Beranda » Essai EAN » Kejarlah Karta Kau KuPenjara
Karya Literasi Kotomono Ehaka (Ft. Ist)

Kejarlah Karta Kau KuPenjara

Ada dua momentum menjelang Mei 1998 yang berkaitan dengan Edy Harianto Kartanegara yang memimpin Tabloid “Adil” yang bermarkas di Solo. Momentum pertama, kalau penguasa mengejar Karta, maka Karta akan masuk penjara. Pada momentum kedua, kalau Pejabat mengejar Karta, maka Pejabat itu yang akan masuk penjara.

Zaman sedang beralih. Gerbang Reformasi semakin hari semaki terbuka lebar, siap dimasuki oleh bayi-bayi masa depan, yang akan mengubah Bangsa dan Ini menjadi terhormat dan sejahtera. Kelak kita terlambat mengerti bahwa yang duluan memasuki gerbang itu adalah pencoleng-pencoleng sejarah, penipu-penipu rakyat, pemakan-pemakan bangkai kebenaran dan perakus-perakus harta benda yang dirampok dari Tanah Air Ibu Pertiwi.

Para penipu beranak-pinak sampai hari ini. Dengan ilmu penindasan, siasat perampokan dan teknologi kejahatan yang semakin canggih. Indonesia menjadi Negeri Talbis. Talbis adalah Iblis datang dengan make up dan kostum Malaikat. Nabi Adam dan Ibu terperdaya. Demikian juga semua anak turunnya di Tanah Nusantara.

Tatkala mereka bergerombol memasuki Gerbang Reformasi, ternyata yang mereka gendong adalah bayi-bayi premature. Bahkan sebagian besar di antara mereka menggendong bayi-bayian yang terbuat dari plastik. Karena tujuan mereka memasuki Gerbang Reformasi memang adalah membangun Negara-negaraan, Indonesia-Indonesiaan

***

Kalau mau bikin melorot Rupiah sampai ke “asfala safilin”, tinggal tekan “Enter” di keyboard computer, atau ubah “off” menjadi “on”. Atau geser knop tertentu di 2 remote. Begitulah Mei 1998. Delapan sebelumnya Suharto ganti baju merah putih jadi hijau. Topi golfnya diganti peci. Aturan global-mainstream jelas: Indonesia boleh jadi macan ekonomi, asalkan jangan pakai peci. Kok Suharto menggeser ABRI (Pilar-2 NKRI) dan Lembaga Cendekiawan (Pilar-3) menjadi hijau. Maka tunggu saatnya “Meletus balon hijau…dorrr!”.

Katika itulah Edy Harianto Kartanegara sebagai pimpinan “Adil” berlaku isengiseng heroik mengundang saya untuk menjelaskan situasi “Geger Wong Ngoyak Macan” di Jakarta. Mohon diketahui kekuasaan macan Suharto selama 32 tahun sama sekali jangan dibandingkan dengan Rezim Ayam Kandang seperti yang Anda alami sekarang.

Acara sangat meriah dan penuh gairah dihadiri ribuan rakyat Solo dan kalangan aktivis serta intelektual kampus-kampus. Di halaman kantor “Adil” melebar ke kiri kanan dan menjorok sampai ke protokol jalan Slamet Riyadi Surakarta. Anda jangan pikir di tahun-tahun itu ada seekor lalat yang berani mendengungkan kata “Suharto”. Atau seekor nyamuk berani mendekat-dekat ke area Jalan Cendana. Para hantupun gemetar ketakutan membayangkan amarah Raja Diraja dengan 39 Dukundukun utama dari seantero Nusantara.

Tapi Si Karta ini malah “bunuh diri”. Nekad ia hamparkan Mimbar Bebas seakan-akan ini Negara Demokrasi. Saya berjoget dan bernyanyi-nyanyi, bukan karena saya seorang pemberani. Tetapi karena saya memang tidak punya koreografi jogetan dan aransemen nyanyian selain yang saya bawakan di jorokan Slamet Riyadi malam itu.

***

Dan di Pekalongan gila ini menanggung resikonya. Tablod “Adil” itu memang media pemberitaan cetak, tetapi yang utama ia adalah sebuah perusahaan. Di seluruh permukaan bumi ini, di Negara jenis apapun dan dengan landasan ideologi apapun, tidak ada Perusahaan bodoh yang menyodorkan kepalanya ke depan penguasa untuk “dikeplak”.

Maka sebelum “dikeplak”, Ehaka yang harus dipegang tengkuknya dan dibuang keluar jendela kantor perusahaan. Para pelaku Negara dan Perusahaan baru tahu bahwa anak pesisir utara ini bukan pengusaha, bukan penjilat, bukan pencari harta, bukan pemburu sukses, bukan penegak bendera karier pribadi. Bukan. Sama sekali bukan.

Bahkan pun bukan seniman. Bukan penyair. Bukan teaterawan. Bukan fotografer. Bukan Pemred atau Redpel. Bukan wartawan. Sama sekali bukan. Edi Harianto Kartanegara adalah seorang pelancong yang menyinggahi dunia, bermainmain di Bumi, sebelum dipanggil pulang mudik ke kampung halaman aslinya, yakni Kampung Perkebunan Sorga.

Kalau pelancong yang sedang tergeletak tertidur di Gardu, lantas dibangunkan dan diusir pergi, maka sang Pelancong pun pergi sambil mengusap-usap matanya, namun tanpa beban perasaan apa-apa. Ia pergi melangkahkan kaki, memasuki gerbong kereta api, atau lanjut dengan angkot, atau apapun. Mencari tempat baru untuk bertamasya. Karta bahkan menemukan “MU”, arena bermain musik yang ia asyiki sebagai kanak-kanak penikmat alam semesta.

***

Kemudian pasukan-pasukan bertengkar, para prajurit berseliweran, rekayasa isyu dan klaim menjadi asap tebal. Penculikan diselenggarakan. Penembakan terjadi di Trisakti. Mahasiswa mengamuk. Rakyat menjarah. Pembakaran gedung-gedung melebar ke sana sini. Suharto tidak takut kepada mahasiswa, tapi kalau rakyat sampai menjarah: hancur hatinya sebagai Raja.

Maka sangat lunak sikapnya ketika saya bersama beberapa orang menawarkan empat cara untuk lengser. Suharto setuju, memilih salah satu cara, tapi minta ditemani, sama-sama menjaga keadaan agar tidak semakin rusuh selengsernya dia. Segala daya upaya dilakukan bersama agar NKRI tidak vacuum kekuasaan sehingga mudah diambil alih oleh Setan Iblis dari luar maupun dari dalam.

Sampai-sampai dipasang 16 bom besar di 16 titik. Area territorial tempat bom-bom itu dimaksudkan kalau-kalau begitu Suharto lengser ternyata keadaan tak terkendali: maka di seputar Istana itu bom diledakkan, untuk memastikan bahwa Pusat Kekuasaan masih dalam kendali. Sebagaimana Lyndon B Johnson langsung dilantik dalam pesawat, 4 menit sesudah Presiden John F Kennedy ditembak di Dallas.

Suharo lengser. Pasti. Tidak diumum-umumkan. Tidak diisyukan. Ketika 19 Mei 1998 Suharto mengumumkan bahwa dia “ora dadi Presiden ora patheken” – atas nasehat temannya – sesungguhnya itu sudah tahap “Resepsi Pengantin”. Adapun “Akad Nikah” sebelumnya tak seorang wartawanpun tahu, sampai sekarang. Wartawan adalah pencari berita yang membatasi diri jangan sampai mengerti secara mendasar dan historis apa yang sebenarnya terjadi. Koran dan Majalah adalah penyebar berita yang sekedarnya, yang permukaan-permukaan saja, yang artifisial dan siperfisial.

Sebab kalau wartawan dan media melakukan lebih dari itu, mereka melanggar otoritas Ilmuwan Sejarah. Sementara para Ilmuwan Sejarah sendiri se-Indonesia sampai hari ini belum ingat bahwa ada Reformasi di tahun 1998. Mungkin bagi mereka 1998 adalah periatiwa kuliner, kejadian tentang makanan “mak nyuss” yang boleh sedikit-sedikit diingat asalkan menguntungkan dagangan beritanya.

***

Ketika saya santai-santai memegang rahasia Suharto akan pasti lengser besok pagi, saya mencari Sang Pelancong Jl Kartini Pekalongan itu. “Kalau kamu mau memuat bahan-bahan di tangan saya ini dan diterbitkan sebelum tanggal 19 Mei 1998 dinihari, maka Tabloidmu akan menggoreskan lembaran emas sejarah Indonesia. Akan laris habis-habisan sesudahnya dan akan dikenang khalayah ramai sepanjang masa”.

Saya tidak menawarkan kepada siapapun lainnya kecuali kepada Karta. Saya bukan orang yang dekat dengan wartawan dan media. Saya juga bukan siapa-siapa 5 yang dipercaya untuk memberi bahan berita yang penting secara nasional dan internasional. Menurut pikiran mereka saya hanyalah seorang Kiai kampung dan penyair yang gagal meneruskan kariernya.

Saya menawarkan kepada Karta juga tidak karena konteks dan pertimbangan kewartawanan dan konstelasi media. Saya menelpon Karta hanya karena dia yang dulu bersama saya mencari pinjaman Tape Recorder untuk supaya Ebiet G Ade bisa nyoba-nyoba rekaman amatiran di kamar kos di Ketanggungan atau Kadipaten. Kami bertiga, bersama Eko Tunas, yang juga menanggung amarah dan ngambegnya Ebiet ketika pada suatu malam, ketika enak-enaknya merekam suaranya dengan gitarya – tiba-tiba yang empunya Tape Recorder meminta kembali.

Kami bertiga berterima kasih kepada si empunya Tape Recorder, sekaligus ngrampek-ngrampek Ebiet agar memaafkan kami bertiga karena Tape-nya diminta oleh yang punya. Kami bertiga penuh kesalahan dan dosa kepada Ebiet. Kesalahan kami adalah tidak punya Tape. Dosa kami adalah dalam ayoman Allah Yang Maha Kayaraya kok kami miskin.

Tetapi kenyataannya berita besok pagi Suharto lengser memang saya tawarkan kepada pendosa Tape Recorder ini. Tidak kepada Kompas atau Tempo, karena kabarnya mereka mulai mencium fakta bahwa sebenarnya saya ini seorang Muslim Radikal. Mereka sangat peka dan cerdas menangkap radikalitas saya: bahwa dari sekian ribu wanita cantik, secara sangat radikal saya memilih hanya satu, yakni Novia Kolopaking. Mereka juga mencatat bahwa saya seorang Fundamentalis: saya tidak bisa ditawar, Novia tidak bisa digantikan oleh Bidadari atau Kanjeng Ratu Kidul ataupun Nyi Roro Kidul, yakni Nawang Wulan ataupun Nawang Sih.

***

Begitu bersemangatnya saya menawarkan berita tentang Suharto lengser kepada pelancong Pekalongan ini. Apalagi konsep dan strateginya sangat indah dan rasional: Suharto turun, Habibie turun, Kabinet bubar, MPR DPR bubar. Kami menyiapkan 45 orang tokoh reformis nasional untuk menjadi anggota Komite Reformasi, dipimpin 6 oleh Cak Nurkalish Madjid. Komite ini seturunnya Suharto akan melantik diri sebagai MPR-Sementara, bertugas memilih Kepala Negara Sementara, yang diperintahkan untuk menyelenggarakan Pemilu secepat-cepatnya, paling lambat setahun, agar roda Pengelolaan Kesejahteraan Rakyat NKRI segera bisa digulirkan. Komite ini gagal. Dihadang dan dijegal oleh bintang film Reformasi hasil pelantikan media massa. Diisyukan bahwa Komite Reformasi adalah akal-akalan Suharto agar bisa berkuasa kembali. Akhirnya Cak Nur ngambeg, Suharto patah hati, dan saya keliling selawatan ke seantero Negeri dengan tema utama “Kono badhogen sakwaregmu”. Tetapi “fantadhiris-sa’ah”. Tunggu waktu kehancuranmu. Kehancuran yang bertahap dan sangat bertele-tele sampai hari ini.

Kemudian Reformasi palsu berlangsung. Rakyat harus makan “Pemerintahan Seribu Suharto”. Dulu Suhartonya satu, sesudah Reformasi setiap Presiden adalah Suharto, setiap Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, adalah murid-murid Suharto. NKRI akan semakin memanas menuju 2020, kemudian mengalami guncangan-guncangan hingga 2025. Kemudian akan roboh pohon seluruh hutan belantara, atau disayang Tuhan dengan dimunculkan Kebun baru hasil cinta rakyat kepada-Nya.

Adapun di Pelancong Pekalongan, di mana saja gerangan ia tatkala itu semua berlangsung? Bagaimana nasib tawaran berita kelas satu dari Istana dan urusan kenegaraan yang merupakan momentum peralihan besar-besaran dan sangat mendasar itu? Bukankah 32 tahun helai-helai rumput tidak berani bergerak, angin bagai tak bertiup, burung-burung tak berkicau, bumi menunduk dan langit membisu? Jangankan berani melawan Suharto, berpikirpun atau bahkan membayangkanpun tak ada yang berani.

Tetapi toh Si Ehaka itu berani membedol Jalan Slamet Riyadi untuk memperdengarkan secara terbuka kicuan burung, hembusan angin dan bergoyangnya rerumputan. Kalau Ebiet bilang “bertanyalah kepada rumput yang bergoyang”, Bimbo mendendangkan “jawabnya tertiup di angin lalu”, dan sebelumnya Bob Dylan menyeruak: “The answer, my Friend, is blowing in the wind…” – maka Si Pelancong Pekalongan mengantarkannya ke mimbar terbuka malam itu di depan “Adil” kantor tanggungjawabnya.

Tetapi karena itu Karta dibuang keluar jendela oleh orang-orang yang terpenjara oleh atmosfir rezim, oleh ketatnya kekuasaan Orde Baru. Kabar yang saya tawarkan tak mungkin diterima dan dipenuhinya, karena “sound system” zaman itu sudah tidak berada di tangannya. Karta pergi, bertiup bersama angin lalu, menyapa rumput-rumput yang bergoyang. Ehaka tertawa-tawa di Jakarta, Bekasi, Pekalongan, Yogya, terserah-serah dia mau pergi ke mana – selama terompet belum dibunyikan oleh Baginda Isrofil, yang membuat Baginda Izroil bersijingkat mendatanginya, menjemputnya dari dunia yang menggelikan ke kampung halaman sejatinta: Sorga yang asri dan permai.

***

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *