Beranda » Pendidikan » Kekerasan, Perilaku Manusia yang Kodrati

Kekerasan, Perilaku Manusia yang Kodrati

INGAT kisah dua bersaudara putera Adam, Kabil dan Habil? Hanya karena rasa iri, Kabil tega menghabisi Habil, adiknya sendiri. Dalam sejarah peradaban manusia, peristiwa terbunuhnya Habil di tangan Kabil merupakan kasus kekerasan yang pertama di muka bumi. Dan, Kabil tercatat pula sebagai manusia pertama yang melakukan tindak kekerasan, pembunuhan.

Melihat pada kisah Kabil dan Habil, maka jelaslah bahwa konflik terutama tindakan kekerasan mempunyai sejarah panjang dalam perjalanan peradaban manusia. Tidak berlebihan bila kekerasan digolongkan sebagai bentuk kebudayaan atau perilaku manusia yang sama tuanya dengan usia kehidupan manusia di bumi. Karenanya tidak salah pula bila muncul pendapat atau kesimpulan bahwa sesungguhnya konflik atau kekerasan merupakan bentuk perilaku manusia yang kodrati. Benarkah demikian?

Jika demikian kesimpulannya, maka sia-sialah berharap tidak kekerasan akan dapat dimusnahkan dari perilaku kehidupan manusia. Akan sia-sia pula mendambakan terwujudnya suatu tatanan kehidupan manusia yang aman, damai dan tenteram, tanpa gangguan konflik atau kekerasan. Lalu, apakah manusia hanya cukup pasrah menerima kenyataan yang ‘diwariskan’ Kabil dan Habil itu? Bukankah kebutuhan primer manusia yang sangat mendasar dan paling utama yang tidak dapat diganti dengan apa pun adalah rasa aman dan keselamatan?

Perkembangan budaya, perilaku kehidupan dan cara pikir telah memaksa umat manusia untuk terus menerus berupaya mencari langkah-langkah penanggulangan  terhadap perilaku ‘warisan’ Kabil tersebut. Berbagai tatanan sosial dan hukum ditata. Beragam bidang ilmu saling menyumbangkan perannya dalam mengantisipasi konflik atau kekerasan. Hasilnya memang cukup melegakan. Paling tidak, di banyak belahan dunia muncul masyarakat-masyarakat bermoral yang membenci kekerasan, perang, penindasan, pemusnahan bangsa dan sejenisnya. Akan tetapi, dikarenakan sangat kompleknya ragam persoalan kehidupan manusia, kondisi semacam itu tidaklah cukup mampu ‘membunuh’ kekerasan sampai ke akar-akarnya. Budaya kekerasan tetap saja hidup dan bertahan, meski dengan wilayah ‘pengaruh’ yang terbatas.

Perilaku kekerasan dari zaman ke zaman dan tahun ke tahun memang tidak pernah berhenti. Kadar serta ragam kekerasan itu sendiri selalu mengiringi perkembangan kemajuan teknologi dan peradaban manusia. Seperti yang terjadi dewasa ini, nyaris tiada hari tanpa berita kekerasan di koran-koran (media cetak) serta media elektronik (media penyiaran).

Di dalam negeri kita sendiri misalnya, sepanjang tahun 1990-an dan 2000-an ini seakan tak pernah reda dari konflik dan kekerasan. Berbagai konflik yang disertai dengan tindakan kekerasan terjadi di sejumlah daerah. Bahkan di Jawa, yang masyarakatnya dikenal berbudaya ‘lemah-lembut’, konflik kekerasan pun sering menyeruak dan membara. Kita tentu masih belum lupa dengan kasus pembunuhan berdalih dukun santet yang pernah terjadi beberapa tahun lalu di Banyuwangi, Jawa Timur, aksi kerusuhan di sejumlah kota atau daerah lainnya, terlebih pasca reformasi.

Bahkan sampai kini, trend kekerasan semakin menjadi fenomena menarik. Kejahatan kekerasan dan semacamnya tidak saja terjadi di kota-kota besar, tetapi juga menjalar jauh sampai ke pelosok-pelosok desa. Aksi tawuran antar desa, aksi bakar karena perbedaan pendapat dalam pemilihan kepala desa, dan beragam bentuk konflik lainnya bermunculan di sejumlah daerah. Dan di Yogyakarta, belakangan ini muncul aksi kekerasan yang di kalangan masyarakat dan media massa populer dengan sebutan aksi klitih.

 

Agresivitas Manusia

Dari pemahaman psikologi, kekerasan merupakan bagian dri bentuk agresivitas manusia. Dengan kata lain, kekerasan adalah wujud nyata dari nafsu dan sikap agresi manusia terhadap sesamanya. Kita tidak dapat mengingkari kenyataan, agresivitas manusia pada dasarnya merupakan sifat paling hakiki dari manusia. Oleh karenanya, sangatlah mustahil bila konflik kekerasan atau sifat agresi manusia itu bisa dimusnahkan.

Selama ini berbagai disiplin ilmu sosial telah memberikan andil yang cukup besar dalam upaya mengantisipasi gerak laju perilaku kekerasan yang merupakan bagian dari sikap agresivitas manusia itu. Masing-masing ilmu sosial berjuang keras menelaah sumber-sumber yang menyebabkan munculnya kekerasan atau agresi manusia, serta mencari langkah-langkag paling tepat untuk penanggulangan maupun penyelesaiannya.

Robert Baron (1977) mengartikan kekerasan atau agresi manusia sebagai suatu perilaku manusia yang dimaksudkan untuk melukai, mencederai atau mencelakakan sesama manusia yang lain, yang sesungguhnya tidak menghendaki datangnya perilaku kekerasan tersebut.

Sebelum mengupayakan jalan keluar untuk mengantisipasinya, sejumlah psikolog telah membagi kekerasan atau perilaku agresi manusia dalam beberapa pengertian. Kenneth Moyer (1971) misalnya, ia membagi agresi dalam beberapa tipe. Di antaranya agresi instrumental, yaitu agresi yang sengaja dipelajari serta dipahami kemudian dilakukan dalam upaya mencapai suatu tujuan tertentu. Kemudian agresi ketakutan, berupa agresi yang muncul dikarenakan terhambatnya peluang menghindari dari gangguan dan ancaman. Serta agresi tersinggung, yaitu agresi yang muncul dikarenakan adanya rasa ketersinggungan atau kemarahan sehingga menimbulkan hasrat melampiaskan kemarahannya dengan melakukan tindak kekerasan pada pihak yang membuatnya tersinggung.

Tipe agresi ketakutan dan agresi tersinggung inilah yang terlihat nyata dalam konflik antar etnis, maupun konflik berlatar belakang agama, yang sempat terjadi di negara kita beberapa tahun lalu.

Para ahli psikologi juga telah menemukan berbagaio latar belakang yang menyebabkan terjadinya konflik, kekerasan atau sifat yang agresivitas dari manusia. Faktor-faktor penyebab itu di antaranya; frustrasi, stres, deindividuasi, provokasi, obat-obatan dan alkohon, kekuasaan dan kepatuhan, kehadiran senjata serta suhu udara.

Menurut Ulrich (1966), frustrasi bisa menggiring seseorang untuk melakukan perbuatan yang agresif. Karena frustrasi telah menyiksa batin seseorang hingga seseorang itu merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, sehingga individu bersangkutan ingin melampiaskan rasa ketidaksenangannya dengan perilaku yang agresif.

Mengenai faktor stres, sejumlah pakar psikologi terlebih dulu membaginya dalam dua jenis stres. Pertama, stres eksternal. Dan kedua, stres internal. Menurut E Koeswara (1988), kemajuan teknologi yang menyertakan perubahan-perubahan sosial yang cepat, pergeseran nilai-nilai dan berkurangnya kendali-kendali sosial, ditambah dengan persaingan hidup yang semakin ketat bersamaan dengan memburuknya kondisi perekonomian membawa dampak berupa peningkatan stres eksternal bagi banyak pihak. Terutama bagi individu-individu dari kalangan ekonomi lemah yang hidup di daerah urban, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju.

Robert Merton (1957) juga berpendapat stres eksternal yang dikarenakan pengaruh perubahan sosial dan keadaan perekonomian mempunyai peranan besar terhadap lahirnya tindakan agresi atau kekerasan.

Kasus-kasus huru-hara atau kekerasan massal yang terjadi baik di masa sebelum reformasi maupun setelah reformasi bergulir, seperti kerusuhan 13-14 Mei 1998 di Jakarta, dapat dilihat sebagai akibat stres eksternal yang meluas di masyarakat, terutama di kalangan masyarakat ekonomi lemah.

Sedangkan stres internal, sesungguhnya muncul sebagai dampak dari adanya stres eksternal. Ketidakmampuan mengatasi atau mencarikan jalan keluar bagi stres eksternal menyebabkan lahirnya stres internal.

 

Provokasi

Provokasi juga mempunyai andil cukup besar dalam melahirkan tindakan agresi atau kekerasanh. Provokasi merupakan tindakan provokatif yang dilakukan oleh calon korban atau korban terhadap calon pelaku kekerasan.Tindakan provokatif yang dilakukan calon korban, oleh calon pelaku kekerasan atau agresi dipandang sebagai langkah membahayakan, sehingga ia mengambil keputusan pintas untuk segera melakukan agresi.

Kenneth Moyer (1971) memandng, provokasi bisa menimbulkan kekerasan disebabkan tindakan itu oleh pelaku kekerasan atau agresi dipandang sebagai sesuatu yang mengancam dan membahayakan sehingga diperlukan tindakan agresif dalam mengantisipasinya.

Kasus-kasus bentrokan berdarah antara aparat keamanan dengan mahasiswa dalam berbagai peristiwa unjukrasa di Jakarta maupun sejumlah kota lainnya, baik sebelum pemerintahan Orde Baru berakhir maupun di saat reformasi bergulir, juga beberapa tahun lalu, lebih banyak terjadi dikarenakan provokasi tersebut. Sering terjadi aparat memandang mahasuiswa atau massa pengunjukrasa telah melakukan provokasi-provokasi yang membahayakan, sehingga kemudian mereka mengambil keputusan atau langkah melakukan tindakan agresif yang tak jarang menimbulkan korban jiwa.

Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam melahirkan kekerasan  atau agresi adalah faktor minuman keras (alkohol) dan obat-obatan keras termasuk di dalamnya narkotika. Seperti halnya alkohol, obat-obatan keras (obat psikoaktif) termasuk narkotika juga memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi munculnya ketidakseimbangan dan ketidakstabilan kerja otak pemakainya, karena obat-obatan tersebut telah melemahkan kendali diri. Dengan kondisi seperti itu, pemakainya akan mudah terangsang melakukan tindak kekerasan.

 

Tindakan Nyata

Menelaah serta mencari penyebab-penyebab semakin merebaknya konflik dan kian ‘garang’nya kekerasan  dewasa ini, tentu tidaklah cukup dengan melihat dari satu sudut pandang disiplin ilmu saja. Para sosiolog, psikolog, kriminolog, ulama, budayawan, pendidik, praktisi dan pakar hukum, tentu memiliki sudut pandang yang tidak kalah menariknya untuk ditelaah, dibahas dan diperbincangkan.

Akan tetapi, langkah penanggulangan tindak kekerasan tidak akan kunjung memperoleh jalan keluarnya, bila kita hanya asyik terlibat dalam pembahasan, perbincangan, diskusi serta perdebatan tentang latar belakang atau faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kekerasan dan konflik itu saja.

Langkah penting yang harus ditempuh sekarang ini adalah melakukan tindakan nyata yang terpadu antar pihak. Sebab perlu diingat, persoalan kekerasan  tidak hanya dapat diselesaikan atau ditanggulangi mellui kekuasaan hukum semata. Tetapi juga sangat berkaitan erat dengan seberapa jauh terciptanya keseimbangan dan keadilan dalam pengertian ekonomi, sosial dan budaya. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

* Sutirman Eka Ardhana, pemerhati masalah sosial dan redaktur Warta Kebangsaan.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

DISKUSI Kebangsaan XIV, April 2018, memilih pokok bahasan “Perempuan Pelestari Pancasila”. Perempuan ditantang berperan aktif …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *