bali menunjuk bahwa pengetahuan para pande besi diberikan epada anggota keluarga melalui upacara. Seseorang tidak mungkin menjadi pande besi jika ayahnya belum menjadi pande. Di Toraja pentahbisan menjadi seorang pande dilakukan dengan upacara. Pande logam seniuo menusuk seekor babi di hadapan calon pande dengan mentakan:” kalau pada saat membuat alat-alat membuat kesalahan maka babi rusak akan menggigitmu”. Kemudian darah babi dioleskan pada pipa ububan dan telapak tangan calon pande. Pande seniur mengatakan “aku mentahbiskan kamu agar semua yang ditempa berhasil dan agar tidak mengalami akibat buruk dari penempaan”. Mereka mempunyai tokoh dewa pande yang dianggap memiliki kesaktian. Tempat kerja atau bengkel kerja dianggap sakral dan memiliki day amagis pula. Di Bali para pande memiliki pengetahuannya dari Dewa Brahma, dewa api. Merak termasuk dalam klan pande dalam garis keturunan khusus. Sementara Empu Djeno dari Gatak Sumberarum Sleman merupakan keturunan ke-15 dari empu Supa Majapahit.

Fungsi dan arti keris di dalam budaya Jawa antara lain sebagai benda bersejarah, senjata, pusaka, pasren, lambang kebanggaan. Sebagai benda bersejarah keberadaan tosan aji di Jawa telah berabad-abad lamanya dan sebagaian dari tosan aji memiliki kaitan erat dengan peristiwa sejarah kerajaan tertentu seperti Singasari, Majapahit, Demak, Mataram, Kartasura, dan Surakarta. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan Sunan Giri memesan keris kepada seorang empu keris terkenal Ki Supa.

Sebagai benda pusaka tosan aji dibuat para empu yang memiliki keahlian dan bahkan kesakitan. benda pusaka tersebut kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya untuk dipelihara, dirawat. Sebagaian memiliki tuah sehingga disimpan dalam tempat khusus. Di lingkungan kraton kemudian benda pusaka tersebut diberi sebutan seperti Kanjeng Kyai Ageng, Kanjeng Kyai, atau Kyai selaras dengan penghormatan kewibawaan dan pengabdian pusaka tersebut di kraton.

Simak juga:  Membumikan Wahyu Cahya Buwana

           

14 Jenis Besi

Menurut Prof Dr Timbul paling tidak disebut 14 jenis besi yang pernah dijadikan keris di Nusantara ini dengan sifatnya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan pamor yang berasal dari meteor yang mengandung banyak nikel, atau siderit yang banyak mengandung besi atau aerolit batu yang amat keras. Menetapnya pamor pada bilah keris juga mempunyai pengaruh buruk dan ada pula yang baik bagi pemiliknya.

Dari uraian tadi bisa dikatakan bahwa keris bisa diklasifikasikan menjadi keris bertuah baik, dan buruk serta keris tak bertuah. Yang menjadikan sebuah tosan aji bertuah tentu saja adalah selain empu tosan aji memang mewarisi ketrampilan dari par empu leluhurnya atau memang mendapat ‘wahyu keempuan’ dengan ketrampilan tinggi, juga ‘guru bakal’, yakni bahan besi dan pamor yang terpilih kualitasnya.

Dengan demikian bisa dibuktikan bahwa keris merupakan peninggalan nenek moyang dengan teknologi tinggi. Dengan demikian tosan aji secara khusus dikatagorikan sebagai benda cagar budaya.(Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

KERIS SI GINJE DAN SINGA MARJAYA: Pertautan Keluarga Mataram-Jambi

Sepasang keris pusaka mahkota Kerajaan Jambi berupa keris Si Ginje dan keris Singo Marjaya. Keris …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.